📑 Daftar Isi

Salesforce CEO Marc Benioff berbicara di panggung Dreamforce 2026

Benioff Bantah SaaSpocalypse, Salesforce Pamer AIforce di Dreamforce 2026

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • CEO Salesforce Marc Benioff sebut SaaSpocalypse "crazy nonsense" di Dreamforce 2026
  • Salesforce perkenalkan AIforce, antarmuka baru berbasis agen AI
  • CEO Nvidia Jensen Huang tegaskan akhir software adalah omong kosong
  • AI diposisikan sebagai lapisan agentic di atas software, bukan pengganti
  • Pembahasan berlangsung di sesi keynote Dreamforce 2026

Telset.id – CEO Salesforce Marc Benioff membantah laporan yang menyebut AI akan memicu “SaaSpocalypse” atau kiamat industri software. Dalam pidato pembuka Dreamforce 2026, Benioff menegaskan bahwa fenomena tersebut adalah “crazy nonsense” dan justru memprediksi lahirnya era baru software dengan AI sebagai penggerak utama.

Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa arah industri software tidak menuju kepunahan, melainkan pergeseran cara kerja. Bagi pelaku bisnis dan pengguna platform enterprise, narasi ini menentukan bagaimana mereka menyiapkan strategi teknologi dalam beberapa tahun ke depan.

Benioff mengakui enam bulan terakhir menjadi periode yang penuh gejolak. “Hasn’t it been wild?” ujarnya di hadapan peserta Dreamforce. Namun ia menegaskan bahwa SaaSpocalypse bukanlah soal berakhirnya software, melainkan berakhirnya software yang membuat manusia mengerjakan semua pekerjaan.

AIforce dan Pergeseran Antarmuka Software

Dalam pidatonya, Benioff memperkenalkan AIforce sebagai wujud baru antarmuka software yang mencerminkan kebutuhan era AI. Ia menuturkan bahwa selama beberapa dekade terakhir pengguna telah beralih dari Command Line ke GUI, lalu dari web ke mobile. Kini, seiring peran AI yang semakin besar di dunia kerja, dibutuhkan jenis antarmuka baru.

AIforce dirancang untuk memungkinkan agen di mana pun melakukan penalaran dan mengambil tindakan di seluruh data, alur kerja, serta logika di dalam Salesforce. Langkah ini disebut akan membuka cara kerja baru bagi pelanggan di berbagai wilayah.

Pengembangan antarmuka berbasis agen ini sejalan dengan sejumlah inisiatif AI Salesforce yang telah diumumkan sebelumnya, termasuk model AI reasoning yang menjadi bagian dari rangkaian Dreamforce 2026.

Benioff juga menyinggung langkah kolaborasi yang memperkuat ekosistem AI perusahaan. Sebelumnya, Claudeforce menjadi salah satu hasil kerja sama strategis Salesforce di ranah AI enterprise.

Salesforce CEO Marc Benioff on stage

Jensen Huang: Akhir Software Itu Nonsense

Benioff tidak sendirian. Di sesi keynote yang sama, ia mengundang CEO Nvidia Jensen Huang ke atas panggung. Keduanya membahas Koa CRM yang dikembangkan Salesforce bersama Nvidia, namun diskusi kemudian melebar ke industri teknologi secara lebih luas.

“Don’t give up on the technology,” kata Huang. Ia mengingatkan bahwa dirinya adalah CEO pertama dari luar industri software yang menyatakan bahwa akhir software adalah omong kosong.

Menurut Huang, AI akan menjadi lapisan baru di atas software. Lapisan agentic ini, ujarnya, akan membuat software menjadi jauh lebih baik. Pandangan tersebut memperkuat posisi bahwa AI berperan sebagai penguat, bukan pengganti, aplikasi yang sudah ada.

Diskusi keduanya berlangsung cukup dinamis. Alih-alih duduk, Benioff dan Huang memilih berjalan mengelilingi teater sambil membahas arah industri teknologi secara luas.

Dreamforce 2026

Isu serupa juga muncul dalam agenda Dreamforce 2026 lainnya. Sejumlah pembicara dari perusahaan teknologi besar membahas dampak AI terhadap model bisnis software, termasuk melalui langkah akuisisi yang tengah dipertimbangkan Salesforce.

Sejumlah pengamat industri menyoroti bahwa perdebatan soal SaaSpocalypse tidak hanya menyangkut teknologi, tetapi juga model pendapatan penyedia software. Pernyataan Benioff dan Huang menjadi penanda bahwa narasi kiamat software tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi pasar saat ini.

A female office worker in front of a computer, typing on a keyboard and smiling

Bagi pengguna akhir, arah ini berarti software enterprise akan semakin banyak mengandalkan agen AI untuk menjalankan tugas rutin. Sementara bagi pelaku bisnis, adopsi antarmuka baru seperti AIforce menjadi pertimbangan dalam menyusun strategi operasional dan investasi teknologi.

Pesan utama dari Dreamforce 2026 cukup jelas: yang berubah bukan keberadaan software, melainkan cara manusia dan AI berinteraksi di dalamnya. Pendekatan agentic yang diusung Salesforce dan Nvidia menjadi salah satu jawaban atas pergeseran tersebut.

Hingga penutupan sesi, Benioff dan Huang tidak menyampaikan prediksi kapan antarmuka agentic akan menjadi standar industri. Yang ditegaskan keduanya adalah bahwa software tetap relevan, dengan AI sebagai lapisan yang memperkuat fungsinya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.