Telset.id – Legiun Asing Prancis berpotensi mengangkut logistik dengan tank yang tak lagi butuh kru. Pada ajang Journées nationales de l’infanterie (JNI) di Draguignan, outlet pertahanan Forces Operations Blog (FOB) memposting video yang menyebut REFURBOT sebagai “XXL robotic mule for the legionnaires of the 2nd REI.” Unit 2nd REI adalah 2nd Foreign Infantry Regiment, kesatuan Legiun Asing Prancis yang berbasis di Nîmes.
Perubahan peran inilah yang menjadi inti kabar terbaru. Saat debut di Eurosatory pada Juni 2026, REFURBOT diposisikan sebagai mesin tempur, bukan pengangkut. Demonstrator itu menggantikan turret 105mm sebuah tank dengan stasiun senjata remote KNDS ARX25, yang membawa meriam 25M811 25mm dual-feed dengan 280 butir siap pakai serta senapan mesin koaksial 7.62mm.
MILMAG melaporkan klaim perusahaan bahwa sistem ini mampu menghadapi light armor, drone, helikopter yang melayang, dan infanteri di jarak lebih dari 2.500 meter. Namun di JNI, mesin yang sama tampil dalam wujud yang jauh berbeda: sebagai kandidat pembawa beban.
Kit TOXO dan Ambisi Daur Ulang Tank
Mesin ini berasal dari REFURBOT, proyek SME Prancis S2M Equipment bersama KNDS France. FOB mendeskripsikannya bukan sebagai robot tunggal, melainkan “a robotization kit to ‘recycle’ decommissioned vehicle fleets and rapidly scale up if needed.” Statusnya masih prototipe, dengan platform beroda dan berantai lain sedang dikaji.
TOXO adalah paket penggeraknya, sebuah paket robotisasi bolt-on yang kreditnya disebut S2M, KNDS, atau keduanya. Paket ini memadukan radar, lidar, GNSS, dan lingkaran kamera dengan kontrol drive-by-wire. Mode yang tercantum mencakup leader-follower driving, route following, return-to-route, dan waypoint patrol.
Perangkat itu setidaknya sama cocoknya untuk pengangkut logistik seperti halnya untuk kendaraan bersenjata. Slogan pemasaran perusahaan, “Turn any tank into your next UGV,” memperjelas ambisi tersebut. Bahan mentahnya pun tersedia: Defence Blog mencatat Prancis membangun 3.571 kendaraan keluarga AMX-30 antara 1966 dan 1994, sementara Zone Militaire melaporkan 12th Matériel Support Base militer Prancis membongkar sekitar 50 AMX-30 per tahun sejak 2015. Zone Militaire juga menyebut pendekatan serupa bisa diterapkan pada Leopard 1A5.
Baca Juga:
Wrinkled Story: AMX-32 di Balik Narasi Daur Ulang
Kisah daur ulang itu menyimpan satu kerutan. Sebagian besar liputan menyebut demonstrator sebagai AMX-30 yang dikonversi. Namun siaran pers KNDS sendiri dari JNI menyatakan REFURBOT memodernisasi dan merobotisasi “an AMX-32 tank.” Army Recognition pada Juni melaporkan kendaraan yang dipamerkan menggunakan lambung prototipe AMX-32 yang dibangun ulang.
Distingsi itu penting karena AMX-32 tak pernah punya armada untuk dipensiunkan. Ia adalah turunan ekspor dari AMX-30 yang gagal menarik pembeli, dan hanya dua prototipe yang pernah dibuat. Dengan kata lain, demonstrator untuk tawaran daur ulang armada tank yang ada justru berdiri di atas salah satu tank Prancis paling langka. Memang benar ia bersaudara dekat dengan AMX-30, tetapi konversi tersebut belum pernah ditunjukkan secara publik pada kendaraan yang diambil dari stok sungguhan.

Pertanyaan yang menyelimuti REFURBOT tak berhenti di soal platform. KNDS dan S2M belum mempublikasikan angka payload, harga, tingkat otonomi, maupun kontrak. Kendaraan ini tetap prototipe untuk saat ini.
Pergeseran menuju fungsi pengangkut menjadi pelajaran paling jelas yang dipetik divisi tank militer modern dari Ukraina. Kementerian Pertahanan Ukraina mencatat lebih dari 100.000 misi logistik dan evakuasi UGV sepanjang 2026 hingga 20 Agustus. Robot yang menjalankan pekerjaan itu umumnya berukuran kecil: UGV Brigade Serangan Terpisah ke-3 membawa 200 hingga 600kg ke posisi garis depan, dan Gnom L2 buatan Temerland mentok di 210kg.

Lambung tank tanpa turret bermain di kelas bobot yang sama sekali berbeda, meski baik KNDS maupun S2M belum menerbitkan angka payload. Massa juga berpotensi menyelesaikan masalah yang kerap dihadapi robot kecil. Jenderal Vincent Breton, kepala pusat doktrin gabungan Prancis (CICDE), pada 2025 menyatakan bahwa orang Ukraina melaporkan UGV mereka “overturn fairly regularly” di medan yang diaduk artileri. Lambung main battle tank akan jauh lebih tahan dalam situasi semacam itu.
Daya tariknya jelas: armor, mobilitas, dan volume internal yang sudah ada, sudah dibayar, dan dalam sejumlah kasus sudah teruji di medan tempur. Pertanyaan terbukanya kurang glamor tetapi sama pentingnya. Tank hasil konversi mewarisi powertrain berusia puluhan tahun beserta pasokan suku cadangnya, yang bisa membatasi utilitas, keandalan, dan efisiensi sekaligus. Mule seukuran tank juga merupakan target besar, panas, dan berisik di medan tempur tempat drone FPV memburu apa pun yang bergerak.
Kehilangan satu unit tidak memakan korban jiwa, dan itulah inti gagasannya. Namun setiap kehilangan mengonsumsi satu lambung dari kumpulan yang sudah menyusut selama satu dekade di Prancis. Tak ada informasi terbit tentang REFURBOT yang menjawab sebagian besar pertanyaan itu, dan masih belum ada harga, angka payload, maupun kontrak. Padahal daur ulang tank telah menjadi gagasan global; militer India, misalnya, tengah mencari mitra industri lewat tantangan iDEX ADITI 4.0 untuk mengonversi T-72 menjadi kendaraan yang dioperasikan jarak jauh, dengan dua kit prototipe tervalidasi diwajibkan pada fase pertama dan T-72 nirawak operasional ditargetkan pada 2030.

KNDS berencana membuktikan REFURBOT melalui evaluasi taktis Angkatan Darat Prancis dan tantangan human-machine teaming CoHoMa, menurut Zone Militaire. Sampai uji coba itu menghasilkan angka, mule XXL milik Legiun Asing tetap menjadi prototipe menjanjikan yang kisah daur ulangnya masih membutuhkan tank hasil daur ulang.
Bagi pembaca yang mengikuti perkembangan teknologi pertahanan, kasus REFURBOT menunjukkan bagaimana robotisasi bergerak dari eksperimen laboratorium ke ajang pameran dan evaluasi militer. Sejumlah inisiatif literasi dan pelatihan teknologi di Indonesia juga menyasar kelompok pengguna yang lebih luas, seperti yang tergambar dalam pelatihan UMKM bersama Meta dan Kemendag. Di sisi lain, adopsi kecerdasan buatan yang kian masif turut mendorong pengujian kualitas sistem otomatis, sejalan dengan pengujian chatbot AI yang menyoroti pentingnya validasi performa sebelum sistem otonom dipakai di lapangan.





Komentar
Belum ada komentar.