Apple selama ini dikenal sebagai raksasa teknologi yang memiliki ritme tersendiri. Mereka jarang menjadi yang pertama terjun ke dalam kategori produk baru, namun ketika mereka akhirnya meluncurkan sesuatu, produk tersebut biasanya jauh lebih matang dan bijaksana dibandingkan kompetitor. Filosofi “biar lambat asal selamat” ini telah menjadi mantra sukses mereka selama bertahun-tahun. Namun, kabar terbaru yang beredar di Silicon Valley justru mengindikasikan pergeseran strategi yang cukup membingungkan, bahkan terdengar sedikit putus asa bagi sebagian pengamat industri.
Bocoran terbaru dari The Information menyebutkan bahwa Apple kini tengah mengerjakan perangkat wearable berupa AI Pin. Perangkat mungil ini kabarnya akan dilengkapi dengan berbagai kamera, speaker, mikrofon, dan kemampuan pengisian daya nirkabel. Secara konsep, perangkat ini terdengar sebagai pendamping sempurna untuk pembaruan Siri bertenaga AI yang telah lama dinanti, yang nantinya diprediksi akan berfungsi layaknya chatbot canggih. Namun, di balik antusiasme yang biasanya menyertai rumor produk Apple, gagasan tentang AI Pin ini justru memicu kerutan di dahi banyak pihak.
Mengapa langkah ini terasa janggal? Apple tampaknya sedang mengejar bayang-bayang kesuksesan semu dari tren AI Pin yang belum terbukti. Perusahaan yang biasanya tenang ini seolah tergesa-gesa merespons pasar, mengejar konsep perangkat keras AI yang bahkan OpenAI sendiri belum pernah memproduksinya secara nyata. Ironisnya, Apple sepertinya mengabaikan fakta bahwa produk serupa dari Humane—sebuah AI Pin yang sempat viral—berakhir sebagai kegagalan yang cukup memalukan karena fungsionalitasnya yang minim dan nyaris tidak berguna.
Ambisi Siri dan Ketakutan Akan Kegagalan
Langkah Apple ini bisa dibaca sebagai upaya defensif agar tidak kembali “kehilangan muka” dalam perlombaan kecerdasan buatan. Setelah penundaan perombakan Siri dan debut Apple Intelligence yang dianggap kurang memuaskan serta rentan kesalahan, Apple tampaknya tidak ingin mengambil risiko tertinggal lebih jauh. Terlebih lagi, persaingan semakin panas dengan kehadiran kacamata pintar Ray-Ban dari Meta yang sangat bergantung pada AI, serta ancaman perangkat keras AI baru yang mungkin sedang disiapkan oleh Meta setelah melakukan efisiensi di divisi realitas virtual mereka.
Kompetisi tidak berhenti di situ. Meskipun platform Android XR dari Google belum menunjukkan taringnya secara signifikan dalam membawa Gemini AI ke perangkat wearable wajah, Samsung sudah memulai langkahnya dengan Galaxy XR. Kita juga telah melihat demo yang cukup menjanjikan dari prototipe kacamata AR Google dan proyek kacamata Aura dari Xreal. Dalam konteks ini, Apple yang biasanya tenang kini terlihat seperti sedang berjuang keras untuk tetap relevan, bahkan jika itu berarti harus mengembangkan Chip AI khusus untuk perangkat yang belum tentu dibutuhkan pasar.
Redundansi: Kenapa Tidak Pakai Apple Watch Saja?
Pertanyaan terbesar yang muncul dari rumor ini adalah soal kegunaan. Jika fungsi utama AI Pin Apple ini hanyalah sebagai perantara untuk mengakses Siri, apakah itu benar-benar lebih nyaman dibandingkan menggunakan iPhone, AirPods, atau bahkan Apple Watch? Logikanya, Apple Watch sudah menjadi perangkat yang cukup mandiri. Anda bisa meminta bantuan Siri, menjalankan aplikasi, hingga mendengarkan musik tanpa perlu iPhone di dekat Anda. Model seluler bahkan bisa melakukan panggilan dan mengirim pesan.
