šŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi TV CRT Sony menampilkan game retro dengan tampilan scanlines khas

Mengapa Game Retro Lebih Indah di Layar TV CRT

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø5 menit membaca
Bagikan:
  • Game retro dari era 80-an hingga awal 2000-an didesain khusus untuk layar CRT, bukan panel datar modern
  • CRT menawarkan motion clarity lebih baik karena menggambar scanlines, berbeda dengan teknik sample-and-hold pada LCD/OLED
  • Resolusi 240p dan 480i adalah standar konsol sebelum era PS3 dan Xbox 360
  • Dithering pada pixel art kehilangan efeknya di layar LCD/OLED karena perbedaan interaksi dengan fosfor
  • TV modern mengalami masalah deinterlacing dan upscaling yang menghasilkan artefak visual dan input lag
  • Membeli CRT tidak disarankan karena berat, berisik, dan sulit diperbaiki, namun emulator dengan filter CRT bisa menjadi alternatif

Telset.id – Pengalaman bermain game retro di konsol asli sering kali mengecewakan ketika dihubungkan ke TV atau monitor modern. Gambar yang tampil terasa berbeda dari ingatan masa kecil, dan ini bukan sekadar efek nostalgia. Alasan utamanya adalah game-game dari era 1980-an, 1990-an, dan awal 2000-an memang didesain khusus untuk ditampilkan pada teknologi layar yang dominan saat itu, yaitu cathode ray tube (CRT).

Ketidakcocokan yang muncul saat memainkan game favorit di layar modern adalah hasil dari memainkannya di luar konteks teknologi yang semestinya. Game retro tidak dibuat untuk dilihat di panel datar. Perbedaan fundamental antara cara kerja CRT dan LCD/OLED inilah yang membuat tampilan game retro di layar modern terlihat kurang tepat.

A 9-inch Sony CRT displays a scene from Chrono Trigger.

Cara Kerja Teknologi CRT yang Berbeda

CRT TV dan monitor sering diingat karena kekurangannya dibandingkan panel datar modern, seperti ukuran yang besar, berisik, dan sangat berat. Namun, di balik kekurangan tersebut, CRT adalah teknologi yang luar biasa. Di dalam setiap layar CRT terdapat tabung vakum tertutup dengan satu atau lebih electron guns yang diarahkan ke layar berpendar (phosphorescent screen).

Berbeda dengan layar modern, CRT tidak menampilkan piksel individual. Sebagai gantinya, CRT menggambar banyak ā€œgaris pindaiā€ (scanlines) horizontal setiap kali electron guns menyala dan menyalakan fosfor di bagian depan layar. Garis-garis tersebut digambar dari kiri ke kanan, atas ke bawah, untuk setiap frame yang dirender. Namun, proses ini tampak instan bagi mata manusia.

LCD dan OLED menggunakan teknik yang disebut sample-and-hold, di mana layar menampilkan satu frame penuh dan menahannya hingga refresh berikutnya. Karena perbedaan teknis ini, CRT menawarkan ketajaman gerakan (motion clarity) yang jauh lebih baik daripada LCD selama beberapa dekade. Baru belakangan ini, dengan hadirnya layar refresh rate tinggi, LCD dan OLED bisa menyamai CRT dalam hal ini.

Hal ini terlihat jelas saat memainkan game seperti The Legend of Zelda: Ocarina of Time. Frame rate game tersebut rendah, sekitar 20FPS, dan tidak konsisten. Namun, hal ini kurang terasa di masa lalu karena cara CRT menangani gerakan.

Resolusi dan Garis Pindai pada CRT

Ketajaman gerakan hanyalah satu bagian dari alasan mengapa game retro terlihat berbeda di layar modern. Faktor kedua adalah resolusi. CRT tidak memiliki resolusi ā€œnativeā€ seperti LCD dan OLED. CRT dapat merender berbagai resolusi tanpa efek smearing yang terjadi ketika layar panel datar dijalankan pada resolusi lebih rendah dari resolusi native-nya.

Industri konsol game menstandarkan dua resolusi sebelum era PlayStation 3 dan Xbox 360, yaitu 240p dan 480i. Saat ini, 240p dan 480i didefinisikan sebagai resolusi ā€œstandar definisiā€ untuk membedakannya dari resolusi ā€œhigh definitionā€ dan ā€œultra-high definitionā€ yang muncul kemudian. Mayoritas CRT TV yang pernah diproduksi adalah set definisi standar.

Angka pada setiap resolusi cukup mudah dipahami: 240p berarti CRT TV menggambar 240 garis horizontal, sementara 480i menggambar 480 garis. Huruf yang mengikuti angka tersebut lebih rumit. Huruf ā€œiā€ pada 480i adalah singkatan dari ā€œinterlacedā€. Saat menampilkan sinyal interlaced, layar menyelesaikan dua pass bergantian untuk menggambar satu gambar. Layar akan menggambar semua garis bernomor ganjil terlebih dahulu, kemudian garis bernomor genap.

