šŸ“‘ Daftar Isi

TV curved Samsung dipajang di booth CES 2014 dengan layar melengkung yang mencolok

Kenapa TV Curved Gagal tapi Monitor Gaming Curved Sukses

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • TV curved gagal karena masalah imersi yang sulit direplikasi di ruang tamu
  • Sweet spot terbatas pada TV curved LCD membuat kualitas gambar turun drastis di posisi off-center
  • Produksi TV curved ukuran besar sulit dilakukan dan mahal bagi produsen
  • TV curved sulit dipasang di dinding karena sudutnya menonjol hingga 6 inci
  • Monitor gaming curved sukses karena dirancang untuk satu pengguna dengan jarak dekat
  • Layar curved pada monitor membantu pemain melihat tepi layar tanpa menengok
  • Teknologi curved memungkinkan hadirnya monitor ultrawide ekstrem seperti Alienware 34 inci
  • Pengalaman produksi TV curved menjadi modal untuk membuat monitor gaming curved yang lebih baik

Telset.id – TV curved sempat menjadi tren besar di industri elektronik konsumen sepanjang dekade 2010-an. Namun, teknologi ini akhirnya ditinggalkan, sementara monitor gaming curved justru berkembang pesat dan menjadi pilihan utama para gamer. Kegagalan TV curved dan kesuksesan monitor gaming curved menunjukkan bagaimana teknologi yang sama bisa bernasib berbeda tergantung pada penerapannya.

Samsung, sebagai produsen terakhir yang masih mempertahankan TV curved, akhirnya menyerah pada 2020. Sejak saat itu, TV curved praktis mati kecuali beberapa konsep yang kemungkinan besar tidak akan pernah diproduksi massal. Di sisi lain, monitor gaming curved justru menawarkan sudut lengkung yang lebih ekstrem daripada yang pernah ada pada televisi.

Lantas, apa yang sebenarnya membuat TV curved gagal di pasaran? Ada satu jawaban singkat yang jelas, dan beberapa alasan yang lebih rumit yang perlu dipahami.

Masalah Imersi dan Sudut Pandang TV Curved

Konsep imersi dengan layar besar melengkung sebenarnya bukan hal baru. Selama puluhan tahun, kita telah melihatnya di bioskop IMAX dan layar format besar lainnya seperti Cinerama Dome di Hollywood. Sangat mudah merasa terseret ke dalam film ketika duduk sangat dekat dengan layar cekung setinggi 65 kaki.

Namun, ada perbedaan besar antara teater raksasa tersebut dengan panel datar 55 hingga 65 inci di ruang tamu yang biasanya berjarak enam hingga sepuluh kaki dari sofa. Kecuali Anda beruntung memiliki TV curved 78 inci dan duduk cukup dekat, sangat sulit untuk meniru sensasi imersi dari bioskop. Bahkan TV besar yang sangat langka itu pun tetap dikelilingi oleh segala hal lain di ruang tamu.

TV curved Samsung di CES 2014

Masalah lain yang lebih fatal adalah sweet spot yang terbatas pada TV curved LCD. Layar lengkung LCD memiliki titik pandang ideal tepat di tengah sudut pandang, tetapi begitu Anda bergeser dari posisi tersebut, kontras dan saturasi warna langsung hilang. Menonton adegan malam yang gelap dari posisi off-center akan membuat Anda kesulitan melihat apa pun yang terjadi di layar.

Curved OLED TV memang tidak memiliki masalah sweet spot yang sama, tetapi harganya biasanya lebih mahal daripada OLED standar. Pengalaman menonton di sudut ekstrem bahkan membuat beberapa TV curved terlihat hampir greyscale, yang sangat merusak film berwarna cerah dan hidup.

