Telset.id – Pengguna OnePlus di Eropa menghadapi masalah serius setelah perusahaan mengganti layanan garansi perangkat mereka dengan voucher belanja yang nyaris tidak bisa digunakan. Voucher tersebut hanya dapat ditebus di toko online OnePlus yang saat ini kehabisan hampir seluruh stok produk.
Situasi ini menjadi pukulan telak bagi loyalitas pelanggan. Alih-alih mendapatkan perangkat pengganti atau perbaikan sesuai garansi, pemilik OnePlus justru menerima kode digital yang secara fungsional tidak bernilai.
Seperti dilansir dari PhoneArena, Rabu (8/7/2026), induk perusahaan OnePlus, Oppo, dikabarkan telah memutuskan untuk mundur dari pasar Amerika Utara dan Eropa. Keputusan strategis ini berdampak langsung pada layanan purnajual yang diterima konsumen di kawasan tersebut.
Di Amerika Serikat, OnePlus perlahan menghilang dari rak-rak ritel. Best Buy, salah satu retailer elektronik terbesar, telah menghapus display fisik OnePlus dari tokonya. Perangkat OnePlus bahkan tercatat sebagai produk yang dihentikan secara permanen. Konfigurasi tertentu dari OnePlus 15 juga sudah habis terjual, membuat pembeli hanya memiliki pilihan warna atau kapasitas penyimpanan yang terbatas.
Sementara itu, kondisi di Eropa jauh lebih buruk. Toko online OnePlus di Inggris dan Uni Eropa praktis kehabisan semua stok. Perusahaan juga mulai mengarahkan konsumen Eropa untuk beralih ke produk Oppo. Kebijakan garansi yang diterapkan pun menjadi sorotan utama.
Seorang pengguna Reddit menceritakan pengalaman pahitnya. Ia harus mengirimkan charger 120W SuperVOOC miliknya untuk diperbaiki. Pihak OnePlus kemudian memberi tahu bahwa charger tersebut sudah mencapai status akhir masa pakai (EOL). Alih-alih mengembalikan charger atau memberikan pengganti, perusahaan memberikan voucher senilai €100 (sekitar $114 USD).
Awalnya, voucher tersebut terlihat seperti kompensasi yang wajar. Namun masalah muncul karena 95% dari seluruh produk di toko OnePlus sudah habis terjual. Sisa 5% stok hanya terdiri dari OnePlus Tab Go2, Nord 5, dan Nord CE5. Lebih parahnya lagi, sistem OnePlus memblokir penggunaan voucher untuk barang-barang yang sedang didiskon. Karena semua stok yang tersisa sedang dalam masa obral, voucher tersebut tidak bisa digunakan sama sekali.
Pengguna itu menyimpulkan situasinya dengan gamblang: “Mereka benar-benar mengambil charger 120W saya, menyimpannya, dan memberikan saya kode digital dengan nilai fungsional €0.”
Kasus serupa juga menimpa pemilik OnePlus Buds Pro 2. Headphone nirkabel miliknya rusak dalam masa garansi dua tahun. OnePlus menawarkan voucher senilai €199, yang merupakan harga penuh produk tersebut. Namun, OnePlus tidak memiliki stok headphone apa pun yang bisa dibeli dengan voucher itu. Permintaan agar voucher digunakan untuk biaya perbaikan juga ditolak mentah-mentah.
Baca Juga:
OnePlus sendiri belum secara resmi mengumumkan rencana penutupan operasinya di Eropa. Namun, berbagai indikasi kuat menunjukkan bahwa merek yang dulu dijuluki “Flagship Killer” ini sedang menuju akhir perjalanannya di pasar Barat.
Kebijakan garansi yang diganti dengan voucher tak berguna ini menjadi bukti nyata bahwa perusahaan tidak lagi memprioritaskan pelanggannya di kawasan tersebut. Voucher yang hanya berlaku satu bulan dan tidak bisa digunakan untuk barang diskon membuat opsi konsumen semakin sempit.
Bagi pengguna yang masih memegang perangkat OnePlus dengan garansi aktif, situasi ini menjadi peringatan keras. Risiko mendapatkan kompensasi tidak bernilai kini sangat nyata. Keputusan Oppo untuk menarik diri dari pasar global tampaknya sudah berjalan, dan OnePlus menjadi korban pertama dari strategi ini.
Dengan stok yang terus menipis dan layanan garansi yang beralih ke voucher tak berguna, masa depan OnePlus di Eropa dan Amerika Utara semakin suram. Pelanggan setia yang telah mendukung merek ini selama bertahun-tahun kini harus menerima kenyataan pahit.





Komentar
Belum ada komentar.