Ilustrasi krisis pasokan memori DDR2 akibat investasi AI yang mengalihkan produksi

Harga DDR2 Melonjak 60% Akibat Dampak AI pada Pasokan Memori

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø2 menit membaca
Bagikan:
  • Harga DDR2 diprediksi naik 55-60% di Q2 2026 dan 35-40% di Q3 2026
  • Lonjakan investasi infrastruktur AI mengalihkan produksi memori ke HBM dan server DRAM
  • Produsen seperti Winbond kurangi produksi DDR2, alihkan kapasitas ke DDR3/DDR4
  • ESMT justru tingkatkan produksi DDR2 untuk tangkap permintaan tinggi
  • Beberapa perusahaan desain ulang sistem DDR3 ke DDR2 untuk amankan komponen
  • Krisis pasokan diprediksi belum akan reda dalam waktu dekat

Telset.id – Lonjakan investasi infrastruktur AI telah memicu krisis pasokan memori global yang tidak terduga, mendorong harga DDR2 melonjak hingga 60% pada kuartal kedua 2026. Teknologi yang sudah berusia sekitar 25 tahun ini justru mengalami permintaan tinggi karena produsen memori memprioritaskan produk canggih untuk AI.

Fenomena ini menciptakan efek domino yang langka di industri semikonduktor. Alih-alih beralih ke teknologi yang lebih baru, para pembeli justru mundur ke generasi memori yang lebih tua untuk mengamankan komponen. Perubahan struktural di pasar DRAM ini diprediksi akan berlanjut, dengan harga diperkirakan naik lagi 35% hingga 40% pada kuartal ketiga 2026.

Keputusan para pemasok DRAM terbesar dunia untuk mengalokasikan sumber daya manufaktur ke teknologi memori canggih menjadi akar masalah. Permintaan yang terus meningkat untuk HBM dan server DRAM, yang terkait erat dengan ekspansi infrastruktur AI, telah mengurangi porsi wafer yang tersedia untuk produk konsumen yang lebih lama.

DDR2 prices explode as AI demand drains modern DRAM supply

Akibatnya, perusahaan yang membeli memori DDR4 semakin beralih ke pemasok Taiwan untuk kapasitas tambahan. Tekanan permintaan kemudian menyebar ke berbagai generasi produk, termasuk DDR3 dan DDR2. Beberapa produsen bahkan telah mengganti desain DDR4 dengan solusi DDR3, sementara sistem berbasis DDR3 tertentu didesain ulang menggunakan DDR2 untuk meningkatkan ketersediaan komponen.

Menurut data TrendForce, harga kontrak DDR2 diperkirakan akan meningkat sekitar 55% hingga 60% selama kuartal kedua 2026. Kenaikan ini merupakan salah satu lonjakan harga terkuat di segmen memori lawas dalam beberapa tahun terakhir.

Situasi ini diperparah oleh keputusan Winbond, salah satu pemasok utama DDR2, yang mengurangi produksi standar lama dan mengalihkan kapasitasnya ke DDR3, DDR4, dan LPDDR4. Transisi ini diperkirakan akan menambah tekanan pada ketersediaan DDR2 pada kuartal-kuartal mendatang.

Sebaliknya, produsen seperti Elite Semiconductor Memory Technology (ESMT) justru meningkatkan fokus pada produksi DDR2 dalam alokasi wafer yang ada. Perusahaan ini berharap dapat menangkap lonjakan permintaan untuk meningkatkan profitabilitas sekaligus membantu mengatasi sebagian kekurangan pasokan akibat pengurangan produksi Winbond.

The letters AI in a box in the middle of a vast digital room divided by beams of line

Ketidakseimbangan antara permintaan dan output yang tersedia telah memperkuat posisi tawar beberapa produsen memori. Dengan pasokan yang tidak mampu mengimbangi, vendor memiliki fleksibilitas lebih besar untuk menaikkan harga kontrak sambil berkonsentrasi pada produk yang menghasilkan keuntungan lebih tinggi.

Eksekutif industri seperti CEO Nothing Carl Pei dan Framework telah memperingatkan bahwa kendala pasokan dan harga yang tinggi kemungkinan tidak akan mereda dalam waktu dekat. Peringatan ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa krisis memori akan berdampak pada berbagai sektor, termasuk harga ponsel pintar.

Belum jelas apakah kondisi pasokan ini merupakan distorsi pasar sementara atau awal dari kekurangan yang berkepanjangan. Namun, yang mulai terlihat jelas adalah bahwa permintaan AI untuk memori canggih kini memengaruhi bahkan generasi produk yang sangat lama, menciptakan efek riak yang tak terduga hingga mencapai DDR2.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.