Telset.id – Kekhawatiran lulusan perguruan tinggi terhadap ancaman penggantian tenaga kerja oleh teknologi AI meningkat tajam dalam satu tahun terakhir. Survei terbaru Gallup Work and Education mencatat lonjakan signifikan jumlah sarjana yang takut pekerjaan mereka menjadi usang akibat otomatisasi dan kecerdasan buatan.
Angka tersebut naik dari 25 persen menjadi 29 persen hanya dalam kurun satu tahun. Peningkatan ini menjadi sinyal bahwa ketakutan terhadap disrupsi tenaga kerja akibat AI kini merambah kalangan pekerja terdidik, bukan sekadar kekhawatiran umum masyarakat awam.
Gallup sendiri telah mendeteksi tren kenaikan kekhawatiran terhadap penggantian pekerjaan oleh AI sejak 2023. Saat itu, kekhawatiran di kalangan lulusan perguruan tinggi melonjak tajam, dari 8 persen pada 2021 menjadi 20 persen pada 2023, tepat ketika alat kecerdasan buatan generatif seperti ChatGPT mulai muncul dan diadopsi luas.
Yang lebih mengkhawatirkan, menurut catatan Gallup, kekhawatiran itu justru paling tinggi di kalangan mereka yang sebentar lagi akan memasuki dunia kerja. Sementara pekerja berusia di atas 50 tahun relatif stabil dalam hal kekhawatiran ini, kecemasan di kalangan pekerja berusia 18 hingga 44 tahun meningkat tajam, dengan lebih dari sepertiganya memiliki kekhawatiran serupa.

Ketakutan ini juga tercermin dalam survei Pew Research yang dirilis awal tahun ini. Lebih dari separuh responden berusia di bawah 30 tahun mengaku lebih khawatir dibanding antusias terhadap AI. Angka tersebut tidak melonjak drastis dalam beberapa tahun terakhir, namun jika dibandingkan dengan jumlah orang yang menyatakan “lebih antusias dibanding khawatir” terhadap AI, angkanya justru menyusut cepat, turun dari 11 persen pada 2024 menjadi 9 persen pada 2026.
Kelompok menengah, yakni mereka yang menyeimbangkan kekhawatiran dengan antusiasme, juga menyusut sedikit menjadi 37 persen dari total responden survei tersebut. Survei yang sama juga menemukan bahwa 71 persen warga Amerika Serikat meyakini AI akan menyebabkan berkurangnya lapangan kerja dalam 20 tahun ke depan.
Ketakutan Melampaui Realita di Lapangan
Meski demikian, laporan Gallup mencatat bahwa ketakutan tersebut tampak masih melampaui peristiwa nyata di lapangan. Orang-orang tidak serta-merta kehilangan pekerjaan mereka karena AI, setidaknya belum pada tahap ini. Namun sebuah laporan terbaru dari The New York Times menyoroti adanya perubahan-perubahan lain yang lebih halus namun nyata.
Pada peran-peran pekerjaan di mana AI membantu mengotomatisasi sebagian tugas, pekerja kehilangan daya tawar untuk menuntut kenaikan gaji. Dengan kata lain, terlepas dari apakah Anda memberi tahu atasan atau tidak, atasan Anda mengetahui bahwa Anda atau rekan-rekan di departemen Anda menggunakan atau dapat menggunakan AI, dan bertindak berdasarkan pengetahuan itu. Anda belum sepenuhnya tergantikan, tetapi juga tidak lagi tak tergantikan berkat AI.
Selain itu, meskipun orang tidak serta-merta kehilangan pekerjaan, perekrutan untuk sejumlah peran pekerja pengetahuan (knowledge worker) mungkin mulai melambat. Dunia yang dikhawatirkan banyak orang, yakni dunia di mana AI secara langsung mengambil alih pekerjaan Anda, mungkin agak hiperbolik. Namun AI sudah menjadi rekan kerja di banyak tempat, dan ia menjalankan tugasnya dengan biaya yang jauh lebih murah serta sering kali dalam waktu yang lebih singkat, jika tidak menghitung proses pemeriksaan ulang yang seharusnya dilakukan manusia ketika meninjau hasil kerja AI.
Fenomena ini sejalan dengan temuan riset yang menunjukkan bahwa kehadiran AI dalam keseharian justru dapat memengaruhi cara pengguna memproses informasi. Sebuah studi MIT soal chatbot bahkan menemukan bahwa pengguna AI makin sulit mendeteksi hoaks, memperkuat argumen bahwa literasi digital menjadi kian krusial di tengah adopsi AI yang masif.
Baca Juga:
Di sisi lain, narasi bahwa AI mungkin mengakhiri umat manusia dalam satu dekade telah mendominasi wacana publik. Dominasi narasi tersebut membuat kekhawatiran AI yang lebih membumi dan mendesak, seperti soal pekerjaan, cenderung terabaikan. Penulis dan jurnalis teknologi Lance Ulanoff menegaskan bahwa dirinya bukan penganut pandangan kiamat AI (AI doomer) maupun pendukung fanatik (booster). Ia meyakini AI generatif memiliki potensi besar, terutama untuk membantu menyelesaikan persoalan tersulit, seperti kanker dan mungkin sumber daya serta perubahan iklim.
Namun ia juga menyebut dirinya sebagai seorang realis, dan menyadari bahwa pengembangan serta pertumbuhan AI jelas melampaui kemampuan manusia untuk mengelolanya dengan tepat. Menurutnya, seharusnya tidak pernah ada situasi di mana kita tidak mengetahui bagaimana atau mengapa sebuah AI melakukan sesuatu. Insiden Hugging Face disebutnya sebagai panggilan untuk bertindak.
Ketika regulasi tidak tersedia, dan menurutnya Gedung Putih akan memblokirnya, maka pengaturan mandiri (self-regulation) dengan pengawasan pihak ketiga menjadi keharusan. Kendati demikian, realitasnya pengembangan AI tidak mungkin melambat atau berhenti. Konsekuensinya akan terus berdatangan, dan orang-orang memiliki perasaan terhadap hal tersebut.

