Telset.id – Laptop dengan layar lipat tertinggal jauh dari ponsel foldable dalam hal jumlah produk maupun siklus pembaruan. Saat ini pelanggan smartphone di Amerika Serikat dapat memilih dari tujuh ponsel lipat kontemporer, sementara jumlah laptop dengan layar lipat yang pernah diproduksi jauh lebih sedikit, yaitu satu dari Asus, satu dari Huawei, satu dari HP, dan dua dari Lenovo.
Ketimpangan itu menjadi sorotan di tengah masuknya iPhone Duo ke pasar. Menurut catatan yang ada, tujuh ponsel lipat kontemporer tersebut mencakup satu dari Google, dua dari Motorola, dan tiga dari Samsung. Sementara di sisi laptop, produk terakhir yang tercatat adalah Lenovo ThinkPad Fold 16 Gen 2 yang menyentuh pasar pada November 2023, lebih dari satu tahun setelah diperkenalkan.
Artinya, ketika Galaxy Z Fold dan Galaxy Z Flip dari Samsung sudah masuk siklus peningkatan tahunan, jalur produk laptop dengan layar lipat justru sepi. Sejumlah persoalan struktural, teknologi, dan ekonomi disebut menjadi penyebab laptop layar lipat tidak kunjung menjadi arus utama.

Harga Tinggi dan Dampak RAMpocalypse
Pada saat peluncurannya, laptop layar lipat termasuk yang paling mahal di jajaran masing-masing produsen. Asus Zenbook 17 Fold OLED diluncurkan dengan harga 3.500 dolar AS pada 2022. Setahun kemudian, HP Spectre Foldable PC hadir dengan harga 5.000 dolar AS, sekitar 2,5 kali harga Galaxy Z Fold Ultra.
Konsumen yang mengeluarkan biaya sebesar itu tentu menuntut performa, termasuk RAM dan penyimpanan flash yang besar. Kedua komponen itu justru mengalami lonjakan harga akibat “RAMpocalypse” yang dipicu oleh pusat data AI. Meski vendor PC dapat mengorbankan sebagian margin pada produk kelas atas, cukup masuk akal jika penerus yang diluncurkan hari ini akan menuntut harga yang tidak dapat dipertahankan.
Di sisi lain, semakin sulit bagi vendor untuk membenarkan harga premium karena tidak adanya lompatan “kelas perangkat”. Salah satu janji besar ponsel layar lipat adalah pengguna bisa mendapatkan fungsionalitas tablet dalam bentuk yang muat di kantong. Hal itu tidak berlaku sama pada laptop layar lipat.
Lompatan dari pengalaman Windows sekitar 13 inci dalam mode clamshell ke pengalaman Windows 16 atau 17 inci dalam mode terbuka dinilai kurang dramatis. Meski ada sejumlah keunggulan seperti rasio aspek yang lebih tinggi dibandingkan sebagian besar laptop 16 inci dan opsi mode potret, perbedaannya tidak sebesar perbedaan antara iPhone terbesar dan iPad mini. Perbedaan pengalaman itu kian terasa ketika Apple menghadirkan antarmuka desktop penuh di iPad melalui iPadOS 26.
Baca Juga:
Kondisi ini juga membantu menjelaskan mengapa belum ada tablet lipat dari Samsung maupun Lenovo. Sebagian besar upaya memperluas Windows pada layar lipat justru berfokus pada skenario penyesuaian Peek preview agar pemanfaatan virtual dual screen lebih efisien. Peningkatan antarmuka itu juga berlaku untuk laptop dengan layar ganda sungguhan seperti Asus Zenbook Duo, yang mendapat pembaruan tahun ini.

Kompromi Perakitan dan Peluang Layar Rollable
Ponsel layar lipat memerlukan langkah tambahan untuk membuka agar layar penuh dapat dimanfaatkan, tetapi layar depannya memungkinkan pemakaian sehari-hari bahkan saat terlipat. Bahkan model flip seperti produk terbaru dari Samsung terus meningkatkan utilitas saat terlipat. Sebaliknya, laptop layar lipat menyertakan kompromi persiapan yang lebih signifikan.
Sebagai contoh, ThinkPad X1 Fold pertama dari Lenovo mampu menyimpan keyboard Bluetooth di antara kedua bagian layar yang terlipat. Namun generasi keduanya menyimpan keyboard secara terpisah, dilindungi untuk perjalanan oleh casing yang sekaligus berfungsi sebagai penyangga layar. Saat hendak berpindah, pengguna harus merakit kembali bundel tersebut, setelah memastikan keyboard dilepas agar tidak berisiko merusak perangkat.
Berbeda dengan itu, beberapa gambaran awal laptop dengan layar rollable dari Lenovo dapat menyediakan area layar penuh tanpa perlu memindahkan keyboard. Meski desain bermotor itu membuat pengguna menunggu hingga layar tergulung sebelum menutup penutup, sebagian besar pengguna kemungkinan akan menilai kompromi tersebut sepadan.
Jika membandingkan ponsel layar lipat dengan laptop layar lipat, masuk akal bahwa perangkat yang lebih kecil akan memperoleh nilai relatif lebih besar dari tambahan area layar sesuai permintaan, dengan asumsi faktor lain setara. Dinamika inilah yang membuat lebih banyak faktor berpihak pada smartphone. Generasi berikutnya dari laptop dengan layar lentur memerlukan pemikiran ulang.
Sejumlah produk ponsel lipat yang menjadi konteks perbandingan turut menjadi sorotan, mulai dari iPhone 18 Pro hingga lini Galaxy Z Fold 8. Sementara di sisi lain, pengembangan perangkat lipat Apple masih menjadi bahan perbincangan pasar, termasuk lewat bocoran iPad Mini 8 dan perpanjangan lisensi paten Qualcomm dengan Apple hingga 2027.

Hingga kini, belum terlihat tanda bahwa laptop dengan layar lipat akan berhenti sepenuhnya. Namun kombinasi persoalan struktural, teknologi, dan ekonomi telah menahan laju laptop lipat untuk menjadi lebih umum. Sementara ponsel lipat terus memperoleh pembaruan tahunan dan menambah pilihan di pasar, jalur laptop lipat masih menunggu babak berikutnya.





Komentar
Belum ada komentar.