📑 Daftar Isi

Ilustrasi robot dengan latar belakang layar digital yang mewakili teknologi Agentic AI di perusahaan

Agentic AI: Ancaman atau Peluang bagi Perusahaan On-Prem?

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Agentic AI adalah software yang bisa bertindak, bukan sekadar memberi saran, dengan membaca izin dan mengeksekusi transaksi.
  • Akses ke Agentic AI dari SAP dan Oracle hanya bisa didapat setelah migrasi total ke cloud.
  • SAP membuka akses terbatas untuk pengguna on-prem dengan syarat pindah ke Cloud ERP, sementara Oracle tidak menyediakan versi on-prem sama sekali.
  • 61% anggota ASUG melaporkan anggaran sebagai tantangan utama, sebagian besar karena proyek cloud ERP.
  • Perusahaan harus membayar dua kali: untuk migrasi cloud dan untuk penggunaan AI yang dihitung berdasarkan konsumsi.
  • Dukungan pihak ketiga bisa menjadi solusi dengan memelihara sistem lama, menghilangkan tekanan migrasi, dan membebaskan anggaran untuk investasi AI yang diinginkan.

Telset.id – Agentic AI menghadirkan dilema bagi perusahaan yang masih setia pada sistem on-premise. Di satu sisi, teknologi ini menjanjikan efisiensi luar biasa; di sisi lain, akses terhadapnya justru terkunci di balik migrasi ke cloud yang mahal dan kompleks.

Artikel opini dari Chad Stewart, VP of AI di Spinnaker Support, mengungkap realitas pahit di balik gemerlap janji AI agen dari vendor besar seperti SAP dan Oracle. Agentic AI, yang mampu membaca hierarki persetujuan, membuat keputusan, dan mengeksekusi transaksi secara mandiri, berbeda fundamental dari chatbot biasa. Ia bukan sekadar asisten yang memberi saran, melainkan perangkat lunak yang benar-benar “bekerja”.

Namun, masalahnya terletak pada akses. Baik SAP maupun Oracle telah merancang agentic AI agar bersifat “native” pada platform cloud mereka. Ini berarti, untuk menggunakan agen-agen canggih tersebut, perusahaan harus terlebih dahulu melakukan migrasi total ke cloud.

SAP, misalnya, baru membuka akses Joule (asisten AI-nya) untuk pengguna on-prem ECC dan S/4HANA dengan syarat berat: mereka harus berkomitmen memindahkan sebagian besar aset SAP-nya ke Cloud ERP. Itupun hanya mendapatkan fitur AI terbatas. Sementara itu, Oracle bahkan lebih tegas; agen-agennya sama sekali tidak ada di luar Fusion Cloud. Perusahaan yang masih menggunakan E-Business Suite harus melakukan re-platform total untuk bisa menyentuhnya.

Lalu, apa artinya ini bagi para CIO dan pengambil keputusan? Artikel ini mengupas tuntas jebakan vendor yang menyatukan keputusan migrasi dengan adopsi AI. Alih-alih menjadi alat untuk meraih keunggulan kompetitif, agentic AI berisiko menjadi “pemaksa” migrasi yang menghabiskan anggaran dan kendali strategis perusahaan.

Baca Juga:

Jebakan Anggaran dan Migrasi yang Dipaksakan

Vendor besar telah merancang skema yang membuat migrasi dan AI berbagi “keran” anggaran yang sama, dan migrasi selalu mendapat prioritas pertama. Data dari Americas’ SAP Users’ Group (ASUG) menunjukkan bahwa 61% anggota melaporkan anggaran sebagai tantangan terbesar mereka tahun ini, dan penyebab utamanya adalah proyek cloud ERP itu sendiri.

Artinya, perusahaan harus membayar dua kali: pertama untuk mencapai platform cloud, lalu membayar lagi untuk menggunakan AI di dalamnya. Biaya berlangganan dasar hanya mencakup fitur terbatas, s sisanya dihitung berdasarkan konsumsi. Modal yang seharusnya digunakan CIO untuk membangun keunggulan kompetitif, justru habis sebelum satu agen AI pun memberikan hasil yang terukur.

Dewan direksi pun mulai lelah dengan proyek percontohan yang tidak pernah mencapai tahap produksi. Program yang dimulai dengan modal minim dan jadwal yang ditentukan pihak lain, jelas tidak dalam posisi yang menguntungkan.

Memulihkan Kendali Strategis Perusahaan

Inti permasalahannya adalah siapa yang memegang kendali atas perubahan sistem paling kritis di perusahaan. Ketika vendor yang menentukan jadwal, urutan, dan harga inovasi, maka eksekutif yang bertanggung jawab atas sistem tersebut sebenarnya sudah tidak lagi memegang kendali.

Solusinya bukan dengan menolak modernisasi, melainkan menolak membiarkan vendor menentukan kapan dan bagaimana Anda membeli upgrade. Di sinilah peran dukungan perangkat lunak pihak ketiga menjadi krusial. Penyedia independen dapat memelihara sistem ERP yang sudah ada, menjaganya tetap aman dan interoperabel, biasanya dengan biaya yang jauh lebih rendah.

Pendekatan ini memiliki dua keuntungan besar. Pertama, menghilangkan tenggat akhir dukungan sebagai pemaksa, karena sistem akan tetap didukung terlepas dari keputusan migrasi. Kedua, membebaskan anggaran pemeliharaan yang tadinya akan habis untuk biaya vendor, sehingga dana bisa dialokasikan untuk investasi AI yang benar-benar diinginkan organisasi.

Dengan fondasi yang stabil, perusahaan bisa menjalankan agentic AI sebagai lapisan orkestrasi di atas sistem yang ada, tanpa harus melakukan re-platform seluruh infrastruktur. Atau, mereka bisa melakukan modernisasi secara selektif, berdasarkan nilai bisnis, bukan karena tekanan tenggat waktu.

Kesimpulannya, agentic AI adalah keputusan modal, bukan sekadar pembelian perangkat lunak. Perusahaan harus menolak membiarkan jadwal dan anggarannya diatur oleh pihak yang paling diuntungkan dari migrasi tersebut. Untuk memahami lebih dalam tentang risiko keamanan dari teknologi ini, Anda bisa membaca tentang Serangan AI Agentic Pertama yang baru-baru ini terjadi.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.