Kesulitan Produksi dan Pemasangan

Menurut Dipin Sehdev, founder dan CEO agregator elektronik konsumen CE Critic, bukan hanya pemirsa yang bermasalah dengan TV curved. Produsen juga mengeluhkan kesulitan memproduksi layar lengkung dalam skala besar. Memproduksi TV curved 30 atau 32 inci masih mungkin dilakukan, tetapi ketika ukurannya mencapai 55, 65, atau bahkan 75 inci, proses pembuatan dan pengiriman menjadi sangat sulit.

Menjaga keseragaman kualitas layar pada ukuran besar juga menjadi tantangan tersendiri. Bahkan perusahaan sebesar Samsung pun hanya bisa menahan kerugian produksi selama tertentu. Ketika digabungkan dengan masalah lain seputar TV curved, mudah dipahami mengapa produsen TV cepat menyerah pada teknologi ini.

TV curved di CES 2014

TV curved juga sulit dipasang di dinding. Saat TV flat semakin tipis dan ringan, konsumen semakin antusias memasangnya di dinding atau di atas perapian untuk menghemat ruang lantai. Namun, TV curved menyulitkan pemasangan tersebut karena sudutnya menonjol keluar hingga hampir 6 inci pada beberapa merek.

Ini menjadi masalah signifikan ketika Anda ingin meletakkannya di atas mantel atau mencoba mendapatkan tampilan yang bersih dan kontemporer. Kombinasi semua faktor ini membuat TV curved semakin tidak menarik bagi konsumen.

Monitor Gaming Curved Menghindari Semua Masalah Ini

Tidak mengherankan jika monitor gaming curved justru sukses. Karena biasanya ditujukan untuk satu pengguna, sweet spot di tengah layar menjadi fitur, bukan kekurangan. Kita juga duduk lebih dekat ke monitor, sehingga layar gaming curved 27 inci atau 32 inci terasa lebih imersif daripada TV 65 inci yang dilihat dari jarak jauh.

Layar gaming curved juga memiliki tujuan fungsional yang jelas: menempatkan lebih banyak bagian layar dalam pandangan langsung sehingga Anda tidak perlu menengok untuk melihat tepi layar. Ini sangat berguna untuk game shooter online di mana setengah detik ekstra bisa berarti kematian jika Anda melewatkan musuh yang menyerang dari samping.

Tanpa layar curved, kita mungkin tidak akan memiliki monitor ultrawide ekstrem seperti Alienware 34 inci atau Samsung Odyssey Ark 55 inci. Sehdev menambahkan bahwa semakin melengkung monitor ultrawide, semakin baik penggunaannya. Para penggemar simulasi gaming dengan Gran Turismo atau Flight Simulator dari Microsoft juga sangat menginginkan layar curved untuk pengalaman bermain mereka.

Monitor gaming curved QD OLED Alienware 34 inci

Pengalaman memproduksi TV curved ternyata menjadi modal berharga bagi perusahaan untuk membuat monitor gaming curved yang lebih baik. Tanpa pengalaman tersebut, perusahaan akan kesulitan membuat monitor gaming curved yang benar-benar diinginkan konsumen.

TV curved pada dasarnya hanya menjadi gimmick pemasaran di saat perusahaan sedang berusaha keras menjual TV baru. Namun, kegagalan tersebut justru melahirkan teknologi yang lebih berguna dan diminati dalam bentuk monitor gaming curved. Pelajaran dari TV curved menunjukkan bahwa teknologi yang sama bisa sukses jika diterapkan pada kasus penggunaan yang tepat.

Bagi konsumen Indonesia yang tertarik dengan teknologi layar melengkung, monitor gaming curved menjadi pilihan yang jauh lebih masuk akal dibandingkan TV curved. Dengan harga yang semakin terjangkau dan berbagai pilihan ukuran, monitor gaming curved menawarkan imersi dan fungsionalitas yang tidak bisa diberikan oleh TV curved. Teknologi yang gagal di satu segmen justru menemukan panggungnya di segmen lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna.

[CONTENT_END]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.