Wah! Hanya 2% Smartphone Android yang Terenkripsi

Telset.id, Jakarta – Masalah fragmentasi memang masih menjadi momok terbesar di Android, karena membuat tidak meratanya peredaran software terbaru. Tapi tak hanya itu masalahnya, fragmentasi di Android juga berimbas pada sistem enkripsi yang tidak terjamin di perangkat Android

Sebuah studi terbaru mengungkap ada masalah lain di Android yang sebetulnya lebih parah dari soal masalah fragmentasi di Android. Hasil studi tersebut mengungkapkan bahwa mayoritas produk Android yang beredar di pasaran sama sekali tak terenkripsi. Kondisi ini berbeda dengan Apple, dimana mayoritas iPhone sudah terenkripsi.

Menurut data statistik yang diungkap Wall Street Journal, sekitar 95% iPhone yang beredar saat ini telah terenkripsi, sementara jumlah produk smartphone Android yang telah terenkripsi hanya sekitar 2% saja.

Statistik enkripsi iOS vs AndroidMelihat kenyataan inilah kenapa Apple begitu ngotot menolak permintaan FBI untuk memberikan akses backdoor iPhone milik terduga teroris dalam kasus penembakan di San Bernardino. Karena jika Apple memenuhi permintaan FBI, maka Apple sama saja memberikan akses pintu belakang untuk hampir semua iPhone yang ada di dunia.

Lantas mengapa masalah itu bisa terjadi di Android? Jawabannya sangat sederhana. Yakni karena Google masih belum mewajibkan para produsen ponsel yang menjadi rekanan mereka untuk menambahkan teknologi enkripsi penuh di produk smartpone Android. Masalah ini terjadi hingga perilisan Android 6.0 Marshmallow tahun lalu.

Google sendiri sebenarnya sudah cukup lama berjanji untuk mengatasi masalah fragmentasi Android, tapi sejauh ini masih belum ada kemajuan nyata, karena produsen perangkat masih belum bisa mendapatkan peningkat software secara tepat waktu.

Namun beberapa kode ditemukan di Android N Developer Preview pertama menunjukkan bahwa Google telah mulai memisahkan sistem operasi mobile-nya menjadi dua bagian, yakni Inti OS dan user interface yang OEM memodifikasi untuk menambahkan aplikasi dan fitur mereka sendiri.

Memisahkan dua komponen ini secara teoritis dapat memungkinkan Google untuk cepat mendorong keluar update penting untuk inti OS. Sementara membiarkan OEM mendorong keluar perubahan aplikasi dan overlay mereka sendiri tanpa khawatir tentang bagaimana mereka akan mempengaruhi fungsi keseluruhan platform. [HBS]

 

SOURCEBGR
Previous articleInstagram Bisa Tampilkan Waktu Postingan
Next articleTelkomtelstra Tanamkan Cloud di Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here