Telset.id – Boston resmi menghentikan penggunaan kamera Flock Safety setelah laporan pada 2025 mengungkap bahwa perusahaan tersebut membagikan data ke lembaga penegak hukum eksternal, meskipun perjanjian dengan kota menyatakan fitur berbagi data seharusnya dimatikan. Keputusan ini diumumkan oleh pejabat kota Boston bersama departemen kepolisiannya, yang menyatakan tidak akan lagi mengandalkan layanan kamera Automatic License Plate Recognition (ALPR) tersebut. Langkah ini menandai babak baru dalam gelombang penolakan terhadap teknologi pengawasan berbasis plat nomor di Amerika Serikat.
Laporan yang diterbitkan pada 2025 memuat rincian tentang pilot project yang dijalankan kota Boston pada tahun yang sama. Dalam laporan tersebut, kota menemukan bahwa Flock ternyata berbagi data dengan lembaga penegak hukum eksternal. Padahal, perjanjian antara Flock dan Boston secara eksplisit menyebutkan bahwa fitur berbagi data harus dinonaktifkan, dan perusahaan telah mengonfirmasi bahwa hal itu memang sudah dilakukan. Temuan ini menjadi dasar utama keputusan penghentian penggunaan kamera Flock di kota tersebut.
Keputusan Boston ini bukan berarti kemenangan mutlak bagi para pegiat privasi. Departemen kepolisian Boston dilaporkan telah memulai uji coba dengan dua pesaing Flock. Uji coba dengan perangkat Motorola dimulai pada Februari, sementara pilot project dengan Axon dimulai pada Juni. Hal ini menunjukkan bahwa kota tersebut berpotensi hanya berpindah ke layanan ALPR yang berbeda, bukan sepenuhnya meninggalkan teknologi pengawasan plat nomor. Situasi ini menjadi perhatian tersendiri bagi mereka yang mengikuti perkembangan industri pengawasan dan keamanan digital.

Di sisi lain, para peretas telah menemukan apa saja yang sebenarnya dilacak oleh kamera Flock, dan kemampuannya jauh melampaui pembacaan plat nomor. Setelah menganalisis data terenkripsi, para peretas menemukan bahwa kamera tersebut juga mendeteksi orang dan sepeda. Kamera Flock bahkan dapat mengenali dan mengisolasi stiker bemper tertentu pada kendaraan. Fakta bahwa kamera mampu menangkap dan memantau jauh lebih banyak dari yang mungkin disadari pengguna menjadi kekhawatiran tersendiri. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, data tersebut berhasil diambil dari perangkat kamera fisik.
Artinya, siapa pun yang memiliki keterampilan peretasan memadai dapat membongkar sebuah kamera dan mengakses sebagian data yang tersimpan di dalam perangkat tersebut. Hal ini memperluas kekhawatiran publik, karena risiko tidak hanya datang dari apa yang bisa dilakukan pejabat terhadap data pengguna, tetapi juga dari potensi akses fisik oleh pihak yang tidak berwenang. Temuan ini memperkuat seruan sejumlah pihak untuk mengevaluasi ulang penggunaan kamera ALPR secara menyeluruh.
Baca Juga:
Bagaimana Seharusnya ALPR Digunakan?
Bagi banyak kalangan, jawaban atas pertanyaan apakah ada cara yang benar untuk menggunakan Flock atau kamera serupa adalah tidak. Namun, para pendukung teknologi ini berpendapat ada sejumlah langkah yang bisa diterapkan departemen kepolisian untuk meminimalkan penyalahgunaan. Membatasi berbagi data secara otomatis ke lembaga lain dan membatasi petugas yang memiliki akses menjadi titik awal yang masuk akal. Mereka juga berpendapat bahwa semua permintaan data Flock harus menyertakan nomor kasus dan petugas wajib memberikan alasan untuk setiap permintaan.
Para pendukung berargumen bahwa langkah ini mengurangi kemungkinan pihak yang tidak bertanggung jawab mengintip data Flock, memastikan bahwa akses informasi ALPR memiliki tujuan yang jelas, serta menciptakan mekanisme pemeriksaan dan keseimbangan untuk mencegah penyalahgunaan wewenang aparat penegak hukum. Sejumlah lembaga kini menerapkan metode tersebut. Namun, sebagian praktik ini justru terganggu oleh laporan terbaru yang mengungkap lemahnya pengawasan.

