📑 Daftar Isi

Router TP-Link Archer dengan logo Wi-Fi 8 sebagai simbol produksi router TP-Link di AS

TP-Link Pindahkan Produksi Router ke AS demi Hindari Larangan FCC

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • TP-Link teken letter of intent dengan Key Tronic untuk produksi router di AS
  • Produksi berpotensi di pabrik Mississippi tahun depan, menunggu persetujuan legislatif
  • Larangan FCC berlaku 23 Maret, menyasar router baru buatan luar negeri
  • Komponen domestik terbatas, pedoman FCC soal porsi produksi masih ambigu
  • TP-Link belum dapat waiver, sementara Netgear, Asus, Amazon sudah
  • Harga router berpotensi naik, Archer terbaru pre-order CAD 999 di Kanada

Telset.id – TP-Link resmi menandatangani letter of intent dengan Key Tronic yang berbasis di Spokane untuk memindahkan produksi router ke Amerika Serikat, langkah yang diambil setelah Federal Communications Commission (FCC) melarang router baru buatan luar negeri. Kesepakatan ini membuka peluang produksi router TP-Link di sebuah pabrik di Mississippi, dengan target mulai beroperasi pada tahun depan, tentunya masih menunggu persetujuan legislatif.

Langkah TP-Link memindahkan produksi router ke Amerika Serikat ini menjadi respons langsung terhadap kebijakan FCC yang secara resmi berlaku pada 23 Maret tahun ini. Larangan tersebut menyasar router baru yang diproduksi di luar Amerika Serikat, termasuk produk dari TP-Link, salah satu produsen router Wi-Fi paling populer saat ini. Keputusan perusahaan untuk merelokasi produksi ke AS menjadi sinyal jelas bahwa tekanan regulasi telah mengubah peta manufaktur perangkat jaringan.

CEO TP-Link Systems Inc., Jeffrey Chao, menyatakan bahwa kesepakatan dengan Key Tronic merupakan bukti komitmen perusahaan untuk memperluas manufaktur canggih di dalam negeri. “LOI dengan Key Tronic ini menunjukkan komitmen kuat kami untuk memperluas manufaktur canggih domestik, dan menjadikan Amerika sebagai basis kami dalam menghadirkan solusi konektivitas yang aman dan andal bagi rumah tangga dan bisnis di seluruh dunia,” ujar Jeffrey Chao dalam sebuah rilis pers.

Meski demikian, produksi di dalam negeri tidak serta-merta menjamin TP-Link bisa menjual router buatannya di Amerika Serikat. Pasalnya, aturan FCC masih ambigu soal seberapa besar porsi produksi yang harus dilakukan di AS. Pemerintah AS dan FCC menilai produksi sebagai “setiap tahap utama dari proses pembuatan perangkat, termasuk manufaktur, perakitan, desain, dan pengembangan.” Namun, belum jelas apakah yang dimaksud adalah 25% atau 15% dari produksi yang harus dilakukan di Amerika Serikat.

FCC logo on computer screen with magnifying glass

Jalan Panjang Menuju Produksi Lokal

Sejarah larangan ini bermula sejak setidaknya Desember 2024, ketika The Wall Street Journal melaporkan bahwa larangan tersebut akan datang pada tahun kalender berikutnya. Kekhawatiran pemerintah AS berpusat pada hubungan antara TP-Link yang berbasis di Shenzhen dengan pemerintah China. Saat itu, pejabat yang tidak disebutkan namanya mengklaim bahwa hukum China dapat mewajibkan TP-Link untuk mematuhi permintaan badan intelijen China, yang berpotensi menggunakan router TP-Link untuk mendorong pembaruan perangkat lunak berbahaya ke perangkat yang berbasis di AS.

Larangan FCC akhirnya resmi berlaku pada 23 Maret tahun ini. Router yang telah disetujui sebelum tanggal tersebut masih dapat dijual oleh peritel yang memiliki stok. Pembaruan perangkat lunak disetujui hingga 2027, tetapi setelah itu semuanya harus disetujui atau dikecualikan. TP-Link sendiri menyatakan dukungannya terhadap upaya memperkuat standar keamanan dan aktif mengupayakan Conditional Approval untuk produk baru serta memajukan rencana manufaktur berbasis di AS.

