Telset.id – Diamond Foundry mengumumkan wafer single-crystal diamond (SCD) 200mm pertama di dunia, sebuah terobosan yang membuka jalan bagi penggunaan diamond sebagai material pendingin chip AI. Wafer ini disebut-sebut sebagai tonggak masuknya diamond ke era skala wafer, dan menjadi jawaban atas persoalan panas yang kian pelik di sektor semikonduktor.
Diamond dikenal punya kemampuan pendinginan luar biasa karena konduktivitas termalnya yang diperkirakan setidaknya lima kali lebih tinggi dibanding tembaga. Sifat inilah yang membuat Diamond Foundry, perusahaan yang berfokus pada diamond hasil laboratorium, mengejar produksi SCD dalam skala besar agar bisa dipakai untuk mendinginkan semikonduktor. Kebutuhan itu makin mendesak seiring meningkatnya daya chip AI yang turut memunculkan masalah termal besar.
Ukuran 200mm SCD kurang lebih setara dengan ukuran wafer yang dipakai fab semikonduktor untuk proses-proses lama. Di situs resminya, Diamond Foundry menyatakan bahwa “single-crystal diamond has entered the wafer-scale era.” Pencapaian ini menjadi bagian dari upaya memproduksi SCD secara masif agar layak digunakan sebagai solusi pendingin semikonduktor.

Bedanya dengan Diamond Hasil Lab Lain
Yang membedakan wafer SCD 200mm Diamond Foundry dari diamond hasil laboratorium lain adalah bentuknya yang dibuat sebagai keping single-crystal berkualitas tinggi, bukan permata polikristalin. Meski bentuk pertama jauh lebih sulit diproduksi, karakter itulah yang memungkinkan diamond menjadi konduktor termal yang sangat efisien sekaligus mempertahankan sifat isolator listriknya. Efisiensi ini disebut dapat menekan hotspot, sehingga SCD menjadi solusi menjanjikan untuk pendinginan chip AI.
Dalam sebuah grafik, Diamond Foundry juga menunjukkan bahwa wafer SCD D300 kini dianggap mungkin dibuat sebelum 2030, menyamai ukuran wafer yang dipakai pada proses node terdepan. Namun perlu dicatat, sampel yang ditunjukkan perusahaan masih belum dipoles, artinya masih harus melewati sejumlah proses agar cocok bagi pembuat chip.

Baca Juga:
Perusahaan yang didirikan pada 2012 ini juga mengakui kerja para ilmuwan yang telah mengurai persoalan skala SCD sejak awal 2000-an. Menurut CEO Diamond Foundry Martin Roscheisen, pencapaian ini merupakan hasil akumulasi dari berbagai eksperimen, kegagalan, penemuan, mesin yang dibangun ulang, dan wawasan selama lebih dari satu dekade. “Ini salah satu tonggak yang dulu tampak nyaris mustahil. Ratusan engineer, ilmuwan, dan teknisi DF berkontribusi hingga kami sampai di titik ini,” ujarnya.
Roscheisen menambahkan bahwa Stefan dan Martin mengejar tujuan ini selama 25 tahun. Menurutnya, sangat sedikit contoh dalam teknologi di mana seseorang bertahan pada tantangan ilmiah yang benar-benar sulit dengan tingkat ketekunan seperti itu. “Mereka terus melangkah ketika pandangan yang berlaku umum adalah bahwa single-crystal diamond simply could not be made at this scale. Hari ini, ketekunan itu tampak sebagai D200mm single-crystal diamond pertama. Dan yang terbaik, itu membuat D300mm predictable as well,” kata Roscheisen.
Persaingan di Pendingin Diamond
Diamond Foundry bukan satu-satunya perusahaan yang melihat potensi diamond hasil laboratorium untuk pendinginan semikonduktor. Akash Systems memperoleh pendanaan CHIPS Act senilai 18,2 juta dolar AS pada 2024 untuk memproduksi Gallium Nitride yang dilebur dengan diamond sintetis, yang diklaimnya dapat menurunkan suhu hingga 20 derajat Celsius.
De Beers Group, yang dikenal lewat tambang diamond di Afrika, juga membangun material komposit diamond berlapis tembaga yang diarahkan untuk meningkatkan efisiensi pendinginan bagi AI, komputasi berperforma tinggi, dan perangkat GaN RF. Bahkan Frore Systems, yang dikenal lewat pendingin solid-state, ikut masuk ke pendingin diamond berupa pelat dingin berpendingin air yang dicampur diamond untuk GPU AI generasi berikutnya dari Nvidia.
Langkah Diamond Foundry memperkuat tren pemanfaatan diamond sintetis sebagai solusi termal, bukan sekadar material untuk keperluan medis atau perhiasan. Dengan wafer SCD 200mm yang sudah tercetak, meski belum dipoles, perusahaan menempatkan diamond sebagai kandidat serius bagi industri chip yang tengah bergulat dengan beban panas dari komputasi AI.
Bagi pelaku industri semikonduktor, capaian ini menandai titik di mana diamond mulai bergerak dari laboratorium menuju skala produksi wafer. Prediksi wafer D300 sebelum 2030 pun memberi gambaran arah pengembangan berikutnya, seiring kebutuhan pendinginan chip yang kian menuntut material dengan konduktivitas termal tinggi.
[CONTENT_AKHIR]





Komentar
Belum ada komentar.