AI Diharapkan Bisa Prediksi Kemunculan Badai Berbahaya

AI Prediksi Badai Berbahaya

Telset.id, Jakarta – Para ilmuwan ingin teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bisa membantu prediksi kemunculkan badai berbahaya. AI tersebut diharapkan bisa bekerja dengan baik lewat data-data rekaman satelit NASA.

Amerika Serikat bagian selatan merupakan kawasan yang kerap menghadapi efek badai hebat yang datang hampir bersamaan. Para ilmuwan pun sekarang mempertimbangkan masa depan ilmu prakiraan badai.

Dalam makalah baru yang diterbitkan di Geophysical Research Letters, para ilmuwan menggunakan data yang dikumpulkan satelit NASA untuk mengembangkan AI guna membantu mereka prediksi tanda-tanda badai berbahaya.

Meski demikian, mereka sadar bahwa memprediksi intensitas badai saat sedang terjadi sangatlah sulit. Ada banyak faktor yang berperan. Namun, Jet Propulsion Laboratory NASA telah mengasah beberapa variabel.

{Baca juga: Satelit Tangkap Momen saat Badai Laura Hantam Louisiana}

Seperti dikutip Telset.id dari New York Post, Selasa (8/9/2020), para peneliti telah menentukan bahwa lonjakan curah hujan di dekat inti badai adalah indikator tepat bahwa badai sedang bersiap membabibuta.

Selain itu, intensitas badai dapat dinilai sebagian dari jumlah es air yang ada dalam formasi awan badai yang kuat. Semakin kuat angin, semakin besar kemungkinan air terbawa cukup tinggi untuk berubah menjadi es.

Kabar baiknya, memasangkan satelit NASA dengan program AI untuk bertindak sebagai pengawas dapat menghasilkan sistem peringatan dini yang berguna bagi mereka yang berada di jalur rawan terkena badai.

Dalam menguji kerangka baru untuk memprediksi perubahan intensitas badai, para peneliti menemukan tingkat akurasi 40 persen dan 200 persen daripada metode standar guna memprediksi intensifikasi cepat.

Badai Berbahaya Dipicu Perubahan Iklim

Para peneliti di University of Wisconsin Madison dan National Oceanic and Atmospheric Administration menjabarkan bukti jelas, bahwa badai yang semakin kuat dipicu oleh perubahan iklim.

Hampir empat dekade data satelit berlalu, menurut laporan New York Post, para peneliti membandingkan prevalensi topan yang merusak dari tahun ke tahun mencatat kenaikan yang jelas dalam frekuensi badai besar.

“Tren mengarah ke badai yang lebih kuat sepertinya cukup signifikan. Perubahannya sekitar delapan persen per dekade,” kata Jim Kossin, penulis studi yang diterbitkan dalam Proceedings of National Academy of Sciences.

{Baca juga: Perubahan Iklim Bikin Angin Topan Semakin Kuat}

Dengan kata lain, ia menegaskan bahwa selama masa hidupnya badai delapan persen lebih mungkin menjadi badai besar dalam dekade ini dibandingkan dengan dekade terakhir.

Seperti yang telah diperingatkan oleh para ilmuwan selama beberapa dekade, badai yang lebih kuat masih dianggap sebagai akibat langsung dari kenaikan suhu lautan karena ada proses pemanasan global buatan manusia. (SN/MF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here