Kendati router bisa diproduksi di Amerika Serikat, bukan berarti seluruh atau sebagian komponennya bersumber dari dalam negeri. Steve Kovsky, corporate affairs officer TP-Link, mengungkapkan bahwa banyak komponen yang tidak tersedia dari sumber domestik. “Banyak [komponen] yang memang tidak tersedia dari sumber domestik, dan ini bukan masalah TP-Link,” kata Kovsky kepada PC Mag. Ia juga menyebut pedoman FCC belum sepenuhnya jelas.

Sambil menunggu kejelasan, TP-Link telah mengajukan pengecualian sementara kepada FCC yang sudah diberikan kepada banyak produsen router pesaing, termasuk Netgear, Asus, dan Amazon. Namun, hingga kini TP-Link belum menerima waiver tersebut. Situasi ini menempatkan TP-Link pada posisi yang kurang menguntungkan dibandingkan para kompetitornya.

A sign showing the Wi-Fi 8 logo

Dampak pada Harga dan Ketersediaan

Untuk saat ini, jika peritel masih memiliki stok router TP-Link, konsumen masih dapat membelinya dan perangkat akan mendapatkan dukungan perangkat lunak setidaknya selama satu tahun ke depan. Jika kemitraan dengan Key Tronic disetujui dan TP-Link mampu mempercepat produksi, router Wi-Fi 8 pertama perusahaan bisa segera hadir di rak toko. Namun, pertanyaan besar yang muncul adalah apakah reshoring produksi ke AS akan menaikkan harga.

Saat ini, router TP-Link Archer terbaru sudah tersedia untuk pre-order di Kanada dengan harga CAD 999, atau sekitar USD 705. Produk yang dibuat di AS cenderung membawa harga premium. Seperti yang dikatakan Steve Kovsky kepada PC Mag, “Ini bisa berarti kualitas lebih tinggi, tetapi juga bisa berarti harga yang lebih tinggi.” Konsumen pun tampaknya perlu bersiap dengan kemungkinan harga router yang lebih mahal, sejalan dengan tren perangkat teknologi lain yang harganya melonjak dalam dua tahun terakhir.

Langkah TP-Link ini juga mencerminkan dinamika yang lebih luas di industri teknologi, di mana tekanan geopolitik dan regulasi keamanan semakin memengaruhi rantai pasokan. Keputusan untuk memindahkan produksi ke AS bukan sekadar soal kepatuhan, tetapi juga strategi mempertahankan akses ke pasar terbesar. Bagi pengguna di Indonesia, perkembangan ini bisa menjadi indikasi arah kebijakan perangkat jaringan global yang pada akhirnya memengaruhi ketersediaan dan harga produk di pasar lokal.

Sebagai informasi, dinamika regulasi telekomunikasi dan satelit juga tengah menjadi sorotan, seperti terlihat dari berbagai perkembangan terkait layanan berbasis luar angkasa yang turut dipantau ketat oleh otoritas di berbagai negara. Hal serupa juga terjadi pada sektor konektivitas lainnya yang menghadapi tantangan regulasi serupa.

Dengan produksi yang berpotensi dimulai tahun depan, TP-Link berada di persimpangan antara kepatuhan regulasi dan tekanan biaya. Keputusan akhir ada pada persetujuan legislatif dan kejelasan pedoman FCC. Yang jelas, peta produksi router global tengah bergeser, dan TP-Link berupaya memastikan dirinya tetap relevan di pasar Amerika Serikat.

Bagi konsumen yang saat ini menggunakan router TP-Link, dukungan perangkat lunak setidaknya masih berjalan hingga tahun depan. Sementara bagi yang berencana membeli, ketersediaan stok di peritel menjadi faktor penentu dalam waktu dekat. Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada hasil persetujuan kemitraan dengan Key Tronic dan kejelasan aturan FCC soal porsi produksi domestik.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.