Telset.id – SiPearl, pengembang prosesor asal Prancis, mengumumkan bahwa CPU HPC pertamanya, Rhea1, telah berhasil melalui proses bring-up dan berfungsi sesuai desain. Keberhasilan ini menjadi tonggak penting bagi perusahaan rintisan yang telah mengembangkan prosesor ini selama lebih dari lima tahun. Rhea1 dijadwalkan tersedia secara umum pada akhir tahun 2026 atau awal 2027.
Kabar ini disampaikan langsung oleh Craig Prunty, Vice President of Marketing and Business Development SiPearl, dalam wawancara dengan Tom’s Hardware. Ia mengonfirmasi bahwa sampel pertama Rhea1 yang diterima pada pertengahan Mei telah bekerja dengan sempurna. “Proses bring-up Rhea1 selama 12 minggu sejak 13 Mei, dan berfungsi persis seperti yang dirancang,” ujar Prunty.
Keberhasilan ini merupakan pencapaian langka bagi sebuah startup yang baru pertama kali merancang CPU kompleks. Tanpa perlu melakukan respin, SiPearl memiliki peluang besar untuk mulai mengirimkan prosesor ke pelanggan dalam beberapa kuartal mendatang. Versi uji coba Rhea1 akan tersedia untuk mitra dan proyek kolaborasi Uni Eropa setelah proses bring-up selesai.
Spesifikasi dan Arsitektur Rhea1
Rhea1 mengusung 80 inti Arm Neoverse V1 yang dilengkapi dengan dua mesin Scalable Vector Extension (SVE) 256-bit untuk komputasi vektor cepat dalam format FP64, FP32, BF16, dan INT8. Setiap inti memiliki 1 MB L2 cache, ditambah 80 MB system-level cache (SLC) dan 104 jalur PCIe 5.0.
Fitur paling unik dari Rhea1 adalah subsistem memorinya yang hybrid. CPU ini menggabungkan empat antarmuka HBM2E untuk 64 GB memori on-package berkecepatan tinggi, serta empat antarmuka DDR5 yang mendukung dua modul DIMM 256 GB per saluran, sehingga total kapasitas memori per soket mencapai 2 TB. Prosesor ini terdiri dari 61 miliar transistor dan diproduksi oleh TSMC menggunakan teknologi proses N6.
Meskipun spesifikasinya impresif, SiPearl mengakui bahwa Rhea1 bukanlah CPU HPC paling bertenaga di pasaran. Prosesor ini juga terlambat hadir, mengingat teknologi Neoverse V1 sudah tidak lagi menjadi yang terbaru. Namun, situasi geopolitik global justru membuka peluang tak terduga bagi SiPearl.
Baca Juga:
Peluang di Tengah Ketegangan Geopolitik
Awalnya, SiPearl menargetkan Rhea1 untuk superkomputer Eropa dan infrastruktur AI berdaulat. Namun, banyak penyedia cloud komersial di Eropa dan Timur Tengah yang berencana mengevaluasi platform ini. Hal ini didorong oleh keinginan mereka untuk memiliki akses terhadap teknologi alternatif di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu.
Craig Prunty menyebutkan bahwa Rhea1 bisa membuka pintu yang tidak terduga bagi SiPearl. Ketegangan geopolitik dan kontrol ekspor memaksa pemain besar untuk mencari alternatif perangkat keras Amerika. SiPearl, yang berbasis di Prancis dengan pusat R&D di seluruh Eropa, memiliki keunggulan karena tidak memiliki pembatasan ekspor ke negara-negara Eropa dan Timur Tengah. Perusahaan tidak dapat mengirim CPU ke China, tetapi dapat menjualnya ke klien di Eropa dan Timur Tengah tanpa hambatan.
Jika SiPearl mampu menawarkan performa yang kompetitif, CPU mereka hampir dijamin akan diadopsi oleh penyebaran AI berdaulat dan HPC di Eropa. Hal ini memastikan pendapatan yang stabil bagi perusahaan rintisan ini.
SiPearl juga telah merancang server referensi bernama Seine yang digunakan untuk validasi, pengujian, dan porting perangkat lunak. Server Seine menggunakan motherboard 26-layer yang sangat mahal untuk memastikan integritas sinyal dan kualitas daya terbaik. Desain ini akan digunakan oleh Bull untuk membangun server bagi superkomputer Jupiter. Selain itu, SiPearl juga memiliki perjanjian kemitraan dengan HPE untuk mengerjakan tender superkomputer Eropa.
Salah satu tantangan terbesar SiPearl adalah siklus pengembangan yang panjang, yaitu lima tahun. Perusahaan berencana memangkasnya menjadi sekitar 18 bulan dengan membangun lima tim pengembangan di Eropa dan satu tim tambahan di Bologna, Italia. Tim-tim ini sebelumnya belum pernah bekerja sama, yang menjadi salah satu penyebab penundaan.
Ke depannya, SiPearl berencana untuk melakukan tape-out prosesor Rhea2 pada tahun 2027. Prosesor tersebut tidak akan memiliki HBM onboard, sehingga turunannya untuk aplikasi aerospace, pertahanan, dan pemerintahan akan segera menyusul. Perusahaan juga mengembangkan prosesor Athena untuk aplikasi khusus yang pada dasarnya adalah Rhea dengan jumlah inti yang bervariasi dan tanpa HBM2E.
Meskipun Rhea1 menggunakan teknologi Arm Neoverse V1 yang sudah tidak mutakhir, SiPearl percaya bahwa dukungan dari European Processor Initiative (EPI) serta kebutuhan akan infrastruktur AI dan HPC berdaulat akan menjadi fondasi yang kuat bagi perusahaan untuk bertahan dan berkembang di industri prosesor global.





Komentar
Belum ada komentar.