Ilustrasi logo Xbox dengan grafik penurunan pendapatan di latar belakang

Pendapatan Xbox Anjlok, Microsoft Siapkan Rencana Reset

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Pendapatan konten dan layanan Xbox turun 10% di kuartal keempat Microsoft
  • Penjualan perangkat keras Xbox juga menurun 13%
  • Kepala Xbox Asha Sharma mengumumkan rencana reset termasuk PHK besar-besaran
  • Empat studio game dipisahkan termasuk Compulsion Games dan Double Fine Productions
  • Harga konsol Xbox akan naik $100 mulai 1 Agustus
  • Microsoft uji coba cloud gaming gratis dengan iklan
  • CEO Satya Nadella targetkan pertumbuhan Xbox di tahun fiskal 2027
  • Bisnis cloud Microsoft tumbuh 27% dengan pendapatan $59,3 miliar
  • Xbox alami gangguan layanan 16 jam yang pengaruhi game digital dan fisik

Telset.id – Xbox kembali mencatatkan kinerja kuartal yang berat. Pendapatan dari konten dan layanan, termasuk langganan Game Pass, turun 10 persen dalam beberapa bulan terakhir. Penjualan perangkat keras Xbox juga merosot 13 persen, menurut laporan pendapatan kuartal keempat Microsoft yang dirilis pada Rabu.

Kabar ini muncul hanya beberapa minggu setelah kepala Xbox, Asha Sharma, mengumumkan rencana “reset” untuk Xbox yang mencakup PHK besar-besaran dan pemisahan empat studio game, termasuk pengembang South of Midnight, Compulsion Games, dan pencipta Psychonauts, Double Fine Productions. Sebelumnya, Double Fine PHK 23 karyawan di tengah proses pemisahan ini.

Sharma juga telah membuat beberapa perubahan besar lainnya untuk Xbox, termasuk menurunkan harga Game Pass, menguji coba cloud gaming gratis yang didukung iklan, dan menjadikan Gears of War: E-Day serta Clockwork Revolution sebagai eksklusif Xbox. Xbox juga berencana menaikkan harga konsolnya sebesar $100 atau lebih mulai 1 Agustus.

“Dalam hal Xbox, kami membuat keputusan yang diperlukan di seluruh portofolio konten, platform, dan operasi kami untuk mereset bisnis demi pertumbuhan jangka panjang,” kata CEO Microsoft, Satya Nadella, dalam panggilan pendapatan. Ia menambahkan bahwa Microsoft memperkirakan “akan mengembalikan bisnis ke pertumbuhan pada tahun fiskal 2027.”

Di tengah upaya Microsoft meningkatkan bisnis AI, bisnis cloud-nya telah mendorong pendapatan keseluruhan perusahaan menjadi $90 miliar. Pendapatan Microsoft Cloud melonjak 27 persen menjadi $59,3 miliar dalam beberapa bulan terakhir, sementara pendapatan dari bisnis produktivitasnya, yang mencakup layanan seperti Microsoft 365 dan LinkedIn, melonjak 14 persen menjadi $37,8 miliar.

Microsoft 365 Copilot juga mencapai lebih dari 30 juta pengguna berbayar, dan pendapatan Azure mencapai lebih dari $100 miliar untuk pertama kalinya. Namun, Xbox bukan satu-satunya segmen Microsoft yang mengalami penurunan. Segmen Windows OEM dan perangkat perusahaan menurun 7 persen “yang didorong oleh permintaan pasar PC yang lebih rendah.”

Microsoft meluncurkan perangkat Surface baru dengan RTX Spark, prosesor berbasis Arm baru dari Nvidia, pada bulan Juni. Perusahaan juga mulai melakukan perubahan kualitas pada Windows 11 untuk mendapatkan kembali kepercayaan pengguna. Sementara itu, Xbox alami gangguan layanan selama 16 jam yang juga memengaruhi game fisik.

