📑 Daftar Isi

Xpeng Yoyo Robotaxi Resmi Beroperasi di Guangzhou, Tanpa LiDAR

Xpeng Yoyo Robotaxi Resmi Beroperasi di Guangzhou, Tanpa LiDAR

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Xpeng resmi mengoperasikan layanan robotaxi komersialnya, Yoyo, di Guangzhou, China, dengan sistem undangan terbatas melalui aplikasi WeChat. Langkah ini menandai babak baru bagi Xpeng dalam menguji kendaraan otonom di jalanan kota yang padat, sekaligus menjadi pijakan menuju operasi penuh tanpa pengemudi pada 2027.

Robotaxi Yoyo bukanlah kendaraan khusus yang dirancang dari nol. Xpeng memilih mengoperasikan versi flagship mereka, GX SUV, sebagai armada taksi otonom. Yoyo sendiri merupakan nama komersial dari Xiaopeng Youyou (小鹏悠游), sebuah layanan yang berjalan di bawah payung ambisi besar Xpeng untuk mengubah cara orang memesan transportasi.

Fakta bahwa Xpeng menurunkan SUV sepanjang 5.265 mm ke jalanan Guangzhou menjadi salah satu keputusan paling mencolok dalam proyek ini. Bandingkan dengan Tesla Model X yang hanya 5.057 mm, Nio ES8 di 5.099 mm, dan Li Auto L9 yang 5.218 mm. Xpeng justru meluncurkan kendaraan yang lebih besar dari hampir semua mobil keluarga di jalanan. Layanan Robotaxi Yoyo ini pun menjadi bukti nyata komitmen Xpeng pada mobilitas otonom.

Spesifikasi dan Cara Kerja Yoyo Robotaxi

GX yang dipakai sebagai armada Yoyo memiliki dimensi lebar 1.999 mm, tinggi 1.800 mm, dan wheelbase 3.115 mm. Bobotnya mencapai 2.690 kg hingga 2.820 kg untuk varian listrik murni. Untuk menggerakkan massa sebesar itu, Xpeng membekali GX dengan powertrain dual-motor all-wheel drive berdaya 577 hp dan torsi 695 Nm. Sasisnya memakai dual-chamber air suspension yang dipadukan dengan active rear-wheel steering.

Dari sisi pengalaman penumpang, robotaxi ini bisa dipanggil lewat kode undangan di aplikasi WeChat. Mini-program dalam WeChat berfungsi sebagai perangkat digital multifungsi yang tertanam dalam rutinitas harian. Lewat aplikasi itu, penumpang dapat mengatur suhu kabin dan menyalakan diffuser wewangian sebelum pintu terbuka. Begitu masuk, penumpang duduk di kursi captain zero-gravity, mengaktifkan pijat punggung, dan menikmati media di layar belakang berukuran besar.

Yang paling membedakan Yoyo dari pesaing adalah otaknya. Waymo dan Baidu menggunakan LiDAR dan memetakan seluruh kota terlebih dahulu, tetapi Xpeng justru meninggalkan sensor LiDAR dan peta definisi tinggi. Xpeng mengandalkan sistem penglihatan end-to-end yang ditenagai model neural Vision-Language-Action generasi kedua, VLA 2.0. Semua perhitungan berjalan di empat chip Turing AI buatan sendiri dengan total daya 3.000 TOPS.

Pengalaman menguji VLA Xpeng di jalanan Beijing pada awal tahun ini menunjukkan bahwa kemampuan penilaian dan ketegasan sistem tersebut terasa seperti manusia, bahkan mampu menyamai dan melampaui kompetitor. Ini menjadi salah satu alasan Xpeng percaya diri melepas SUV hampir tiga ton tanpa tangan manusia yang mengawasi setir.

Regulasi, Strategi Bisnis, dan Rencana Ekspansi

Mengoperasikan algoritma untuk mengendalikan SUV hampir tiga ton tanpa pengemudi membutuhkan dukungan regulasi yang serius. Setelah menyelesaikan lebih dari 2.200 uji coba di Guangzhou, Xpeng memperoleh kualifikasi resmi yang mengizinkan pengujian tanpa awak di jalan Class I, Class II, dan Class III. Seluruh operasi didukung platform pengambilalihan jarak jauh berbasis cloud yang siap turun tangan jika jaringan penglihatan onboard bermasalah.

Timeline resminya cukup ketat. Layanan demonstrasi skala kecil hingga menengah akan diperluas sepanjang 2026, dengan operasi penumpang sepenuhnya tanpa pengemudi dimulai pada 2027. Untuk mempercepat ekspansi, Xpeng memakai pendekatan asset-light. Alih-alih menenggelamkan miliaran dolar untuk menjalankan armada taksi sendiri, Xpeng merekayasa kendaraan, melisensikan perangkat lunak otonom, dan bermitra dengan platform mapan seperti Amap serta operator taksi regional.

Peta jalan finansialnya memprediksi titik impas tingkat kendaraan di Guangzhou bisa tercapai pada paruh kedua 2027, terutama berkat kepadatan kendaraan yang tinggi di sektor-sektor perkotaan utama. Strategi ini juga sejalan dengan transformasi Xpeng menuju apa yang disebut perusahaan sebagai “Physical AI”, mencakup robot humanoid, komputasi canggih, hingga ekosistem mobilitas otonom. Robot Humanoid Xpeng dan mobil terbang X2 menjadi bagian dari visi besar tersebut.

Namun pasar domestik terlalu padat untuk menopang ambisi jangka panjang. Karena itu Xpeng sudah menyiapkan landasan kemitraan Yoyo di Eropa, Asia Tenggara, dan Timur Tengah. Pasar ekspor diperkirakan menyumbang sebagian besar pendapatan operasional otonom perusahaan. Kendaraan robotaxi khusus dijadwalkan hadir pada 2027 untuk melengkapi GX, dengan rencana melewati jaringan ritel dan mengekspor armada mobilitas turnkey lengkap langsung ke operator internasional.

Perjalanan Xpeng menuju titik ini tidak selalu mulus. Perusahaan menempa diri lewat crossover G3 sebelum meraih kesuksesan besar dengan P7. Kesuksesan itu diikuti oleh panggilan bangun ketika G9 generasi pertama diluncurkan dengan harga membingungkan dan struktur trim yang berantakan, yang memicu perombakan eksekutif. Pelajaran pentingnya jelas: membangun mobil bagus hanyalah separuh pertempuran.

Ketua dan CEO Xpeng, He Xiaopeng, memutuskan transformasi yang lebih luas menuju “Physical AI”, dari robot humanoid dan komputasi canggih hingga ekosistem mobilitas otonom. Langkah ini menegaskan posisi Xpeng bukan sekadar produsen mobil listrik, melainkan pemain yang ingin menguasai seluruh rantai nilai mobilitas otonom. Tesla Robotaxi Austin yang kembali ke 8 unit menunjukkan bahwa bahkan pemain besar sekalipun masih bergulat dengan tantangan serupa.

Dengan Yoyo, Xpeng menempatkan taruhan besar pada pendekatan vision-only tanpa LiDAR dan peta HD. Jika berhasil, model ini bisa menjadi cetak biru bagi operator robotaxi lain yang ingin menekan biaya infrastruktur. Keberhasilan di Guangzhou akan menjadi indikator penting apakah strategi asset-light Xpeng mampu bersaing di pasar global yang semakin ramai.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.