Ilustrasi penipuan perbankan yang menyasar pengguna ponsel dan aplikasi mobile banking

Serangan Penipuan Perbankan via Ponsel Naik 35 Persen

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Penipuan perbankan via ponsel naik 35 persen dalam 12 bulan terakhir
  • 90 persen penipuan terjadi melalui perangkat seluler menurut riset BioCatch
  • Penipuan pembelian jadi yang paling umum dengan porsi 33 persen
  • Penipuan romansa naik 23 persen, penipuan investasi paling mahal rata-rata 6.600 dolar AS
  • AI dipakai penipu maupun bank untuk deteksi manipulasi

Telset.id – Penipuan perbankan yang menyasar perangkat seluler meningkat 35 persen dalam 12 bulan terakhir. Temuan ini diungkap dalam riset terbaru BioCatch yang menegaskan bahwa pelaku kejahatan kini hampir sepenuhnya mengincar ponsel, bukan lagi saluran telepon rumah atau email. Perangkat seluler menjadi sasaran utama karena memudahkan korban memindahkan uang secara langsung melalui aplikasi perbankan.

Riset tersebut menyoroti beragam modus penipuan yang terus tumbuh, mulai dari penipuan romansa hingga investasi. Meski penipuan perbankan menjadi tantangan utama, penipuan pembelian justru tercatat sebagai jenis yang paling umum, menyumbang 33 persen dari seluruh upaya penipuan.

Proliferasi ponsel di seluruh dunia dan ketersediaan aplikasi perbankan menjadi keuntungan bagi pelaku penipuan, yang memakai berbagai strategi untuk menguras uang korban. Data BioCatch menunjukkan 90 persen dari seluruh penipuan terjadi melalui ponsel. Penipuan romansa naik 23 persen dibanding tahun sebelumnya, sementara penipuan investasi menjadi yang paling mahal dengan nilai kasus rata-rata 6.600 dolar AS.

BioCatch mengidentifikasi bahwa teknik kecerdasan buatan atau AI digunakan oleh kedua belah pihak, baik pelaku penipuan maupun bank. Direktur Global Fraud Intelligence BioCatch, Thomas Peacock, menyatakan bahwa penipuan rekayasa sosial tidak serta-merta menjadi kurang lazim atau kurang canggih.

“Jika ada, kecerdasan buatan telah menurunkan hambatan masuk bagi calon penipu, memungkinkan lebih banyak aktor jahat menciptakan penipuan yang lebih meyakinkan pada skala yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Sebagai respons, banyak bank menyadari bahwa behavioral intelligence memungkinkan mereka mengenali tanda-tanda manipulasi dan pemaksaan sebelum pemegang akun mengotorisasi transaksi,” ujar Thomas Peacock.

Back view of hooded internet criminal hacking laptop in the dark, stealing credit card details

Risiko dari penipuan perbankan bertumpu pada dua faktor kunci, yakni strategi manipulatif dan persuasif pelaku untuk memicu kepanikan finansial yang tidak rasional pada korban, serta kemudahan memindahkan uang melalui aplikasi mobile banking. Meski mobile banking sangat nyaman bagi pengguna yang jujur, layanan ini juga terbukti menjadi berkah bagi para penipu.

Direktur Global Advisory BioCatch, Jonathan Frost, menegaskan bahwa penipu tidak perlu membobol akun jika mereka bisa membujuk nasabah untuk memindahkan uangnya sendiri. Hal inilah yang menjadi tantangan bank saat ini dalam menghadapi penipuan investasi dan romansa, di mana nasabah dimanipulasi untuk melakukan pembayaran yang mereka yakini sah.

Sejumlah wilayah memiliki aturan masing-masing untuk membantu korban penipuan. Di Inggris, perlindungan tersedia bagi korban. Namun, mekanisme penggantian dana dinilai hanya melindungi korban secara finansial setelah kejadian dan tidak menghentikan keberhasilan penipuan. Prioritas saat ini harus diarahkan pada pencegahan agar pembayaran tidak sampai ke tangan pelaku kejahatan sejak awal.

Tantangan berikutnya adalah memastikan semua pihak memahami risiko dari penipuan perbankan. Ancaman serupa juga menyasar pengguna perangkat lain, seperti modus pencurian akun yang menyasar pengguna Apple. Selain itu, pengguna Android pernah menjadi target malware yang mampu mengkloning kartu kontaktless.

Peningkatan penipuan perbankan lewat ponsel menegaskan bahwa kenyamanan transaksi digital berjalan seiring dengan risiko keamanan yang nyata. Bank menghadapi tekanan untuk mendeteksi manipulasi sebelum transaksi disetujui, sementara pengguna perlu mewaspadai berbagai modus rekayasa sosial yang terus berkembang.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.