📑 Daftar Isi

Demonstran ditangkap polisi saat aksi protes OpenAI di Gallup Building Washington DC

Aksi Protes OpenAI di Washington DC, 13 Demonstran Ditangkap

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Lebih dari 30 aktivis mahasiswa menduduki Gallup Building di Washington DC, kantor lobi OpenAI
  • Aksi protes berlangsung 2 jam dan berakhir dengan penangkapan 13 demonstran oleh polisi
  • Protes diorganisir oleh Sunrise Movement dan QuitGPT sebagai bagian dari gerakan "Dump Big Tech"
  • Aksi serupa digelar di lebih dari 20 negara bagian sepanjang Agustus
  • Mahasiswa khawatir tentang masa depan pekerjaan, lingkungan, dan pengaruh Big Tech dalam politik
  • OpenAI membuka kantor DC saat super PAC-nya menyuntikkan dana 140 juta dolar AS untuk pemilu paruh waktu

Telset.id – Tiga belas demonstran ditangkap polisi setelah menduduki Gallup Building di Washington DC, kantor lobi publik milik pengembang ChatGPT, OpenAI, pada Senin sore. Aksi yang berlangsung dua jam ini berakhir ketika polisi menggerebek lobi gedung dan mengamankan para pengunjuk rasa yang tergabung dalam gerakan iklim Sunrise Movement dan organisasi anti-AI QuitGPT.

Lebih dari 30 aktivis mahasiswa terlibat dalam aksi menduduki gedung yang menjadi kantor lobi OpenAI tersebut. Di dalam lobi, para demonstran membentangkan spanduk besar bertuliskan “Stop Stealing Our Future” atau “Berhenti Mencuri Masa Depan Kami,” sementara sebagian lainnya membawa plakat dengan pesan seperti “OpenAI bought my Senator” atau “OpenAI membeli senator saya.”

Hingga saat ini, belum jelas apakah para demonstran telah dibebaskan atau masih ditahan menunggu proses hukum. Metropolitan Police Department dan District of Columbia Department of Corrections belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait status para pengunjuk rasa tersebut.

Photos show protesters being arrested at a protest against ChatGPT maker OpenAI.

Aksi protes ini merupakan bagian dari rangkaian demonstrasi yang digelar di lebih dari 20 negara bagian sepanjang Agustus, dengan tuntutan agar para politisi menolak pendanaan dari perusahaan teknologi besar atau “Dump Big Tech.” Hal ini diungkapkan dalam pernyataan bersama yang dibagikan kepada Futurism.

Salah satu pengorganisir mahasiswa yang hadir, Raya Gupta, menjelaskan dalam pernyataannya bahwa “teman-teman saya memilih mengambil risiko ditangkap untuk membawa perjuangan ini ke depan pintu OpenAI.” Gupta juga menyoroti kekhawatiran generasinya terhadap masa depan yang tidak pasti.

“Generasi kami tidak memiliki jaminan apakah kami akan mendapat pekerjaan setelah lulus kuliah, atau apakah akan ada air minum bersih untuk kami semua, atau apakah rakyat masih memiliki kekuatan dalam politik karena pemilu kami terus dibeli oleh perusahaan teknologi besar,” lanjut Gupta.

“Kami semua percaya bahwa tidak mengambil tindakan sekarang, ketika timbangan bergeser antara rakyat dan para miliarder, menempatkan masa depan kami dalam bahaya besar,” tegasnya.

A group of protesters are holding signs that say

AI Menjadi Isu Sentral Protes di Amerika

Pernyataan Gupta menggarisbawahi sejauh mana AI telah menjadi isu yang menyatukan berbagai kalangan di Amerika Serikat. Semakin banyak warga Amerika yang ditangkap dalam protes terkait AI dalam berbagai bentuk, mulai dari menghadiri pertemuan balai kota untuk menentang pembangunan pusat data, hingga menduduki kantor lembaga federal yang digunakan untuk mengembangkan perangkat lunak imigrasi berbasis AI.

Meskipun kekhawatiran publik semakin meningkat, para politisi dari kedua kubu justru menerima upaya lobi industri teknologi yang sangat mahal. Contoh nyatanya adalah pembukaan kantor OpenAI di Washington DC yang bertepatan dengan suntikan dana lebih dari 140 juta dolar AS dari super PAC milik laboratorium AI tersebut ke dalam pemilihan paruh waktu yang akan datang, dalam upaya untuk memengaruhi regulasi AI di tingkat tertinggi.

Aksi protes yang berujung pada penangkapan ini menunjukkan meningkatnya resistensi publik terhadap pengaruh perusahaan teknologi besar dalam kebijakan dan regulasi AI. Ketegangan antara kepentingan industri dan kekhawatiran masyarakat sipil diprediksi akan terus menjadi isu panas menjelang pemilu paruh waktu mendatang.

A protester holds a sign that says

Fenomena protes terkait AI ini sejalan dengan meningkatnya pengawasan publik terhadap dampak sosial teknologi. Sebelumnya, kasus penyalahgunaan AI juga telah memicu kekhawatiran tentang regulasi teknologi ini.

Penangkapan 13 demonstran di Gallup Building menjadi simbol semakin kuatnya gerakan perlawanan terhadap dominasi perusahaan AI dalam lanskap politik Amerika. Dengan investasi lobi yang masif dari industri teknologi, pertarungan antara kepentingan korporasi dan tuntutan publik dipastikan akan semakin memanas.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.