
Infinix GT 30 Pro
Kelebihan dan Kekurangan
Infinix GT 30 Pro
- Chipset Dimensity 8350 Ultimate (4nm) dengan skor AnTuTu device 1.712.036 โ jauh di atas lawan, CPU 450.438 dan GPU 488.940 membuat gaming kelas menengah atas sangat lancar
- Layar AMOLED 6.78 inci 144Hz, 1B colors, 4500 nits peak, dan PWM 2304Hz โ kombinasi refresh rate tinggi dan kecerahan puncak yang sangat terang
- Kamera utama 108 MP (1/1.33") dengan OIS tidak ada, tapi sensor besar dan PDAF; ultrawide 8 MP dengan autofokus โ fleksibel untuk macro
- Pengisian daya lengkap: 45W wired + 30W wireless + reverse wireless 5W โ fitur wireless charging jarang di kelas harga ini
- Harga lebih terjangkau (Rp4.299.000) dengan performa jauh lebih tinggi โ value for money superior
- Stereo speaker, Gorilla Glass 7i, dan build 189g dengan ketebalan 8mm โ bobot wajar untuk layar besar
- Dukungan 2 major Android upgrades (Android 15 ke 17) dengan XOS 15
- Baterai 5500 mAh kalah kapasitas dari Tecno (6500 mAh) โ daya tahan sedikit di bawah lawan meski charging lebih lengkap
- Tidak ada OIS di kamera utama โ stabilisasi video 4K bergantung EIS, kurang ideal untuk vlogging handheld
- Software XOS 15 masih dikenal bloatware dan iklan bawaan โ pengalaman software kurang bersih dibanding HIOS terbaru
- Frame dan back plastik โ build terasa kurang premium dibanding klaim harga
- Tidak ada slot microSD โ storage 256GB fixed (meski sudah lumayan)
- Kamera selfie 13 MP hanya 4K@30fps โ kompeten tapi bukan kelas flagship selfie
- Radio FM ada, tapi tidak ada jack audio 3.5mm โ sedikit ironis
Tecno Pova 8 Pro
- Baterai jumbo 6500 mAh dengan 45W wired (50% dalam 27 menit, 100% dalam 60 menit) + bypass charging โ daya tahan juara untuk heavy user
- Layar AMOLED 6.78 inci 144Hz, HDR, 4500 nits peak, PWM 2592Hz โ sedikit lebih tinggi PWM-nya dari Infinix, ramah mata
- Kamera utama 50 MP (1/1.56") dengan OIS + dual pixel PDAF โ OIS adalah keunggulan nyata untuk video dan low-light dibanding Infinix
- Android 16 dengan HIOS 16 โ versi OS lebih baru satu generasi dari Infinix
- Desain lebih tipis (7.4mm) dan ringan (189g) โ profil ramping untuk baterai 6500 mAh
- Stereo speaker dengan Dolby Atmos โ kualitas audio multimedia lebih baik
- Varian warna Tonino Lamborghini Black โ sentuhan desain kolaborasi premium
- Chipset Dimensity 7400 Ultimate hanya skor AnTuTu SoC 465.597 (CPU 362.029, GPU 103.568) โ GPU-nya kurang dari seperempat GPU Infinix, gaming berat bakal tersendat
- Harga Rp6.099.000 โ selisih Rp1,8 juta dari Infinix tapi performa jauh lebih rendah, value proposition buruk
- Tidak ada wireless charging sama sekali โ kalah fitur dari Infinix yang punya 30W wireless
- Status 'Coming soon, exp. release 2026, August 18' โ ketersediaan pasar belum jelas per November 2026
- Kamera ultrawide 8 MP tanpa autofokus โ tidak bisa macro, kurang fleksibel
- Tidak ada informasi detail video recording (hanya 'Yes') โ transparansi spesifikasi rendah
- Tidak ada Antutu device score resmi โ klaim performa sulit diverifikasi
Rekomendasi
Meskipun Tecno Pova 8 Pro unggul di kapasitas baterai (6500 vs 5500 mAh) dan punya OIS, Infinix GT 30 Pro menang telak di performa: skor AnTuTu device 1.712.036 vs SoC Tecno yang hanya 465.597 โ selisih hampir 4x lipat, terutama di GPU (488.940 vs 103.568). Untuk harga Rp1,8 juta lebih murah, Infinix menawarkan chipset Dimensity 8350 Ultimate yang jauh lebih capable untuk gaming dan multitasking, plus wireless charging 30W yang tidak dimiliki Tecno. Layar keduanya setara (AMOLED 144Hz, 4500 nits), tapi Infinix punya sensor kamera utama lebih besar (1/1.33" vs 1/1.56") meski tanpa OIS. Satu-satunya alasan memilih Tecno adalah jika daya tahan baterai ekstrem dan OIS adalah prioritas absolut โ tapi dengan harga lebih mahal dan performa jauh di bawah, Tecno sulit dibenarkan secara objektif. Infinix GT 30 Pro adalah pilihan rasional untuk 90% pengguna.







