📑 Daftar Isi

Ilustrasi data center bertenaga nuklir dalam pembahasan kerja sama AS dan Rusia

AS dan Rusia Bahas Data Center Bertenaga Nuklir di Tengah Sanksi

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • AS dan Rusia membahas proyek data center bertenaga reaktor nuklir kecil usai kesepakatan diesel
  • Diungkap Kirill Dmitriev di konferensi Russian Energy Week Moskow
  • Belum ada rincian lokasi, pendanaan, tenggat waktu, dan perusahaan
  • Sanksi AS dan Graham Act disebut jadi penghalang utama
  • Rusia telah operasikan dua reaktor kecil 35 MW sejak 2020
  • Putin berencana bangun 38 unit pembangkit nuklir dalam dua dekade

Telset.id – Amerika Serikat dan Rusia tengah membahas sejumlah proyek bersama, termasuk pembangunan data center yang ditenagai reaktor nuklir kecil, setelah tercapainya kesepakatan pasokan diesel baru-baru ini. Pembahasan ini menandai perkembangan baru dalam hubungan ekonomi kedua negara yang selama ini terhambat sanksi.

Kabar tersebut disampaikan Kirill Dmitriev, utusan investasi Presiden Vladimir Putin, pada Jumat di konferensi Russian Energy Week di Moskow. Dmitriev memimpin Russian Direct Investment Fund (RDIF) dan selama ini mendorong kesepakatan di sektor mineral serta energi. Ia juga terlibat dalam negosiasi perdamaian.

Meski demikian, belum ada rincian mengenai lokasi, pendanaan, tenggat waktu, maupun perusahaan yang terlibat dalam rencana data center bertenaga nuklir tersebut. Dmitriev hanya menyebut bahwa inisiatif lanjutan diperkirakan akan diumumkan dalam waktu dekat.

Sanksi Masih Jadi Penghalang

Dmitriev menegaskan bahwa sanksi Amerika Serikat masih menjadi penghalang serius bagi kerja sama kedua pemerintah. Ia menyebut Graham Act, yang ditandatangani Trump pada September, sebagai undang-undang yang “salah arah”. Regulasi itu bertujuan memangkas pendapatan Moskow dari penjualan energi melalui tarif dan penalti.

Kendati begitu, Dmitriev menyatakan kedua pemerintah tetap mempertimbangkan bentuk kerja sama ekonomi lain. Menurutnya, lapisan sanksi yang bertumpuk membuat semua pihak kebingungan untuk mencari jalan keluar. Ia juga mengklaim bahwa sesi diskusi untuk mencabut sanksi tersebut sudah berjalan dan menjadi bagian dari upaya yang sedang dikerjakan Amerika Serikat.

Pernyataan ini muncul di tengah tren pengembangan reaktor modular kecil untuk kebutuhan pusat data global. Sebelumnya, otoritas terkait telah menyetujui proyek energi AS dan sejumlah inisiatif nuklir lain untuk mendukung kapasitas komputasi.

Kesepakatan Diesel Jadi Titik Awal

Pembicaraan proyek bersama ini berangkat dari pengumuman Trump soal kesepakatan diesel yang akan membawa bahan bakar Rusia ke pembeli Amerika dan global, serta menurunkan harga sebelum pemilihan midterm November. Kesepakatan itu mensyaratkan pencabutan sejumlah penalti yang sebelumnya dijatuhkan Trump terhadap minyak mentah Rusia.

Langkah tersebut mendapat kecaman tajam dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy. Di sisi lain, Kementerian Keuangan Washington meminta dana sovereign Rusia membantu menyelesaikan persoalan pembayaran rumit terkait kesepakatan diesel. Dmitriev menyatakan RDIF akan memastikan pembayaran berjalan efisien, meski ia tidak menyebut angka nilai kesepakatan tersebut.

Kremlin sendiri mengeluhkan bahwa Washington menjadikan setiap kesepakatan baru bergantung pada perjanjian damai untuk Ukraina, yang hingga kini belum tercapai. Meski Zelenskiy menolak kesepakatan diesel, Washington disebut fokus melanjutkan kesepakatan itu dengan meninggalkan pendekatan klausul Ukraina.

“Esnya sebenarnya mulai mencair. Kami efektif menjalankan proyek dengan Amerika Serikat saat ini juga,” ujar Dmitriev. Ia menambahkan bahwa kerja sama Rusia dengan Washington akan berlanjut hingga “operasi militer khusus” di Ukraina berakhir.

Dalam konteks hubungan teknologi kedua negara, dinamika ini juga menarik untuk dicermati. Rusia sebelumnya sempat menjadi sorotan lewat langkah celah keamanan Chromium yang memanfaatkan karakter Cyrillic, menunjukkan kompleksnya interaksi teknologi lintas negara.

Rusia disebut memiliki basis yang memadai untuk reaktor nuklir kecil. Negara transkontinental itu telah mengoperasikan dua reaktor kecil berkapasitas 35 MW yang diresmikan pada 2020. Presiden Vladimir Putin juga menyatakan Rusia berencana membangun 38 unit pembangkit nuklir dalam dua dekade untuk memperluas kapasitas komputasi yang dibutuhkan kecerdasan artifisial.

Dengan reaktor yang sudah berjalan dan desain yang tengah dikembangkan, Rusia membawa teknologi ke meja perundingan. Pertanyaan terbuka yang tersisa adalah proyek mana yang akan dipilih kedua belah pihak.

[IMAGE: https://cdn.mos.cms.futurecdn.net/p8hzr7yz6aq7Us85TDhfEn.png | aligncenter | The United States and Russia are discussing collaboration on several projects]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.