Baca Juga:
Laporan dari Bloomberg menyarankan bahwa Apple mungkin membatalkan rencana memasang kamera di Apple Watch dan lebih memilih fokus pada pengembangan Kacamata Pintar mereka sendiri tahun ini. Namun, tidak sulit membayangkan bahwa perangkat keras yang lebih cepat sebenarnya bisa membuat Apple Watch menangani lebih banyak tugas terkait Siri dan AI secara mandiri tanpa perlu perangkat tambahan berupa pin yang disematkan di baju.
Selain itu, rumor juga mengarah pada penambahan kamera inframerah pada AirPods dan AirPods Pro generasi berikutnya. Alih-alih untuk mengambil foto, kamera ini diprediksi akan memungkinkan kontrol gestur tangan dan kesadaran lingkungan, yang sangat berguna bagi Apple Intelligence di masa depan. Bahkan, penambahan fitur pelacakan detak jantung di AirPods Pro 3 menunjukkan bahwa masih banyak inovasi yang bisa disuntikkan ke dalam earbuds tersebut. Jadi, untuk apa menambah beban dengan sebuah pin?
Privasi di Era “Mata-Mata” Berjalan
Skenario terbaik bagi AI Pin Apple adalah menjadi cara sederhana bagi seseorang untuk mengakses Siri tanpa harus memakai jam tangan atau menyumbat telinga dengan AirPods. Namun, perangkat-perangkat yang sudah ada tersebut memiliki fungsi lain yang jelas: jam tangan untuk waktu dan kesehatan, AirPods untuk musik. Sama halnya dengan kacamata pintar Meta atau calon Smart Doorbell canggih Apple; mereka memiliki fungsi dasar yang jelas.
Masalah terbesar dari konsep AI Pin adalah penerimaan sosial. Mengingat adanya penolakan vokal terhadap kacamata pintar Ray-Ban Meta—yang bahkan dilarang di kapal pesiar, klub, dan tempat umum lainnya—saya skeptis banyak orang akan mau secara sukarela memamerkan perangkat pengintai di baju mereka sepanjang hari. Seorang jurnalis Wired bahkan pernah diinterogasi karena mengenakan kamera saat menguji Humane AI Pin. Orang awam akan selalu curiga pada lensa kamera yang “menatap” mereka terus-menerus.
Benar, kita hidup di era di mana kamera ponsel ada di mana-mana. Namun, sangat jelas terlihat ketika seseorang mengangkat ponsel untuk merekam. Sebuah AI Pin yang menggantung di pakaian Anda adalah ancaman konstan, sebuah “mata yang tak pernah berkedip”. Meskipun Apple mungkin akan menerapkan notifikasi perekaman, sejarah membuktikan bahwa akan selalu ada pihak yang mencoba mengakalinya.
Jebakan Hype dan Ketakutan Menjadi Kuno
Meskipun The Information mencatat bahwa AI Pin Apple ini mungkin tidak akan pernah benar-benar dirilis ke pasaran, saya tidak akan terkejut jika benda ini benar-benar muncul. Apple adalah perusahaan yang rela bermitra dengan OpenAI hanya untuk membuat Siri terlihat sedikit lebih pintar. Alih-alih membangun model AI dasar mereka sendiri sepenuhnya, mereka mengandalkan Gemini dari Google untuk menopang pembaruan besar AI Siri.
Dalam ranah AI, Apple tampaknya bersedia melakukan apa saja untuk menghindari cap sebagai perusahaan yang tertinggal—dan tentu saja, untuk menghindari penurunan nilai saham lebih lanjut. Sungguh aneh melihat Apple, perusahaan yang membiarkan Samsung dan Google memimpin pasar ponsel lipat selama bertahun-tahun dan belum juga terjun ke dunia cincin pintar, tiba-tiba bisa saja mempercepat proyek AI Pin untuk tahun 2027.
Ini adalah contoh nyata bagaimana siklus hype AI telah membelokkan prioritas di seluruh industri teknologi. Namun, setidaknya nasib Apple tidak sepenuhnya bergantung pada perangkat keras AI mandiri seperti halnya OpenAI. Apple masih memiliki ekosistem raksasa yang menopangnya, meskipun langkah eksperimental ini terasa seperti pertaruhan yang membingungkan bagi identitas mereka yang biasanya perfeksionis.

