📑 Daftar Isi

Tampilan penjelasan Lockdown Mode pada layar iPhone

Lockdown Mode iPhone: Proteksi Ekstrem saat Spyware Mengintai

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Lockdown Mode iPhone adalah lapisan keamanan ekstrem Apple sejak 2022 untuk melawan spyware komersial seperti Pegasus
  • Tersedia di iOS 16+, iPadOS 16+, watchOS 10+, dan macOS 13 Ventura+
  • Memblokir lampiran pesan, pratinjau tautan, FaceTime, JavaScript, koneksi kabel, dan jaringan 2G/3G
  • Perangkat dalam Lockdown Mode terbukti kebal terhadap eksploit Blastpass
  • Pengguna bisa mengecualikan kontak, situs, dan aplikasi tertentu
  • Tidak diperlukan pengguna biasa; cocok untuk jurnalis, aktivis, dan politisi

Telset.id – Lockdown Mode di iPhone menghadirkan lapisan keamanan ekstrem yang dirancang Apple untuk melindungi sekelompok kecil pengguna dari serangan spyware komersial seperti Pegasus milik NSO. Fitur ini sudah hadir sejak 2022, tetapi tidak banyak pengguna yang mengetahui keberadaannya, apalagi memakainya. Pasalnya, Lockdown Mode memang bukan fitur untuk pengguna biasa, melainkan perlindungan khusus bagi mereka yang berisiko menjadi target pengintaian.

Apple sendiri menyebut Lockdown Mode sebagai lapisan keamanan “ekstrem” bagi segelintir orang yang mungkin menjadi sasaran spyware komersial. Jurnalis, aktivis, dan politisi termasuk di antara kelompok yang berpotensi menjadi target spyware tersebut. Fitur ini bisa dicoba oleh siapa saja yang memiliki iPhone dengan iOS 16 atau lebih baru, dan juga tersedia di iPadOS 16 dan setelahnya, watchOS 10 dan lebih baru, serta macOS 13 Ventura dan setelahnya.

Untuk mengaktifkannya, pengguna cukup membuka Settings dan masuk ke Privacy & Security. Gulir ke bawah hingga menemukan Lockdown Mode, lalu ketuk Turn On & Restart dan konfirmasi dengan passcode. Prosesnya sesederhana itu, dan opsi untuk menonaktifkannya bisa ditemukan di tempat yang sama.

An iPhone showing an explanation of what Lockdown Mode is.

Apa Saja yang Dimatikan Lockdown Mode di iPhone

Kekuatan Lockdown Mode terletak pada cara fitur ini memblokir banyak fungsi iPhone saat diaktifkan. Masalahnya, sebagian besar fungsi yang diblokir justru merupakan fitur yang biasa dipakai sehari-hari. Di aplikasi Messages, sebagian besar jenis lampiran diblokir. Bahkan pratinjau tautan berhenti berfungsi, karena pratinjau bisa menjadi pintu masuk bagi spyware.

Lockdown Mode juga membatasi cara JavaScript bekerja di browser, yang dapat menyebabkan sebagian situs web menjadi lambat dimuat atau sama sekali tidak berfungsi. Panggilan FaceTime juga diblokir; hanya orang yang baru saja dihubungi yang bisa menghubungi pengguna. Konektivitas iPhone pun dibatasi ketika Lockdown Mode aktif. Sebagai contoh, koneksi kabel dinonaktifkan saat perangkat terkunci, artinya iPhone tidak dapat berkomunikasi dengan komputer atau aksesori tanpa passcode pengguna.

Untuk konektivitas nirkabel, iPhone tidak lagi otomatis terhubung ke jaringan yang tidak aman, dan dukungan untuk jaringan 2G dan 3G sepenuhnya dinonaktifkan, meskipun jaringan tersebut sudah lama dihentikan di Amerika Serikat. Pengguna juga tidak bisa memasang configuration profile, yang tentu merepotkan jika sekolah atau kantor mewajibkannya. Jika pengguna memiliki Apple Watch, notifikasi panggilan dari iPhone tidak akan muncul di jam tangan tersebut. Fungsi di layanan Apple lain juga berkurang: undangan Home dan Game Center tidak tersedia, serta berbagi foto dibatasi.

An iPhone asking for the user's passcode.

Siapa yang Perlu Membiarkan Lockdown Mode Tetap Aktif

Jika Lockdown Mode terdengar agresif, itu memang tujuannya. Pada 2023, sebuah eksploit bernama “Blastpass” memanfaatkan iMessage untuk memasang spyware Pegasus pada perangkat Apple. Namun, para peneliti menemukan bahwa perangkat yang berada dalam Lockdown Mode sepenuhnya kebal terhadap spyware tersebut. Apple memberikan bonus 100 persen di atas hadiah reguler melalui program Security Bounty kepada siapa pun yang menemukan cara melewati fitur ini, yang menunjukkan seberapa besar kepercayaan perusahaan terhadap perlindungan tersebut.

Dengan membatasi iPhone untuk menghindari potensi jalur serangan, pengguna memperoleh keamanan maksimal dengan imbalan fungsi dan kenyamanan yang berkurang. Fitur ini tetap menawarkan sejumlah fleksibilitas: pengguna bisa mengecualikan kontak tertentu dari pembatasan pesan agar keluarga masih dapat mengirim video atau dokumen. Pengguna juga memiliki opsi untuk mengecualikan situs web dan aplikasi tertentu dari fitur ini. Namun, melonggarkan pembatasan tersebut membuat perangkat sedikit lebih rentan terhadap serangan. Jika merasa menjadi target, sebaiknya pertahankan semua perlindungan default tetap aktif.

Bagi sebagian besar orang, tidak ada kebutuhan untuk menggunakan Lockdown Mode. Perangkat Apple sudah memiliki banyak fitur keamanan dan privasi bawaan. Spyware seperti Pegasus biasanya menyasar figur publik dan sering dipakai oleh pemerintah yang ingin mengawasi lawan politik atau demonstran. Jika kondisi tersebut relevan, Lockdown Mode layak diaktifkan, dan Apple bahkan mungkin mengirimkan notifikasi jika perusahaan menilai pengguna telah menjadi target spyware. Bagi yang penasaran, fitur ini bisa dicoba selama beberapa hari untuk merasakan langsung dampaknya. Kemungkinan besar, ketidaknyamanan yang muncul tidak sebanding dengan tingkat perlindungan ekstrem yang hanya dibutuhkan sedikit orang.

Di sisi lain, pengguna iPhone yang lebih luas tetap memiliki opsi untuk mendalami berbagai isu perangkat Apple, termasuk ketika Apple buka suara soal masalah layar atau saat layar iPhone Duo retak di area engsel dan menjadi sorotan. Informasi semacam ini membantu pengguna memahami prioritas antara keamanan data dan kenyamanan pemakaian perangkat sehari-hari.

An iPhone displaying an Apple logo that looks like a padlock.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.