Telset.id – Garmin menegaskan pendekatannya terhadap kecerdasan artifisial (AI) tidak mengikuti arus industri yang serba menempelkan label AI pada setiap fitur. Chief Operating Officer Garmin, Brad Trenkle, menyatakan bahwa perusahaan menerapkan AI secara pragmatis dan selektif, dengan prinsip utama menjaga autentisitas di setiap aplikasi teknologi tersebut. Pendekatan ini menjadi pembeda Garmin di tengah derasnya gelombang AI di sektor kebugaran dan kesehatan digital.
Pernyataan Trenkle muncul ketika industri fitness tech dibanjiri berbagai AI coach dan advisor, mulai dari Health Coach milik Google hingga Athlete Intelligence dari Strava. Banyak di antaranya dinilai hanya membungkus teknologi lama dengan label large language model (LLM). Garmin sendiri tercatat hanya menempelkan istilah AI pada satu fitur, yakni Active Intelligence di platform Garmin Connect+, yang digambarkan sebagai fitur “AI-powered”.
Dalam wawancara dengan TechRadar, Trenkle menjelaskan alasan di balik sikap hati-hati Garmin. “Saya pikir karena Garmin adalah perusahaan yang sangat berfokus pada rekayasa, kami cenderung sangat pragmatis dalam semua pengambilan keputusan,” ujar Trenkle. “Hal itu membuat kami sangat bijaksana dan selektif dalam penggunaan AI.”
Trenkle menambahkan, salah satu prinsip kunci penerapan AI di Garmin, baik untuk produk maupun proses internal, adalah keharusan menjaga rasa autentisitas. Pernyataan ini menjadi penting karena banyak antarmuka AI di platform kebugaran justru berupaya tampil lebih manusiawi, tetapi malah terkesan palsu atau sekadar menyanjung pengguna.

Active Intelligence dan Batas Penggunaan AI
Satu-satunya fitur yang secara eksplisit disebut AI oleh Garmin adalah Active Intelligence di Garmin Connect+. Fitur ini dirancang memberikan umpan balik dan saran bergaya LLM di dalam aplikasi Connect pada ponsel. Menurut Garmin, semakin aplikasi mengenali pengguna, semakin personal pula wawasan yang diberikan, disesuaikan dengan tujuan masing-masing.
Meski demikian, Garmin menegaskan bahwa Connect+ tidak sepenuhnya tentang AI. Platform berlangganan ini juga menawarkan bonus khas Garmin seperti video pelatih ahli, berbagi lokasi Livetrack, dan Trails offline. Garmin membandingkan nilai fitur-fitur tersebut dengan biaya langganan sebesar US$6,99 per bulan, yang menurut perusahaan bergantung pada kebutuhan masing-masing pengguna.
Pendekatan selektif Garmin ini juga tercermin dari cara perusahaan memperlakukan ekosistem aplikasinya. Sebelumnya, toko aplikasi Connect IQ dilaporkan menerima banjir kiriman aplikasi, yang diduga kuat dipicu oleh maraknya konten AI. Kondisi tersebut membuat proses review aplikasi menjadi tertunda hingga 13 hari, menunjukkan bagaimana gelombang AI juga berdampak pada operasional platform Garmin.
Akuisisi TrainingPeaks dan Pilihan bagi Pengguna
Garmin juga menegaskan posisinya sebagai perusahaan yang mengutamakan manusia, sebagaimana dibuktikan melalui akuisisi besar terbarunya terhadap TrainingPeaks pada Juli. TrainingPeaks memang menggunakan sejumlah teknologi berbasis AI, tetapi fondasinya adalah mempertemukan atlet dengan pengetahuan dan keahlian pelatih manusia sungguhan. Platform ini dibuat untuk para pelatih sekaligus atlet, model bisnis yang berseberangan dengan tren meminta ChatGPT atau Claude menyusun rencana latihan.
“Kami juga mengambil pendekatan yang menurut kami akan memberi pelanggan pilihan,” kata Trenkle mengenai akuisisi tersebut. “Akuisisi kami terhadap TrainingPeaks adalah peluang untuk memastikan konsumen yang ingin berinteraksi dengan pelatih manusia dapat melakukannya melalui platform TrainingPeaks. Jadi kami ingin memastikan kami menemui pelanggan di posisi mereka.”

Dengan demikian, Garmin bergerak di dua sisi sekaligus. Active Intelligence di Connect+ menjadi representasi penerapan AI gaya LLM yang menyajikan ringkasan mudah dipahami agar pengguna tidak perlu menghabiskan energi mental mempelajari datanya sendiri. Sementara TrainingPeaks, untuk saat ini, tetap berjalan melawan arus AI dengan mengedepankan peran pelatih manusia.
Trenkle menjelaskan bahwa preferensi pengguna memang beragam. “Sebagian akan menginginkan jawaban sederhana dan dasar atas pertanyaan tentang data mereka yang dapat dibantu AI untuk menciptakan wawasan tersebut. Yang lain akan merangkul ide pelatih manusia untuk motivasi, akuntabilitas, dan hal-hal yang mungkin lebih sulit didapat melalui bot atau agen AI,” jelasnya.
Baca Juga:
Trenkle juga percaya diri bahwa Garmin lebih memahami basis penggunanya dibandingkan kompetitor. Ia menyebut hal itu dimungkinkan karena Garmin terintegrasi secara vertikal. “Kami berbicara dengan pelanggan kami. Kami sendiri adalah pengguna produk kami sendiri,” ujarnya.
Sikap hati-hati Garmin terhadap AI juga sejalan dengan lini produknya yang terus berkembang. Perusahaan baru-baru ini merilis Enduro 4 dengan harga tetap meski RAM naik 50 persen, serta menyiapkan perangkat baru lain seperti Cirqa smart ring yang bocor di regulasi Brasil. Di sisi lain, pengguna yang ingin memaksimalkan data kebugaran tanpa perangkat baru bisa mencoba optimalkan sleep tracking Garmin.

Bagi Garmin, masa depan AI di perangkat kebugaran masih dalam proses pengembangan. Namun yang jelas, perusahaan memilih untuk tidak sekadar melompat ke atas gelombang AI tanpa pertimbangan. Pendekatan berbasis rekayasa, autentisitas, dan pilihan pengguna menjadi fondasi bagaimana Garmin memposisikan AI di antara fitur-fitur andalannya, termasuk pada lini jam tangan seperti yang terlihat pada perangkat wearable terbaru mereka.
[ META_DESCRIPTION ]
Garmin menegaskan penggunaan AI secara selektif dan pragmatis. COO Brad Trenkle sebut autentisitas jadi prinsip utama di balik fitur Active Intelligence.





Komentar
Belum ada komentar.