Ada Apa dengan Xiaomi?

Telset.id, Jakarta – Pada tahun 2014 lalu, semua mata seakan tertuju pada Xiaomi. Pabrikan ponsel asal China ini muncul menjadi rising star dengan julukan ‘Apple of the East’. Namun entah kenapa, penjualan Xiaomi terus jeblok dalam beberapa tahun terakhir dan berbuntut menurunnya nilai perusahaan. Ada apa dengan Xiaomi?

Kemunculan Xiaomi di pasar smartphone cukup mengejutkan, karena sebagai pemain baru di ranah smartphone, Xiaomi berhasil mengangkangi para seniornya, seperti Huawei, Lenovo, Oppo, dll.

Melesatnya pamor Xiaomi, membuat mereka mendapatkan suntikan dana investasi sebesar USD 1,1 miliar atau setara Rp 14,5 triliun di akhir tahun 2014, dan menjadikan nilai perusahaan melesat USD 45 miliar atau setara Rp 595 triliun.

Keberhasilan Xiaomi menjadi rising star karena mereka bisa menjual smartphone dengan spesifikasi tinggi berharga murah di kelasnya. Tapi keberhasilan itu tidak berlangsung lama, karena para pesaingnya juga menggunakan strategi serupa (smartphone spek tinggi dengan harga murah).

Alhasil, pamor Xiaomi kian merosot dalam kurun waktu kurang dari dua tahun. Penjualan smartphone Xiaomi mulai terseok-seok karena kalah bersaing dengan kompatriotnya seperti Huawei dan Oppo.

Terlebih lagi, para kompetitor kadang melakukan inovasi sambil tetap menjaga harga tetap rendah. Sebut saja Oppo dan OnePlus mengusung teknologi isi ulang cepat atau Huawei dengan dual kamera. Sedangkan Xiaomi seolah jalan di tempat alias begitu-begitu saja.

Tak hanya penjualannya yang jeblok, nilai perusahaan juga melorot hingga menjadi kurang dari USD 4 miliar atau setara Rp 52,9 triliun, atau menyusut 10 kali lipat dari nilai tertinggi yang pernah dicapai Xiaomi di akhir 2014 lalu.

Seperti dikutip Telset.id dari IBTimes, ada beberapa faktor yang dinilai menjadi penyebab memudarnya pamor Xiaomi. Berikut ulasannya:

Gagal membaca trend dan minim inovasi

Kesuksesan Xiaomi harus diakui karena strategi mereka yang berani membanderol produk premium mereka dengan harga yang jauh lebih murah dari produk pesaingnya. Tapi strategi itu rupanya terbaca oleh pesaingnya, terutama rekan sesama vendor China, seperti Huawei, Oppo, Vivo, OnePlus, dll. Dan benar saja, para pesaingnya juga akhirnya menerapkan strategi serupa, yakni merilis smartphone premium dengan harga terjangkau.

Tak hanya itu, para pesaingnya asal China juga lebih inovatif dalam mengembangkan produk mereka, baik dari sisi desain maupun fitur-fitur yang ditawarkan. Vivo misalnya, menawarkan display lengkung ala Galaxy edge series, Oppo menawarkan kamera selfie yang powerfull, OnePlus memiliki teknologi fast charging, LeEco menawarkan konten eksklusif, dan Huawei menggunakan kamera ganda hasil kolaborasi dengan Leica.

Selain minim inovasi, Xiaomi juga nampak masih saja berkutat untuk fokus pada produk murah mereka dari lini Redmi. Padahal pasar China tergolong sudah cukup mapan dan memiliki segmen pelanggan yang mau membayar lebih untuk membeli produk yang memang dianggap bagus.

Tertundanya rencana ekspansi global

Ketika berada di puncak, salah satu faktor yang membuat banyak pihak yakin bahwa Xiaomi akan segera meraup sukses yang lebih besar adalah tingginya penjualan, padahal Xiaomi baru merilis produknya di beberapa negara Asia saja. Melihat hal itu, banyak yang berharap Xiaomi bisa menjadi pemain global dengan masuk ke negara-negara maju di Eropa dan Amerika.

Sayangnya, prediksi tersebut gagal terwujud karena portfolio hak paten Xiaomi terlalu sedikit untuk dapat melenggang ke negara-negara maju. Xiaomi terlihat tidak ingin nekat, karena jika melakukan ekspansi secara global, bisa saja mereka akan menghadapi tuntutan hukum dari para pesaingnya, seperti Apple, dkk.

Pelanggan tidak loyal pada brand

China merupakan pasar terbesar dunia, tapi konsumen di Negeri Tirai Bambu itu tidak masuk golongan yang setia atau loyal pada brand. Karakteristik konsumen di China ini sudah diungkap oleh lembaga riset Studi Bain & Company di tahun 2014, dimana mereka mencatat bahwa berbagai brand di China harus terus-menerus merayu pelanggan karena tidak adanya loyalitas dari para pelanggan pada brand tertentu saja.

Xiaomi sebenarnya telah coba menerapkan strategi lain dengan menyebut diri mereka sebagai perusahaan internet yang tidak hanya menjual ponsel, tapi juga ada beragam perangkat lain. Strategi ini sebenarnya cocok jika melihat pertumbuhan pasar smartphone global mulai stagnan. Tapi, investasi Xiaomi di segmen selain smartphone nampaknya masih belum berhasil.

Penelitian dari CounterPoint Research mengungkap bawa lebih dari 85% pendapatan Xiaomi berasal dari penjualan smartphone, kemudian dari software dan layanan. Sehingga pemasukan Xiaoimi dari bisnis di bidang lain belum signifikan.

Jika melihat berbagai faktor tersebut, Xiaomi sudah waktunya untuk berbenah. Jika tidak mau berbenah, Xiaomi yang awalnya disebut sebagai ‘Apple of the East’, malah akan menyandang status sebagai ‘BlackBerry of the East’. Apakah Xiaomi akan cepat sadar dan bisa kembali bangkit?

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest Articles

- Advertisement -