AI dan Wajah Dunia Kerja Masa Depan
Perubahan yang dibawa AI tidak hanya menyentuh soal ada atau tidaknya pekerjaan, tetapi juga mengubah seluruh lanskap dunia kerja. AI disebut telah mengubah kompleksitas pekerjaan secara menyeluruh, yang berarti kekhawatiran kaum muda memang beralasan. Sebab, sulit untuk menggambarkan seperti apa tempat kerja yang akan mereka masuki dan bagaimana hari-hari kerja mereka bersama Gemini, ChatGPT, dan Claude akan berjalan.
Pertanyaan apakah AI pada akhirnya akan menghabisi manusia pada 2036 memang valid untuk diperdebatkan. Namun ada perubahan real-time yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang bisa berdampak paling langsung. Persoalannya, apakah kita sedang menangani hal tersebut dan apakah ada pihak yang memikirkan cara mempersiapkan serta menenangkan generasi pekerja berikutnya.
Perlu dicatat bahwa kekhawatiran terhadap AI bukan hanya soal pekerjaan. Survei Pew Research sebelumnya menemukan bahwa lebih dari separuh warga Amerika Serikat khawatir terhadap AI dalam kehidupan sehari-hari, sementara para pemimpin teknologi dan pakar AI berupaya keras menenangkan kekhawatiran nomor satu tersebut. Kekhawatiran ini menjadi latar penting mengapa isu penggantian tenaga kerja oleh AI semakin mendapatkan perhatian publik.
Di tengah derasnya arus AI, kemampuan beradaptasi dan memahami teknologi menjadi kunci. Sejumlah inovasi pendidikan pun bermunculan untuk memperkenalkan teknologi kepada generasi muda, termasuk kehadiran robot pendidikan terjangkau yang menyasar pembelajaran teknologi sejak dini.
Meski demikian, pertanyaan besar soal bagaimana AI akan membentuk masa depan pekerjaan masih belum terjawab sepenuhnya. Apa yang jelas, menurut data Gallup dan Pew Research, kekhawatiran publik terhadap dampak AI pada lapangan kerja terus meningkat, terutama di kalangan generasi muda yang akan segera memasuki dunia kerja. Perubahan ini berlangsung nyata, dan bagaimana dunia mempersiapkan generasi pekerja berikutnya menjadi persoalan yang menuntut perhatian serius.

Seiring teknologi terus berkembang, isu seputar adopsi AI juga menyentuh berbagai sektor lain, mulai dari perangkat konsumen hingga kebijakan industri. Bocoran soal warna iPhone terbaru misalnya, menunjukkan bagaimana teknologi konsumen terus berevolusi di tengah gelombang inovasi AI yang kian masif. Dinamika ini menegaskan bahwa dampak AI tidak berdiri sendiri, melainkan menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan digital masyarakat modern.





Komentar
Belum ada komentar.