📑 Daftar Isi

Bendera FBI berkibar di depan gedung, melambangkan klaim peningkatan penggunaan AI di biro tersebut

FBI Klaim Penggunaan AI Naik 605% di Era Kash Patel

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Kash Patel klaim penggunaan AI di FBI naik 605% sejak dilantik
  • Klaim disampaikan dalam wawancara Fox News, tanpa data rinci
  • Laporan DOJ 2025 catat 50 kasus penggunaan AI di FBI, 9 high-impact
  • Chief AI Officer FBI sebut 139 kasus disetujui pada Agustus
  • FBI ajukan pengadaan server AI senilai USD 88 juta
  • Patel kaitkan AI dengan kenaikan 30% temuan anak hilang

Telset.id – Direktur FBI Kash Patel mengklaim penggunaan kecerdasan buatan atau AI di biro tersebut melonjak 605% sejak ia dilantik. Klaim ini disampaikan Patel dalam sebuah wawancara dengan Fox News, di mana ia menyebut AI sebagai alat kritis untuk memilah data ketika digunakan secara sah.

Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena hingga kini belum ada data resmi yang secara spesifik menjelaskan dasar perhitungan angka 605% tersebut. Meski demikian, sejumlah dokumen dan pernyataan pejabat FBI memberi petunjuk bahwa adopsi AI di lembaga penegak hukum itu memang tengah berkembang.

Patel menegaskan bahwa AI, “when used lawfully, is a critical tool to triage data,” dan menilai teknologi ini sangat berharga untuk membantu melindungi anak-anak dari insiden penembakan di sekolah. Ia juga mengklaim AI berperan penting dalam menindaklanjuti sebuah petunjuk yang menghentikan aksi penembakan di North Carolina dan “a half dozen other states” sejak ia dilantik.

Jejak Adopsi AI di FBI

Meski angka 605% sulit diverifikasi, beberapa data dapat menjadi rujukan. Laporan terbaru pada Februari 2026 mengenai inventaris penggunaan AI Departemen Kehakiman (DOJ) sepanjang 2025 menunjukkan 50 kasus penggunaan AI yang diatribusikan ke FBI, dengan sembilan di antaranya ditandai sebagai “high-impact”.

Namun, pernyataan yang lebih baru dari Chief AI Officer FBI, Katie Noyes, pada Agustus menyebut ada 139 kasus penggunaan yang telah disetujui, atau hampir tiga kali lipat dari jumlah pada Januari. Angka ini menunjukkan percepatan adopsi AI di lingkungan biro, meski tidak secara langsung mengonfirmasi klaim lonjakan 605% milik Patel.

Pada tahun sebelumnya, U.S. General Services Administration menyetujui Claude, Gemini, dan ChatGPT sebagai produk yang disetujui, sehingga tersedia bagi instansi pemerintah. Pada Mei tahun ini, Pentagon juga menandatangani delapan kesepakatan dengan perusahaan AI. Beberapa bulan lalu, FBI bahkan mengunggah dokumen pengadaan yang meminta proposal vendor untuk server AI senilai USD 88 juta, sebuah indikasi bahwa biro tersebut berencana memperluas layanannya.

FBI flag

Perkembangan lain datang beberapa hari sebelum pernyataan Patel, tepatnya pada 15 September, ketika ia mengklaim dalam sidang Senat bahwa dirinya dapat menghubungi CEO pemain AI utama secara langsung. Menurut Patel, “every single one of them has complied with our request and worked with us on law enforcement matters.”

Ia menilai akses terhadap model milik vendor akan mempermudah penindakan kejahatan berbantuan AI, terutama karena sindikat kriminal kini mengembangkan model mereka sendiri dengan bantuan distillation attacks. FBI pun kini mengklasifikasikan kejahatan terkait AI dengan deskriptor tersendiri, dan dalam Internet Crime Report terbaru menyoroti investasi, romance, serta pekerjaan sebagai area aktivitas jahat yang umum.

Klaim Dampak AI pada Kasus Anak Hilang

Dalam op-ed yang diterbitkan pada Mei lalu, Patel mengaitkan kenaikan 30% dalam temuan lokasi anak hilang dan kenaikan 20% penangkapan kasus kekerasan anak dengan penggunaan alat AI, termasuk facial recognition. Ia juga menulis bahwa “FBI now uses new AI tools to generate call transcriptions, provide concise synopses and even help correlate contacts with other received complaints.”

Patel menyoroti bahwa pesan yang dikumpulkan berdasarkan surat perintah penggeledahan bisa memakan waktu berminggu-minggu untuk diproses oleh sejumlah analis, sesuatu yang bisa dilakukan AI dengan mudah. Hal ini menjadi salah satu argumen utama mengapa adopsi AI dianggap mempercepat kerja penegakan hukum.

a robot hand holding a wad of dollar bills

Sejumlah pengembangan tersebut memang mengindikasikan bahwa FBI tengah memanfaatkan alat AI, meski angka “605%” yang disebut Patel masih memerlukan dasar pembanding agar bisa diverifikasi secara independen. Tanpa data yang transparan, besaran lonjakan tersebut masih menjadi klaim yang perlu dikonfirmasi lebih lanjut.

Di sisi lain, langkah FBI mengadopsi AI sejalan dengan tren yang lebih luas di sektor pemerintahan dan industri. Pemanfaatan teknologi semacam ini kini menjadi bagian dari operasional berbagai institusi, termasuk dalam pengelolaan data berskala besar.

Yang jelas, pernyataan Patel menegaskan bahwa FBI melihat AI bukan sekadar alat bantu, melainkan bagian dari strategi penegakan hukum modern. Namun, transparansi atas metrik yang digunakan akan menentukan seberapa kuat klaim tersebut di mata publik dan pengamat kebijakan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.