Penurunan pendapatan Xbox ini menunjukkan bahwa divisi gaming Microsoft masih menghadapi tantangan berat. Meskipun Game Pass telah menjadi andalan, penurunan pendapatan dari layanan ini mengindikasikan bahwa strategi langganan mungkin belum cukup untuk mendorong pertumbuhan. Rencana “reset” yang diumumkan Sharma, termasuk PHK dan pemisahan studio, merupakan langkah drastis untuk membenahi bisnis.

Kenaikan harga konsol Xbox yang akan berlaku mulai 1 Agustus juga berpotensi mempengaruhi permintaan di pasar. Dengan harga yang lebih tinggi, konsumen mungkin akan berpikir dua kali untuk membeli perangkat keras Xbox, terutama di tengah persaingan ketat dengan PlayStation dan Nintendo. Di sisi lain, uji coba cloud gaming gratis dengan iklan bisa menjadi strategi untuk menarik lebih banyak pengguna tanpa harus membeli konsol.

Pernyataan Nadella bahwa Microsoft memperkirakan bisnis Xbox akan kembali tumbuh pada tahun fiskal 2027 memberikan gambaran bahwa perusahaan siap untuk berinvestasi dalam jangka panjang. Namun, jalan menuju pemulihan masih panjang dan penuh tantangan. Keputusan untuk menjadikan game-game besar sebagai eksklusif Xbox juga merupakan langkah berani yang bisa menarik minat gamer, meskipun berisiko membatasi basis pengguna.

Secara keseluruhan, kinerja kuartal ini menjadi pengingat bahwa bahkan raksasa teknologi seperti Microsoft tidak kebal terhadap fluktuasi pasar. Dengan fokus yang semakin besar pada AI dan cloud, Xbox harus beradaptasi dengan cepat untuk tetap relevan. Rencana “reset” yang diumumkan Sharma adalah langkah awal, tetapi keberhasilannya akan tergantung pada eksekusi di lapangan.

Bagi para gamer, perubahan ini bisa berarti pengalaman yang berbeda di masa depan. Harga konsol yang lebih mahal mungkin tidak menyenangkan, tetapi potensi cloud gaming gratis dan lebih banyak game eksklusif bisa menjadi daya tarik tersendiri. Microsoft tampaknya siap untuk mengambil risiko demi memastikan Xbox tetap menjadi pemain utama di industri game.

Dengan pendapatan keseluruhan Microsoft yang mencapai $90 miliar, didorong oleh bisnis cloud dan AI, perusahaan memiliki sumber daya yang cukup untuk mendanai transformasi Xbox. Namun, tantangan terbesarnya adalah bagaimana mengubah penurunan saat ini menjadi pertumbuhan yang berkelanjutan. Waktu akan menjawab apakah rencana “reset” ini akan berhasil atau tidak.

Laporan pendapatan ini juga menyoroti pentingnya diversifikasi bagi Microsoft. Sementara bisnis cloud dan produktivitas tumbuh pesat, segmen gaming dan perangkat keras justru tertekan. Ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada satu sektor saja bisa berisiko, dan Microsoft perlu terus berinovasi di semua lini bisnisnya.

Bagi pengguna setia Xbox, kabar ini mungkin menimbulkan kekhawatiran. Namun, komitmen Microsoft untuk mereset bisnis dan fokus pada pertumbuhan jangka panjang memberikan secercah harapan. Dengan game-game eksklusif yang kuat dan layanan seperti Game Pass, Xbox masih memiliki potensi untuk bangkit kembali.

Ke depannya, semua mata akan tertuju pada langkah-langkah konkret yang diambil Microsoft untuk membalikkan keadaan. Apakah kenaikan harga konsol akan diimbangi dengan nilai tambah yang signifikan? Akankah cloud gaming gratis menjadi game changer? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: Microsoft tidak akan tinggal diam.

Dengan target pertumbuhan pada tahun fiskal 2027, Microsoft memiliki waktu sekitar dua tahun untuk membuktikan bahwa rencana “reset” Xbox benar-benar berhasil. Ini adalah periode kritis yang akan menentukan masa depan salah satu merek gaming paling ikonik di dunia.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.