📑 Daftar Isi

Ilustrasi aliansi AI Energy Management Alliance yang dibentuk Emerald AI, Google, dan Nvidia untuk mengelola konsumsi listrik data center AI.

Nvidia, Google, Emerald AI Bentuk Aliansi Kelola Energi Data Center AI

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Emerald AI, Google, dan Nvidia membentuk AI Energy Management Alliance (AEMA)
  • AEMA menyasar data center AI fleksibel yang menyesuaikan konsumsi listrik dari grid
  • Solusi mencakup pemindahan beban komputasi ke jam off-peak dan ekspor energi
  • AEMA akan menetapkan spesifikasi teknis, metrik kinerja, dan standar terbuka
  • Anthropic dilaporkan akan bergabung sebagai mitra tambahan
  • Konsumsi energi data center AS diproyeksi tembus 426 TWh pada 2030

Telset.id – Emerald AI, Google, dan Nvidia resmi membentuk AI Energy Management Alliance (AEMA), sebuah koalisi yang menyasar persoalan konsumsi listrik data center AI yang terus meningkat. Aliansi ini bertujuan mengembangkan data center AI fleksibel yang mampu menyesuaikan secara dinamis berapa banyak listrik yang mereka ambil dari jaringan (grid) berdasarkan berbagai kondisi.

Langkah ini muncul sebagai respons terhadap tekanan ketersediaan daya yang kian ketat. Tekanan tersebut membuat banyak proyek data center baru mengalami penundaan hingga bertahun-tahun. Melalui AEMA, ketiga perusahaan berharap dapat menghadirkan data center yang tidak hanya mengonsumsi listrik secara besar-besaran, tetapi juga mampu berkoordinasi dengan pasokan energi di sekitarnya.

Konsep kerja AEMA dijelaskan oleh Head of Sustainability Nvidia, Josh Parker. Ia menyatakan bahwa kampus data center masa depan dapat memindahkan beban komputasi, mengosongkan penyimpanan energi, menggunakan pembangkit listrik pendamping, atau merespons berbagai kemungkinan sistem lain untuk mengubah secara dinamis jumlah listrik yang disedot dari grid pada waktu tertentu.

Dalam praktiknya, konsep ini melibatkan pemindahan tugas komputasi berat seperti pelatihan model AI ke waktu di luar jam sibuk (off-peak). Selain itu, aliansi ini mendorong penggunaan baterai atau pembangkit listrik di lokasi yang dipadukan dengan grid, serta mengekspor kelebihan energi yang tersimpan kembali ke jaringan saat terjadi tekanan pada sistem kelistrikan.

Standar Teknis dan Mitra Baru

Langkah krusial yang harus dilakukan AEMA berikutnya adalah menetapkan spesifikasi teknis, metrik kinerja, dan standar terbuka agar konsep ini dapat diterapkan dalam skala besar. Saat peluncurannya, hanya Emerald AI, Google, dan Nvidia yang berada di belakang aliansi ini. Namun, sejumlah mitra tambahan dijadwalkan bergabung ke dalam skema tersebut.

SiliconANGLE melaporkan bahwa Anthropic akan menjadi salah satu mitra yang bergabung. Kehadiran mitra baru ini menandakan bahwa gagasan pengelolaan energi data center AI tidak berhenti pada tiga pendiri awal. Langkah ini juga memperkuat posisi koalisi dalam mendorong adopsi standar bersama di industri.

Josh Parker menegaskan bahwa AEMA ingin menciptakan kerangka kerja bersama untuk kinerja, keandalan, dan kolaborasi. Menurutnya, melalui kerangka kerja tersebut, AEMA bertujuan membantu Amerika Serikat membangun infrastruktur kecerdasan dengan kecepatan dan keberlanjutan yang dibutuhkan saat ini.

Perlu dicatat, konsep pengelolaan konsumsi daya ini sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru. Google sebelumnya juga mengumumkan pada tahun ini bahwa mereka memiliki kapasitas demand-response lebih dari 1GW. Meski demikian, penerapan konsep serupa dalam skala besar berpotensi memberikan dampak yang cukup besar di seluruh sektor.

Baik Nvidia maupun Emerald AI dilaporkan telah mengembangkan perangkat lunak untuk menangani konsumsi daya yang berkaitan dengan grid. Dengan perangkat lunak ini, data center dapat berperan lebih aktif dalam menjaga keseimbangan pasokan listrik, bukan sekadar menjadi konsumen energi yang pasif.

Power cables stretching out in front of the horizon

Tekanan Energi yang Semakin Nyata

Seluruh perkembangan ini berlangsung di tengah tekanan energi yang terus meningkat. Data terbaru dari Bloomberg menunjukkan bahwa data center di Amerika Serikat saja berpotensi menggunakan gas alam sebanyak gabungan seluruh Jerman dan Jepang pada tahun 2035.

Selain itu, studi dari Moody’s memproyeksikan bahwa total konsumsi energi data center di Amerika Serikat dapat menembus 426 TWh pada tahun 2030. Angka-angka ini memberikan gambaran mengenai skala tantangan yang harus dijawab oleh industri, termasuk melalui inisiatif seperti AEMA.

Pembentukan AEMA menjadi salah satu respons konkret terhadap persoalan tersebut. Dengan menggabungkan kemampuan Emerald AI, Google, dan Nvidia, aliansi ini menyasar koordinasi antara konsumsi daya data center dan jaringan listrik sebagai inti solusinya. Bagi pelaku industri yang mengikuti perkembangan infrastruktur AI, langkah ini menjadi sinyal bahwa efisiensi energi akan semakin menentukan kelayakan proyek data center ke depan.

Untuk konteks yang lebih luas mengenai dinamika adopsi AI dan tata kelolanya, Anda dapat menelusuri pembahasan seputar agen AI untuk keluarga serta dorongan pengawasan terhadap teknologi canggih melalui isu rem superintelligence. Pembahasan mengenai standar dan tata kelola AI juga terus berkembang, termasuk melalui inisiatif seperti standar AGI yang tengah dibahas sejumlah pemangku kepentingan.

Dengan penetapan spesifikasi teknis, metrik kinerja, dan standar terbuka sebagai langkah berikutnya, AEMA menempatkan koordinasi daya antara data center dan grid sebagai fondasi. Keberhasilan penerapannya dalam skala besar akan bergantung pada sejauh mana standar bersama tersebut dapat diadopsi oleh para pelaku industri, termasuk mitra-mitra yang menyusul bergabung.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.