Rekaman yang diperoleh Electronic Frontier Foundation menunjukkan bahwa banyak petugas mengisi alasan akses data dengan kata-kata seperti “LMAO,” “idk lol,” “TBD,” “Sexy,” dan frasa serupa. Sebagian lainnya bahkan hanya menekan tombol keyboard secara acak untuk mengisi formulir dengan huruf sembarangan. EFF menghubungi sejumlah departemen kepolisian, dan tampaknya sebagian petugas telah ditegur, sementara yang lain mengklaim kebijakan departemen telah berubah sejak alasan tidak masuk akal tersebut diberikan.
Sebagai upaya mempermudah pengisian catatan namun tetap menjaga transparansi data, Flock memperkenalkan opsi pilihan yang sudah disiapkan seperti “Traffic infraction.” Namun, sebagian pihak menilai langkah ini justru merupakan kemunduran, karena petugas tidak lagi perlu mengartikulasikan alasan mereka mengakses data ALPR. Situasi ini diperparah dengan adanya opsi generik “Other” yang tersedia dalam formulir tersebut. Kemudahan pengisian formulir memang meningkat, tetapi kualitas justifikasi akses data justru berpotensi menurun.
Bahkan jika formulir diisi dengan benar atau tampak benar, hal itu tidak akan mencegah pelanggaran privasi. Formulir tersebut hanya memungkinkan seseorang mengaudit data setelah kejadian untuk menemukan penyalahgunaan jika ditelusuri lebih lanjut. Karena itu, banyak pihak menilai perlindungan terbaik, selain mencabut kamera ALPR sepenuhnya, adalah mewajibkan surat perintah untuk setiap pencarian data. Seruan ini menguat seiring terungkapnya bahwa kamera ALPR dapat melihat lebih banyak dari yang diperkirakan, dan sebagian data di dalam kamera bisa diakses peretas yang tahu apa yang mereka cari.

Kasus Boston ini memperlihatkan bahwa persoalan kamera Flock bukan sekadar soal satu kota atau satu perusahaan. Ketika data yang seharusnya tidak dibagikan ternyata dibagikan, dan ketika kamera mampu menangkap informasi yang jauh melampaui plat nomor, kepercayaan publik terhadap teknologi pengawasan menjadi taruhannya. Penghentian penggunaan di Boston, diikuti dengan uji coba Motorola dan Axon, menandakan bahwa kota tersebut masih mencari format pengawasan yang dianggap dapat diterima.
Bagi pegiat privasi, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa pengawasan berbasis ALPR memiliki risiko berlapis. Risiko pertama datang dari kebijakan berbagi data yang bisa menyimpang dari kesepakatan. Risiko kedua berasal dari kemampuan kamera yang ternyata lebih luas dari yang diumumkan. Risiko ketiga adalah potensi akses fisik terhadap perangkat yang menyimpan data, sebagaimana ditemukan para peretas. Ketiga lapisan risiko ini saling memperkuat dan membuat pertanyaan tentang tata kelola data pengawasan semakin mendesak.
Sejumlah kota lain di Amerika Serikat juga dilaporkan tengah mengevaluasi penggunaan kamera Flock. Beberapa di antaranya bahkan mengambil langkah ekstrem seperti menutupi kamera dengan kantong sampah, sementara kota lain sempat mencabut kamera sebelum akhirnya memasangnya kembali. Dinamika ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang keseimbangan antara keamanan publik dan privasi masih jauh dari selesai. Flock sendiri menghadapi tekanan dari berbagai arah, mulai dari laporan audit, temuan peretas, hingga kebijakan kota yang berubah-ubah.
Hingga saat ini, belum ada informasi resmi mengenai langkah perbaikan yang akan diambil Flock menyusul temuan di Boston. Yang jelas, penghentian penggunaan kamera Flock oleh Boston menjadi sinyal bahwa kota-kota semakin berhati-hati dalam memilih mitra teknologi pengawasan. Bagi masyarakat umum, perkembangan ini relevan karena data yang dikumpulkan kamera ALPR menyangkut pergerakan kendaraan sehari-hari. Bagi pelaku industri, kasus ini menjadi studi tentang bagaimana kesepakatan data yang dilanggar dapat berujung pada kehilangan kepercayaan dan kontrak.
Persoalan Flock juga bersinggungan dengan isu keamanan siber yang lebih luas. Insiden peretasan data dari kamera fisik menunjukkan bahwa perangkat keras pengawasan pun memiliki permukaan serangan yang perlu diperhitungkan. Seiring meningkatnya jumlah perangkat yang terhubung ke jaringan, risiko semacam ini menjadi bagian tak terpisahkan dari diskusi tentang infrastruktur pengawasan modern. Pembahasan mengenai perangkat cyber-physical dan serangan siber ke router memperlihatkan bahwa lapisan perangkat dan jaringan sama-sama rentan.
Dengan penghentian di Boston, uji coba Motorola dan Axon, serta temuan peretas soal kemampuan kamera, Flock berada di tengah sorotan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada bagaimana perusahaan menanggapi temuan tersebut dan bagaimana kota-kota lain menyikapi laporan serupa. Yang pasti, kasus ini menegaskan bahwa transparansi dan kepatuhan terhadap kesepakatan data menjadi faktor penentu dalam adopsi teknologi pengawasan.
[ META_DESCRIPTION]
Boston menghentikan penggunaan kamera Flock Safety setelah data plat nomor terbukti dibagikan diam-diam, sementara peretas temukan kemampuan pelacakan lebih luas.





Komentar
Belum ada komentar.