Telset.id – PNY menolak klaim garansi sebuah GeForce RTX 5090 yang konektor 12V-2×6-nya meleleh, dengan alasan kartu tersebut tidak memakai kabel daya yang disetujui PNY. Penolakan ini menuai sorotan karena RTX 5090 kini termasuk produk berharga ribuan dolar, sehingga wajar bila pemiliknya mengharapkan layanan purna jual yang sepadan.
Kasus ini dibagikan pengguna Reddit /u/Melodic_Initial_1767. Ia melaporkan kartu grafisnya tidak lagi berfungsi setelah konektor 12V-2×6 meleleh di kedua ujung kabel modular yang disertakan bersama power supply ASRock 1600 watt miliknya, yakni model PG-1600G. Peristiwa itu disebut terjadi meski ia memakai BIOS bawaan, tanpa overclocking, dan justru sudah menurunkan batas daya secara manual. Kartu tersebut bahkan diklaim tengah menganggur saat mati.
Ia lalu membuka tiket dengan PNY dan mengaku ditolak keesokan harinya. PNY menyatakan bahwa seluruh GPU mereka yang membutuhkan masukan 16-pin (12VHPWR / 12V-2×6) menyertakan kabel atau adaptor daya yang disetujui PNY di dalam kotak. Kabel itu disebut sebagai satu-satunya konfigurasi yang tercakup garansi. Jika kabel daya, adaptor, atau kabel PSU pihak ketiga digunakan dan menimbulkan kerusakan, termasuk meleleh, terbakar, panas berlebih, atau deformasi konektor, PNY menyatakan tidak dapat menerima produk tersebut dalam garansi. Kerusakan akibat kabel non-PNY disebut menjadi tanggung jawab produsen kabel atau power supply terkait.

Persoalannya, ia tidak memakai kabel bawaan atau kabel yang disetujui, melainkan kabel native dari power supply-nya. Menurut sang Redditor, ketentuan garansi PNY sebenarnya tidak menyebut sama sekali soal kabel 12VHPWR atau 12V-2×6. Satu-satunya hal yang dikatakan garansi soal daya adalah bahwa kartu harus “dipasang sesuai panduan instalasi yang disertakan”. Panduan instalasi itu sendiri, menurutnya, hanya meminta pengguna mencari konektor daya yang belum terpakai di dalam sistem dan mencolokkannya ke konektor yang sesuai pada kartu grafis.
Kabel Disetujui Tanpa Daftar Resmi
Dengan panduan seperti itu, pengguna dinilai harus menebak sendiri kabel mana yang disetujui PNY. Sejauh yang bisa dilihat, tidak ada daftar kabel yang disetujui di situs web PNY maupun di dokumentasi produk kartu grafisnya. Selain itu, kartu tersebut tidak disertakan kabel 16-pin, sehingga ia tidak mungkin memakai kabel milik PNY sendiri. Gagasan bahwa PNY lebih memilih pengguna memakai adaptor “octopus” ketimbang kabel native pun dinilai lemah.
Pengguna lain di utas tersebut, yang jumlah balasannya mendekati 1.200, menyebut punya riwayat kesulitan mendapatkan dukungan dari PNY. Saat menanyakan pasal mana dari kebijakan garansi yang dipakai untuk menolak permintaannya, /u/Melodic_Initial_1767 mengaku diberi tahu oleh seorang “Senior Technician” bahwa keputusan tersebut final dan tiketnya telah ditutup.

Baca Juga:
Sebuah poin penting diangkat /u/dusto_man dalam utas tersebut. Power supply ASRock yang dipakai “Melodic” mengiklankan fitur bernama “TempGuard” yang disebut memantau suhu di konektor 12V-2×6 pada sisi PSU demi keamanan. Namun fitur itu jelas tidak dikonfigurasi atau juga gagal. ASRock menawarkan garansi sepuluh tahun untuk unit tersebut. /u/dusto_man menyebut hal ini dalam utas tempat pengguna lain menyarankan pemilik asli menghubungi ASRock dan membiarkan perusahaan itu mengejar PNY agar tidak menanggung GPU yang gagal tersebut, yang nilainya kini mencapai ribuan dolar.
Hal itu disebut bisa jadi alasan PNY berupaya menghentikan upaya RMA. Perusahaan mungkin tidak memiliki stok GeForce RTX 5090 untuk dikirimkan, dan kalaupun punya, kartu GeForce RTX 5090 termurah yang bisa dibeli baru di pasar saat ini adalah 4.400 dolar AS. PNY disebut lebih suka menjualnya di harga tersebut. Meski vendor board kemungkinan hanya bertanggung jawab secara hukum atas harga pembelian awal /u/Melodic_Initial_1767, nilai itu tetap bisa dengan mudah mencapai 2.000 dolar AS atau lebih.
Pola Penolakan Garansi yang Berulang
Pola penolakan RMA serupa disebut telah terlihat pada perangkat penyimpanan dan memori dari sejumlah vendor selama masa kelangkaan, sehingga kasus ini bukan pengecualian. Yang masih ditunggu adalah apakah PNY akan berpegang pada celah teknis yang tidak tertulis ketimbang menanggung dampaknya terhadap laba perusahaan.
Sementara itu, kasus serupa juga mencuat di lingkungan pengguna RTX 5090. Ada laporan tentang penolakan garansi RTX 5090 oleh Nvidia karena nomor seri yang memudar, seorang enthusiast yang menyebut DLSS 5 mendorong RTX 5090 melewati 600W hingga melelehkan konektor 16-pin, serta modder yang menyolder kabel daya langsung ke PCB RTX 5090 untuk menghilangkan konektor 16-pin yang dikenal rawan meleleh. Ada pula pengguna yang menulis kode dengan bantuan AI sebagai pengaman terhadap kegagalan konektor daya RTX 5090, pesanan ROG Astral RTX 5090 senilai 4.429 dolar AS yang dibatalkan Nvidia karena kenaikan harga “terlambat” dengan Asus disalahkan, serta RTX 5090 modifikasi yang meninggalkan daya 16-pin demi tiga konektor 8-pin.

Dari sisi konsumen, insiden ini menyoroti pentingnya kejelasan ketentuan garansi, terutama untuk komponen bernilai tinggi. Selama daftar kabel yang disetujui tidak dipublikasikan secara terbuka, pengguna akan terus menghadapi ketidakpastian saat mengajukan klaim. Bagi pemilik kartu grafis kelas atas, memastikan seluruh dokumen pembelian dan bukti pemasangan tersimpan rapi menjadi langkah yang makin relevan.
Bagaimana pun, keputusan akhir PNY dalam kasus ini masih menjadi tanda tanya. Yang jelas, polemik soal konektor 12V-2×6 dan kebijakan RMA pada kartu grafis mahal belum menemukan titik terang, dan pengguna menanti apakah produsen akan meninjau ulang pendekatannya atau tetap bertahan pada aturan yang tidak tertulis.
Sebagai catatan, dinamika serupa soal kebijakan perusahaan terhadap penggunanya juga muncul di sektor lain, misalnya dalam sengketa kreator yang berujung ke pengadilan. Ada pula kisah serupa dari platform lain, serta tekanan yang dirasakan karyawan perusahaan ketika kebijakan internal dianggap tidak berpihak. Semua itu menunjukkan bahwa transparansi kebijakan tetap menjadi isu krusial bagi konsumen maupun pekerja di industri teknologi.





Komentar
Belum ada komentar.