📑 Daftar Isi

Ilustrasi kekurangan tenaga kerja terampil di pabrik semikonduktor Amerika Serikat

Krisis Tenaga Kerja Ancam Pabrik Chip AS, 157.000 Posisi Kosong

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • McKinsey dan SEMI Foundation proyeksikan 157.000 posisi chip AS kosong pada 2030
  • Hanya 3% lulusan teknik AS yang bekerja di industri semikonduktor
  • 73% perusahaan chip kesulitan mengisi posisi engineering
  • Samsung, Micron, dan SK hynix bangun fab besar di AS
  • Gaji $127.000-$187.000 kalah dari bonus Samsung dan SK hynix di Korea

Telset.id – Ambisi Amerika Serikat membangun kembali industri semikonduktornya menghadapi hambatan besar. McKinsey dan SEMI Foundation memproyeksikan hingga 157.000 posisi di sektor chip AS berpotensi tidak terisi pada 2030, bahkan ketika pabrik-pabrik baru mulai beroperasi.

Kekhawatiran itu disampaikan langsung oleh Samsung semiconductor division EVP, Jon Taylor. “Saya khawatir. Kami tidak melihat ada cukup orang teknis dalam pipeline,” ujarnya kepada CNBC. Pernyataan ini menegaskan bahwa persoalan tenaga kerja kini menjadi tantangan struktural, bukan sekadar gangguan sementara di tengah gelombang pembangunan fasilitas produksi.

Data McKinsey memperkuat sinyal tersebut. Hanya 3% lulusan teknik AS yang akhirnya bekerja di industri semikonduktor, sementara 73% perusahaan chip mengaku kesulitan mengisi posisi engineering. Kondisi ini kontras dengan sektor teknologi lain yang justru melakukan pemutusan hubungan kerja besar-besaran, dengan lebih dari 40.000 posisi dipangkas hingga Juni tahun ini, yang diduga sebagian besar dipicu oleh AI.

Pabrik Baru Bermunculan, Pekerja Terampil Belum Siap

Pendorong utama kebutuhan tenaga kerja ini adalah ledakan permintaan chip memori dan penyimpanan akibat boom AI, ditambah upaya Washington mengembalikan manufaktur semikonduktor ke tanah air. TSMC menjadi salah satu pionir lewat kampus Arizona yang mulai dibangun pada 2021 dan mulai memproduksi chip tahun lalu. Perusahaan itu bahkan berkomitmen menambah $100 miliar pada Juli 2026 untuk membangun empat fab 2nm tambahan.

TSMC Arizona Fab 21 entrance

Intel juga mengejar ketertinggalan melalui Ohio One, yang pernah menjadi kompleks fab terbesar di Amerika, dengan target produksi antara 2030 dan 2031. Tiga raksasa memori, yakni Micron, Samsung, dan SK hynix, turut merancang atau baru saja menyelesaikan ekspansi besar di AS.

Samsung memulai manufaktur semikonduktor canggih di Taylor, Texas, dengan fab yang masuk fase risk production tahun ini. Fasilitas itu menargetkan output 50.000 wafer starts per bulan dan diperkirakan menciptakan 3.500 lapangan kerja. “Kami merekrut engineer, teknisi, dan orang-orang di rantai pasok. Semua orang menginginkan dan membutuhkan hal yang sama, dan ini semacam perlombaan melawan waktu karena semuanya mulai online,” kata Taylor.

Micron membangun fab chip memori di Boise, Idaho, yang dimulai pada 2022 dan diproyeksikan mulai produksi wafer pada 2027. Perusahaan juga telah memulai pembangunan “megafab” senilai $100 miliar di New York dengan target memproduksi 40% output globalnya di AS pada 2040-an. Micron turut mengalokasikan $10 miliar untuk laboratorium riset baru di AS yang akan dibangun dekat pusat R&D global Micron di Boise.

SK hynix memulai konstruksi pabrik HBM pertamanya di AS, dengan kampus West Lafayette, Indiana, yang dikhususkan untuk packaging komponen penting bagi data center AI. Beredar pula rumor bahwa perusahaan Korea Selatan itu tengah berdiskusi dengan Intel untuk menyewa ruang di pabrik Ohio One atau membentuk joint venture bersama hyperscaler AI lain untuk membangun chip memori di AS.

Seluruh proyek konstruksi tersebut, ditambah rantai pasok yang menyertainya, akan membutuhkan ribuan pekerja. Universitas lokal seperti Purdue University dan Arizona State University sudah menginvestasikan jutaan dolar untuk menyiapkan tenaga kerja yang mumpuni, dengan Purdue meluncurkan gelar yang berfokus pada semikonduktor pada 2022. Samsung dan Intel juga berinvestasi dalam berbagai program, termasuk magang dan beasiswa, untuk mengamankan masa depan tenaga kerja perusahaan.

Micron's offices in Allen, Texas

Gaji Jadi Kendala Utama Perekrutan

Namun, gaji menjadi salah satu kekhawatiran utama yang dicatat SEMI Foundation. Pabrik chip AS umumnya membayar $127.000 hingga $187.000, dengan staf senior menerima $238.000 atau lebih. Meski tergolong kompetitif di AS, angka itu kalah jauh dibanding bonus yang baru-baru ini ditawarkan Samsung dan SK hynix di Korea Selatan, yang mencapai ratusan ribu dolar.

Dengan proyeksi kekurangan pekerja tersebut, perusahaan semikonduktor diperkirakan perlu menyesuaikan tawaran kerja mereka agar setara dengan mitra di Asia Timur jika ingin merekrut dan mempertahankan talenta di AS. Kebutuhan ini sejalan dengan percepatan pengembangan chip di berbagai kawasan, seperti yang terlihat pada peluncuran chip AI dari pemain global maupun server AI yang terus menuntut pasokan komponen lebih besar.

Tekanan yang sama juga terlihat dari sisi permintaan perangkat, seperti yang tercermin pada chipset baru di pasar konsumen. Artinya, persoalan tenaga kerja di AS bukan hanya soal kapasitas produksi nasional, tetapi juga berimplikasi pada ketersediaan pasokan chip global yang menopang berbagai perangkat.

Tanpa penyelesaian pada pipeline talenta, gelombang pembangunan fab di AS berisiko berjalan tanpa cukup operator, teknisi, dan engineer untuk menjalankannya. Bagi pelaku industri, ini menjadi pengingat bahwa investasi manufaktur harus dibarengi kesiapan sumber daya manusia, bukan hanya beton dan peralatan.

[ META_DESCRIPTION]
Industri chip AS terancam kekurangan hingga 157.000 pekerja pada 2030. Samsung dan Micron bangun fab, tapi talenta teknis belum siap.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.