Telset.id – Konsultan bisnis global Accenture kembali menjadi sorotan setelah sebuah laporan riset yang diterbitkannya bersama IE University di Madrid diduga memuat sejumlah halusinasi AI. Laporan berjudul “Leapfrogging Development: Unlocking Africa’s Potential in Global Value Chains with Artificial Intelligence” itu disebut mengandung 15 ketidakakuratan yang teridentifikasi.
Temuan ini dilaporkan oleh penerbit perangkat lunak pendeteksi AI, GPTZero, yang rutin melakukan analisis terhadap laporan-laporan baru yang dianggap penting. GPTZero mencatat total 31 ketidakakuratan di tiga dokumen Accenture, dengan porsi terbesar berada pada satu kertas kebijakan tersebut. Accenture sendiri membantah bahwa kesalahan itu berasal dari teknologi AI.
GPTZero menyebut pihaknya telah memiliki pengalaman menangani persoalan sitasi pada laporan organisasi besar. Sebelumnya, kasus serupa mencuat di sekitar firma audit PwC pada Agustus 2026, ketika GPTZero menyoroti laporan mereka yang dinilai memuat klaim tidak akurat dan keliru.
Rincian Temuan GPTZero
Pada laporan “Leapfrogging Development” yang dikaitkan dengan Accenture, GPTZero mengidentifikasi 15 halusinasi AI, ditambah empat sitasi yang cacat. Sitasi cacat yang dimaksud adalah sitasi yang tidak ada, ada tetapi dengan nama berbeda, atau tidak mendukung isi laporan.
GPTZero menegaskan bahwa sitasi hasil halusinasi menjadi bahaya nyata bagi peneliti, akademisi, konsultan, mahasiswa, dan siapa pun yang mencari informasi di internet. Tinjauan sebelumnya terhadap laporan yang terkontaminasi halusinasi AI menunjukkan bahwa klaim palsu dalam dokumen publik terbitan organisasi ternama bisa didaur ulang dan diulang oleh pihak lain.
GPTZero menggambarkan fenomena tersebut sebagai versi internet dari “Chinese whispers”. Menurut GPTZero, seiring waktu halusinasi yang didaur ulang dapat “meracuni sumur informasi”, bahkan jika publikasi aslinya tidak pernah dibaca manusia. Dengan kata lain, halusinasi AI dinilai lebih berbahaya dari yang diperkirakan, dan Accenture tampak rentan menerbitkannya.

Bantahan Accenture dan Konteks Internal
Berbicara kepada The Telegraph, juru bicara Accenture menyatakan bahwa persoalan yang diangkat GPTZero disebabkan oleh kesalahan manusia. “Tidak ada bukti yang mendukung kesimpulan bahwa hal itu dihasilkan melalui halusinasi AI. Laporan sedang dikoreksi menjelang rilis ulang. Kami akan selalu menyambut kesempatan untuk memperkuat kualitas laporan kami,” kata juru bicara tersebut.
Meski begitu, laporan ini bukan masalah pertama bagi Accenture. GPTZero meninjau tiga dokumen secara total, dan kertas kebijakan “Leapfrogging Development” bukan satu-satunya yang bermasalah. Sebelumnya, firma ini juga sempat diterpa isu terkait kebocoran kredensial pada insiden yang melibatkan kontraktornya.
Accenture juga diketahui gencar mendorong karyawannya agar lebih produktif menggunakan AI. Laporan yang bermasalah ini disebut merupakan hasil kolaborasi dan diproduksi di luar proses internal biasa Accenture, tetapi tetap menyoroti persoalan perusahaan tersebut dengan AI.
Baca Juga:
Di sisi lain, Accenture juga tengah memperluas keterlibatannya di sektor AI. Perusahaan ini baru saja masuk ke Anthropic untuk mengevaluasi keamanan model AI, sebuah langkah yang menambah kompleksitas posisinya di industri kecerdasan buatan.
Selain itu, Accenture turut menyoroti persoalan biaya operasional AI di perusahaan besar. Perusahaan ini sempat membocorkan krisis biaya token yang dihadapi banyak organisasi ketika mengadopsi AI secara masif.
Langkah ekspansi Accenture juga terlihat dari akuisisi besar yang dilakukannya. Perusahaan ini resmi membeli Ookla, pemilik layanan Speedtest, dengan nilai transaksi mencapai Rp 19 triliun, menandai pergeseran portofolio bisnisnya ke arah pengukuran jaringan dan data.
Kasus laporan “Leapfrogging Development” menunjukkan bahwa dokumen publik yang diterbitkan organisasi ternama tetap bisa mengandung klaim palsu yang kemudian didaur ulang. Accenture menyatakan laporan sedang dikoreksi dan akan dirilis ulang, sementara GPTZero menegaskan setiap halusinasi diverifikasi oleh manusia sungguhan untuk menghindari kesalahan yang sama.
[ META_DESCRIPTION ]
Accenture dituding terbitkan laporan riset berisi 15 halusinasi AI temuan GPTZero. Accenture membantah dan menyebutnya sebagai kesalahan manusia.





Komentar
Belum ada komentar.