Interlacing memungkinkan penyiar menghemat bandwidth di masa ketika teknologi masih terbatas. Salah satu efek samping dari interlacing adalah menghasilkan flicker yang menjadi ciri khas CRT. Sebaliknya, huruf ā€œpā€ pada 240p berarti ā€œprogressiveā€, yang bekerja persis seperti namanya. Layar akan menggambar semua garis dalam satu gambar secara berurutan. Semua resolusi HD adalah resolusi progresif.

240p memungkinkan CRT TV merender gambar tanpa flicker, dan sebelum era PlayStation 2 dan GameCube, ini adalah resolusi yang paling banyak ditargetkan oleh konsol. Namun, CRT definisi standar merender 240p secara berbeda dibandingkan TV modern. CRT meninggalkan garis bernomor genap dalam keadaan hitam. Banyak orang menyebut garis-garis ini sebagai ā€œscanlinesā€, meskipun secara teknis kurang tepat. Garis-garis ini, terutama jika dipadukan dengan grafis piksel, adalah yang paling sering diasosiasikan orang dengan tampilan khas CRT.

Masalah Koneksi dan Upscaling di Layar Modern

Sekarang kita memiliki dasar yang cukup untuk memahami mengapa game retro terlihat berbeda di TV modern. Salah satu masalah utamanya adalah TV LCD dan OLED terbaru tidak menawarkan koneksi analog yang baik. Jika beruntung, TV mungkin memiliki port komposit. Namun, kabel komposit memperkenalkan banyak noise pada sinyal dari konsol.

Masalah lain adalah layar modern tidak dirancang untuk menampilkan konten interlaced. Layar modern menggunakan software untuk mengonversi konten 480i menjadi 480p. Proses ini dikenal sebagai ā€œdeinterlacingā€ dan memperkenalkan input lag, yang membuat game terasa kurang responsif. Lebih jauh lagi, banyak TV modern akan mendeteksi konten 240p sebagai 480i, yang kemudian akan dideinterlace lagi. Dalam kasus ini, proses tersebut menghasilkan artefak visual seperti motion blur.

Semua ini terjadi sebelum TV mencoba melakukan upscaling gambar 480p ke 1080p atau 4K. Kecuali memiliki scaler khusus seperti RetroTink 4K, membesarkan gambar 240p ke 4K tidak akan terlihat bagus.

A copy of Vagrant Story for the PlayStation sits on a colorful mouse mat.

Seni Pixel Art yang Dirancang untuk CRT

Faktor berikutnya adalah seni game retro memang didesain untuk ditampilkan di CRT. Selama beberapa dekade, seniman game mengembangkan dan menyempurnakan teknik untuk membuat pixel art (dan kemudian tekstur 2D) terlihat lebih hidup. Dithering adalah salah satu teknik tersebut. Teknik ini melibatkan penambahan noise visual pada sprite dan tekstur, sering kali dalam bentuk pola kotak-kotak, untuk menciptakan gradasi warna yang halus.

Dithering memberikan efek transformatif pada CRT karena cara teknik ini berinteraksi dengan layar fosfor. Di layar LCD atau OLED, efek dithering hilang sepenuhnya. Bahkan, untuk rilis ulang Final Fantasy Tactics baru-baru ini, Square Enix menghapus dithering dari mode presentasi Classic game tersebut justru karena alasan ini.

Secara terpisah, ada game seperti Silent Hill 2 dan Doom 3 yang terlihat pucat (washed-out) kecuali dimainkan di CRT atau OLED. Sampai munculnya local dimming, panel LCD tidak dapat menghasilkan warna hitam pekat karena ketergantungan teknologi tersebut pada backlighting. Keterbatasan LCD ini mengubah tampilan game selama lebih dari satu dekade.

Apakah Layak Membeli TV CRT?

Meskipun CRT dianggap sebagai cara terbaik untuk merasakan game retro, tidak disarankan untuk membelinya. Sebagian besar CRT tidak cocok dengan kehidupan modern. CRT berat, berisik, dan perbaikannya sering kali sulit serta bisa berbahaya jika tidak tahu cara melakukannya. Menemukan set berkualitas juga semakin sulit. Jika seseorang memiliki CRT TV atau monitor yang bernilai koleksi, mereka hampir pasti tahu nilainya dan akan meminta harga yang sangat tinggi.

CRT memang masih menjadi cara terbaik untuk mengalami game retro, tetapi dengan perangkat seperti Analogue 3D, ada cara yang lebih nyaman untuk menikmati sebagian besar dari apa yang ditawarkan game-game tersebut. Bahkan, banyak emulator modern menawarkan filter CRT yang bagus dan bisa memberikan hasil hingga 99 persen mendekati tampilan aslinya.

Bagi gamer yang ingin merasakan kembali pengalaman bermain game retro di layar CRT, tantangan terbesarnya adalah menemukan perangkat yang masih berfungsi dengan baik. Namun, dengan memahami cara kerja teknologi ini, apresiasi terhadap seni game klasik menjadi lebih dalam. Perkembangan teknologi layar memang mengubah cara kita menikmati karya seni digital, dan game retro adalah contoh nyata bagaimana konteks teknologi memengaruhi persepsi visual.

A Sony CRT displays Super Mario Sunshine.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.