Telset.id ā Ukraina menggabungkan teknologi aerostat berusia sekitar 240 tahun dengan drone serang jarak jauh. Drone Mara dilaporkan menempuh perjalanan lebih dari 1.000 km dengan menumpang aerostat Balun, sebelum dilepaskan untuk terbang mandiri sejauh 60 km. Sistem gabungan ini dikembangkan oleh biro desain Mariupol asal Ukraina dan diproyeksikan mulai diproduksi komersial pada pertengahan Oktober.
Mekanisme kerja sistem ini menempatkan Mara menggantung di bawah balon pada sebuah mekanisme pelepas. Aerostat Balun membawa pesawat itu melampaui ketinggian 10 km sebelum melepaskannya. Setelah terpisah dari pengangkut, pesawat sayap tetap tersebut dapat melanjutkan penerbangan terpandu secara mandiri sekitar 60 km hingga mencapai tujuan yang dituju. Total jarak yang ditempuh seluruh sistem mencapai setidaknya 1.060 km.
Balun sendiri dilengkapi peralatan ballast, perangkat navigasi, komponen transmisi data, serta mekanisme pelepas untuk mengerahkan pesawat selama penerbangannya. Biro Mariupol membangun data link dan kontrol penerbangan secara in-house, namun belum mengungkap berat hulu ledak maupun spesifikasi rinci untuk kedua perangkat tersebut.
Baca Juga:
Para perancang mengklaim ketinggian terbang membuat sistem ini berada di luar jangkauan pertahanan murah, seperti interceptor kecil atau meriam ringan, sehingga Rusia membutuhkan misil yang lebih mahal. Kombinasi ini menyatukan bentuk transportasi lighter-than-air yang sudah mapan dengan teknologi aviasi nirawak kontemporer, sehingga mengurangi jarak yang harus ditempuh Mara secara mandiri.
Dari sisi biaya, produsen memperkirakan sistem gabungan Mara dan Balun dibanderol hingga US$6.000, meski belum mengungkap rincian harganya. Sebagai perbandingan, misil jelajah Tomahawk menempuh jarak hingga 1.600 km dengan harga antara US$1,3 juta hingga US$2,5 juta tergantung variannya. Pada harga yang dilaporkan, sistem Mara dan Balun jauh lebih murah, meski kapabilitas keduanya tidak setara secara langsung.

Uji Tempur dan Rencana Produksi
Biro Mariupol melaporkan drone ini telah menjalani uji tempur dan menyerang lokasi di Crimea yang diduduki serta Berdiansk, meski verifikasi independen belum tersedia. Setelah uji tempur tersebut, biro berencana memulai produksi drone Mara secara komersial pada pertengahan Oktober. Ambisi produksi ini merupakan bagian dari operasi manufaktur yang sudah ada dan memasok pesawat nirawak serta peralatan terkait untuk formasi militer Ukraina. Sejumlah laporan menyebut produksi serial telah dimulai, namun tidak ada angka resmi maupun jumlah pengiriman yang dipublikasikan.
Beberapa aspek teknis masih belum terverifikasi. Baik klaim ketinggian aerostat Balun maupun klaim perlindungannya terhadap pertahanan udara murah belum diuji secara independen. Angin di ketinggian tersebut juga berpotensi membawa balon jauh dari titik pelepasan yang direncanakan, sehingga tujuan bisa berada di luar jangkauan terbang Mara. Biro tersebut juga belum menyebutkan kecepatan jelajah Mara, yang penting karena pesawat lambat akan tetap terekspos pertahanan udara selama pendekatan akhir.
Pengembangan drone nirawak memang menjadi salah satu fokus teknologi pertahanan yang terus bergerak. Sejumlah inovasi lain di sektor ini turut menarik perhatian, mulai dari uji laser ARC hingga pengembangan drone kecil Delft yang dilengkapi kumis robotik. Persaingan global di bidang ini juga terlihat dari laporan terkait ekspor drone militer yang terus berubah dari tahun ke tahun.
Namun, sampai bukti independen atas performanya muncul, sistem Mara dan Balun masih berstatus klaim produsen dan belum menjadi senjata yang terbukti. Klaim mengenai ketinggian jelajah, ketahanan terhadap pertahanan udara murah, hingga hasil uji tempur semuanya masih menunggu verifikasi pihak ketiga.





Komentar
Belum ada komentar.