📑 Daftar Isi

Ilustrasi Bitcoin dengan latar belakang gelap dan elemen digital yang melambangkan aset kripto

Hacker Klaim White Hat Curi Rp5 Triliun dari Dompet Bitcoin Liquid

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Liquid Network kehilangan 4.000 BTC (~USD 320 juta) dari dompet federasi
  • Para hacker mengaku sebagai "white hat" dan berjanji mengembalikan dana setelah bug diperbaiki
  • Liquid telah menangguhkan transaksi dan memindahkan komunikasi ke saluran terenkripsi
  • Eksploitasi terjadi melalui Kunci Otorisasi Peg-Out (PAK) milik SideSwap
  • Insiden terjadi di tengah maraknya serangan siber ke infrastruktur kripto senilai USD 17 miliar

Telset.id – Jaringan Liquid Network kehilangan sekitar 4.000 BTC atau setara USD 320 juta (sekitar Rp5 triliun) dari dompet federasi mereka. Peristiwa ini menjadi salah satu insiden pencurian aset kripto terbesar yang melibatkan klaim kontroversial dari para pelaku yang menyebut diri mereka sebagai “white-hat hackers” atau peretas beretika baik.

Liquid, sebuah sidechain Bitcoin yang dikembangkan oleh perusahaan infrastruktur blockchain Blockstream, mengonfirmasi penarikan dana tersebut melalui unggahan di platform X pada 6 September. Menariknya, unggahan itu merujuk para pelaku sebagai “purported white-hat hackers” yang mengaku sebagai pihak baik, tetapi tindakan mereka tetap merugikan pengguna dan platform.

Para peretas menyematkan pesan dalam transaksi Bitcoin yang mengidentifikasi diri mereka sebagai “whitehats”. Mereka juga meminta audiensi dengan tim Liquid melalui pesan on-chain, dengan janji akan mengembalikan uang setelah kerentanan yang memungkinkan eksploitasi diperbaiki.

“Please fix the bug first,” demikian bunyi pesan on-chain tersebut. “The chain is under risk at latest commit right now. Make sure every node is patched. Then we will transfer the money back safely after confirming the fix.”

Tim Liquid merespons dengan memberikan kontak tim keamanan mereka melalui jalur on-chain yang sama. Komunikasi selanjutnya dilaporkan telah dipindahkan ke saluran terenkripsi. Sementara itu, platform telah menghentikan sementara transaksi dan memperingatkan adanya gangguan layanan saat anggota federasi bekerja untuk memulihkan layanan.

Mekanisme Serangan yang Tidak Biasa

Liquid adalah sidechain federasi yang diluncurkan pada 2018, dirancang untuk memindahkan Bitcoin lebih cepat dan lebih privat dibandingkan rantai utama. Pengguna mengunci BTC di Bitcoin dan menerima token setara, L-BTC, di Liquid, yang memproses blok kira-kira setiap satu menit dan finalisasi dalam waktu sekitar dua menit.

Alih-alih mengandalkan penambang, jaringan ini diamankan oleh federasi yang terdiri dari lebih dari 80 bursa, broker, dan perusahaan keuangan lainnya. Penandatanganan blok dan dompet multisig yang menyimpan Bitcoin yang di-peg-in ditangani oleh 15 fungsionaris bergilir yang memerlukan 11 tanda tangan untuk memindahkan dana.

Mekanisme di balik eksploitasi ini juga tidak biasa karena tidak ada yang tampak dicuri secara konvensional. Menurut Liquid, koin tersebut keluar melalui Kunci Otorisasi Peg-Out (PAK) milik SideSwap, sebuah bursa terdesentralisasi yang dibangun di atas sidechain tersebut. Namun, Liquid menegaskan bahwa kunci tersebut tidak disusupi, begitu pula kunci-kunci lainnya.

SideSwap memberikan laporan yang sejalan, menyatakan seorang pelanggan mengirim 4.000 L-BTC ke layanan peg-out mereka pada pukul 14:05 UTC. Layanan tersebut memproses pesanan seperti biasa, dan Liquid Federation membayar 3.996 BTC ke alamat Bitcoin pelanggan dua puluh tiga menit kemudian. Menurut SideSwap, sistem mereka tidak memiliki cara untuk membedakan koin tersebut dari L-BTC lainnya.

Insiden ini berbeda dengan kasus peretasan konvensional. Sebagai perbandingan, pada Januari lalu, platform berbasis Solana, Step Finance, kehilangan sekitar USD 40 juta setelah penyerang mengkompromikan perangkat milik tim eksekutif mereka untuk mendapatkan akses ke kunci dompet treasury.

Insiden Liquid ini terjadi di tengah rentetan peristiwa pahit bagi infrastruktur kripto. Baru-baru ini, platform trading Drift menangguhkan deposit dan penarikan setelah dugaan peretasan senilai USD 270 juta pada April. Sepanjang 2025, sekitar USD 17 miliar Bitcoin dilaporkan dicuri, didorong sebagian besar oleh skema peniruan identitas dan penipuan berbantuan AI.

Pola serangan yang semakin canggih ini menunjukkan bahwa infrastruktur kripto menghadapi tantangan keamanan yang kompleks. Fire Ant yang memperluas serangan ke perangkat jaringan, hingga riset tentang perangkat cyber-physical yang rentan, semuanya menjadi pengingat bahwa ancaman siber terus berevolusi.

Yang menjadi pertanyaan besar adalah apakah dana senilai USD 320 juta tersebut akan benar-benar dikembalikan seperti yang dijanjikan para peretas. Hingga berita ini ditulis, belum ada konfirmasi resmi mengenai pengembalian dana, dan status layanan Liquid masih dalam proses pemulihan oleh anggota federasi.

Insiden ini juga menyoroti dilema etika dalam dunia keamanan siber. Klaim “white hat” dari para pelaku tidak serta-merta menghapus dampak kerugian yang dialami pengguna dan platform. Terlepas dari niat baik yang diklaim, tindakan mengambil dana tanpa izin tetap merupakan pelanggaran serius yang mengguncang kepercayaan terhadap ekosistem kripto.

Bagi pengguna Liquid dan ekosistem kripto secara luas, insiden ini menjadi pelajaran penting tentang risiko yang melekat pada platform terpusat dan semi-terpusat. Meskipun Liquid menggunakan model federasi dengan banyak penjaga, satu titik lemah dalam proses peg-out ternyata cukup untuk memicu kerugian besar.

Langkah selanjutnya yang diambil Liquid dan SideSwap dalam menangani insiden ini akan menjadi tolok ukur bagi industri kripto dalam merespons eksploitasi yang melibatkan klaim etis dari para peretas. Penguatan protokol keamanan dan transparansi proses investigasi menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan pengguna.

Peristiwa ini juga menambah daftar panjang insiden keamanan yang harus diwaspadai oleh para pemegang aset kripto. Dengan nilai aset yang terus meningkat, insentif bagi para penyerang untuk mengeksploitasi kerentanan infrastruktur juga semakin besar, baik yang mengaku sebagai peretas etis maupun tidak.

Sementara industri menunggu perkembangan selanjutnya, satu hal yang pasti: keamanan infrastruktur kripto masih menjadi pekerjaan rumah besar yang belum tuntas. Insiden Liquid menjadi pengingat bahwa bahkan platform dengan model keamanan federasi sekalipun tidak kebal terhadap eksploitasi.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.