📑 Daftar Isi

Mitos 5G Boros Baterai, Berikut Fakta yang Perlu Diketahui Pengguna

Mitos 5G Boros Baterai, Berikut Fakta yang Perlu Diketahui Pengguna

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Kekhawatiran tentang konsumsi daya jaringan 5G yang dianggap lebih boros baterai ternyata tidak sepenuhnya benar. Berdasarkan laporan yang dilansir BGR pada Sabtu (22/8/2026), jaringan 5G dan 4G tidak memiliki perbedaan besar dalam konsumsi daya, terutama setelah teknologi 5G mengalami berbagai peningkatan sejak pertama kali diperkenalkan.

Kehadiran teknologi 5G memang sempat dibayangi stigma negatif, terutama karena modem generasi awal yang dianggap lebih cepat panas dan menguras baterai. Kesan tersebut kemudian memunculkan berbagai mitos dan kekhawatiran pengguna mengenai konsumsi daya jaringan 5G. Padahal, sejumlah studi menunjukkan konsumsi daya 5G secara keseluruhan hanya sekitar 6% hingga 11% lebih tinggi dibandingkan 4G.

Fakta Konsumsi Daya Jaringan 5G

Konsumsi daya jaringan 5G sangat bergantung pada pita frekuensi yang digunakan. Layanan 5G low-band dan mid-band yang umum digunakan memiliki efisiensi daya yang mirip dengan 4G. Konsumsi daya yang lebih tinggi terutama terjadi pada jaringan high-band atau mmWave, termasuk yang menggunakan ikon 5G+. Frekuensi tersebut memiliki jangkauan sangat terbatas dan relatif jarang digunakan dalam aktivitas sehari-hari.

Chipset dan modem pada ponsel modern kini jauh lebih efisien dibandingkan perangkat generasi awal. Hal ini menjawab kekhawatiran banyak pengguna yang masih ragu beralih ke jaringan 5G karena menganggap teknologinya akan membuat baterai ponsel cepat habis.

Klaim bahwa 5G menguras baterai ketika ponsel berada dalam mode siaga juga belum memiliki bukti yang kuat. Saat berada dalam kondisi tersebut, konsumsi daya perangkat tetap relatif rendah. Meski konsumsi daya 5G sedikit lebih tinggi dibandingkan 4G, perangkat keras tidak bekerja secara maksimal hanya karena fitur 5G diaktifkan.

Hal yang justru dapat lebih banyak menguras baterai adalah aplikasi yang berjalan di latar belakang, notifikasi push, serta proses sinkronisasi data. Google Play Store bahkan kini menandai aplikasi penguras baterai agar pengguna lebih waspada sebelum menginstal aplikasi tertentu.

Kecepatan 5G dan Dampaknya pada Baterai

Anggapan bahwa jaringan yang lebih cepat otomatis membuat baterai lebih cepat habis juga tidak sepenuhnya benar. Kecepatan jaringan yang lebih tinggi justru dapat membantu perangkat menyelesaikan aktivitas dengan lebih cepat. Setelah tugas selesai, modem dapat kembali ke mode idle dengan konsumsi daya yang lebih rendah.

Penelitian Telefonica menunjukkan 5G dapat 90% lebih hemat energi dibandingkan 4G dalam hal lalu lintas data. Sebaliknya, kebiasaan pengguna mengakses konten berkualitas tinggi karena koneksi yang lebih cepat justru dapat membuat baterai lebih cepat terkuras. Dalam kondisi tersebut, konsumsi daya lebih berkaitan dengan aktivitas pengguna dibandingkan jaringan yang digunakan.

Penurunan kapasitas baterai lithium-ion dipengaruhi oleh siklus pengisian daya, suhu, usia baterai, serta masa pemakaian. Penggunaan jaringan 5G tidak secara langsung mempercepat proses penuaan kimiawi baterai. Masalah panas berlebih yang kerap dikaitkan dengan 5G juga dapat disebabkan oleh masalah perangkat lunak atau kendala pada model ponsel tertentu.

Saat ini, banyak produsen ponsel membekali perangkat 5G dengan baterai berkapasitas besar, sekitar 5.500-6.000 mAh, serta sistem manajemen daya yang semakin matang. Hal ini tentu menjadi kabar baik bagi pengguna yang ingin menikmati kecepatan jaringan 5G tanpa khawatir baterai cepat habis.

Mematikan 5G tidak selalu menjadi pilihan terbaik karena pengguna bisa kehilangan manfaat dari koneksi yang lebih cepat. Banyak ponsel modern telah menerapkan fitur Smart 5G yang memungkinkan perangkat secara otomatis beralih antara 4G dan 5G sesuai dengan kondisi dan kekuatan sinyal.

5G baru perlu dipertimbangkan untuk dimatikan ketika jangkauan sinyal buruk. Kondisi tersebut dapat membuat ponsel terus mencari jaringan dan berpotensi mengonsumsi lebih banyak daya. Selain itu, pengguna sebaiknya memastikan perangkat lunak selalu diperbarui agar pengelolaan daya dan kinerja jaringan 5G dapat berjalan secara optimal.

Untuk penggunaan sehari-hari, membiarkan jaringan 5G tetap aktif dapat menjadi pilihan yang praktis selama kualitas sinyal di lokasi pengguna cukup baik. Pengguna yang mengalami masalah baterai boros pada perangkat 5G juga perlu memperhatikan aplikasi yang berjalan di latar belakang, karena hal tersebut lebih sering menjadi penyebab utama dibandingkan jaringan itu sendiri.

Bagi pengguna yang ingin mengoptimalkan penggunaan baterai pada perangkat 5G, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Memastikan perangkat lunak selalu diperbarui, memantau aplikasi yang berjalan di latar belakang, serta memanfaatkan fitur penghemat daya bawaan ponsel merupakan langkah-langkah sederhana yang efektif.

Seiring dengan semakin matangnya teknologi 5G dan efisiensi chipset modern, kekhawatiran tentang boros baterai semakin tidak relevan. Produsen ponsel terus berinovasi dengan menghadirkan baterai berkapasitas besar dan sistem manajemen daya yang semakin cerdas untuk mendukung pengalaman pengguna yang optimal.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.