πŸ“‘ Daftar Isi

Mobil otonom Waymo melayani penumpang di jalanan Nashville melalui aplikasi Lyft

Waymo dan Lyft Hadir di Nashville, Ini Rinciannya

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Waymo resmi meluncurkan layanan ride-hailing otonom di Nashville, Tennessee melalui aplikasi Lyft.
  • Area layanan mencakup Downtown/Broadway, North Nashville/Germantown, East Nashville, Midtown, dan South Nashville.
  • Penumpang tidak dikenakan biaya tambahan dan tetap bisa memilih pengemudi manusia dengan opsi opt-out.
  • Armada dikelola Flexdrive (anak perusahaan Lyft) dengan depot 80.000 kaki persegi yang akan dibuka bulan depan.
  • Waymo kini beroperasi di 14 kota AS dengan target 1 juta perjalanan mingguan akhir tahun.
  • Kemitraan ini terjadi di tengah hubungan Waymo-Uber yang semakin renggang, dengan kontrak Austin dan Atlanta berakhir 2028.

Telset.id – Waymo resmi mulai menawarkan layanan ride-hailing otonom di Nashville, Tennessee melalui aplikasi Lyft, seiring dengan ekspansi perusahaan yang terus berlanjut di berbagai kota Amerika Serikat. Pengumuman ini disampaikan kedua perusahaan dalam siaran pers pada Rabu, memperluas jangkauan layanan Waymo yang sebelumnya sudah tersedia melalui aplikasi miliknya sendiri di kota tersebut.

Kolaborasi ini menjadi langkah strategis bagi Waymo untuk menjangkau lebih banyak pengguna, mengingat Lyft memiliki basis pengguna yang luas. Sementara itu, Lyft juga diuntungkan dengan hadirnya opsi kendaraan otonom dalam layanannya. Yang menarik, penumpang Lyft tidak akan dikenakan biaya tambahan untuk memilih Waymo, dan mereka tetap bisa memilih pengemudi manusia jika diinginkan.

Layanan Waymo melalui aplikasi Lyft di Nashville mencakup beberapa area utama, yaitu Downtown/Broadway, North Nashville/Germantown, East Nashville, Midtown, dan South Nashville. Penumpang cukup memesan perjalanan seperti biasa, baik itu Standard, Priority Pickup, Wait & Save, maupun Extra Comfort, asalkan titik keberangkatan dan tujuan berada dalam area layanan Waymo.

Kemitraan ini terjadi di tengah persaingan ketat industri ride-hailing otonom di Amerika Serikat. Tesla baru saja meluncurkan Cybercab tanpa setir di Austin pekan lalu, sementara Uber sedang bersiap menghadirkan robotaxi Lucid Gravity di Bay Area pada akhir tahun ini. Semua pemain besar berlomba mengkomersialkan teknologi kendaraan tanpa pengemudi dengan keyakinan bahwa mobil otonom akan lebih aman dibanding pengemudi manusia.

Fleet Terpadu dan Manajemen Operasional

Di balik layar, Waymo dan Lyft akan mengoperasikan armada yang sama untuk melayani pengguna kedua aplikasi. Armada ini dikelola oleh Flexdrive, anak perusahaan Lyft yang bertanggung jawab atas pengisian daya, pembersihan, dan operasional harian. Flexdrive juga akan membuka depot seluas 80.000 kaki persegi di Nashville bulan depan untuk mendukung operasional Waymo di kota tersebut.

Menariknya, penumpang Lyft yang tidak ingin menaiki kendaraan otonom tetap punya pilihan. Aplikasi Lyft akan menyediakan opsi opt-out bagi siapa saja yang tidak menginginkan perjalanan dengan robotaxi. Hal ini menunjukkan pendekatan yang lebih fleksibel dalam mengadopsi teknologi baru di tengah masyarakat.

Jeremy Bird, executive vice president of global growth Lyft, mengungkapkan kepada Axios bahwa kemitraan dengan Waymo di Nashville bisa menjadi cetak biru untuk peluncuran di kota-kota lain di masa depan. β€œHal yang paling kami pertanggungjawabkan adalah utilisasi yang tinggi, apa pun aplikasinya,” ujarnya. β€œKami ingin ini menjadi sesuatu yang jangka panjang. Kami ingin Anda tumbuh bersama kami, dan kami ingin tumbuh bersama Anda,” tambahnya merujuk pada kerja sama dengan Waymo.

Kemitraan ini juga datang di tengah hubungan Waymo dengan Uber yang semakin tidak menentu. Saat ini, Waymo tersedia secara eksklusif melalui aplikasi Uber di Austin dan Atlanta, namun perusahaan berencana mengakhiri kontrak tersebut pada 2028 dan melayani pengguna langsung melalui aplikasinya sendiri di kota-kota itu, menurut laporan Financial Times. Sementara itu, Uber memiliki puluhan peluncuran kendaraan otonom lainnya yang sedang berjalan, termasuk kemitraan dengan Rivian, Lucid, Motional, Zoox, Nissan, May Mobility, dan lainnya.

Uber bahkan telah melobi undang-undang di Washington, DC yang mewajibkan perusahaan robotaxi untuk juga mengoperasikan mobil dengan pengemudi manusia. Langkah ini menunjukkan adanya ketegangan antara dua raksasa ride-hailing dalam memperebutkan pasar kendaraan otonom yang sedang berkembang pesat.

Waymo sendiri kini menawarkan perjalanan sepenuhnya otonom tanpa pengemudi keselamatan manusia di 14 kota di Amerika Serikat. Pekan lalu, perusahaan menambahkan Denver yang bersalju ke dalam daftar tersebut, yang akan menjadi ujian nyata kemampuan Waymo menghadapi cuaca ekstrem. Perusahaan juga telah melampaui 500.000 perjalanan berbayar mingguan di AS pada akhir kuartal pertama, dan menargetkan satu juta perjalanan per minggu pada akhir tahun ini.

Ekspansi Waymo ke berbagai kota menunjukkan keyakinan perusahaan pada teknologi otonomnya. Dari robotaxi Zeekr hingga perluasan layanan di berbagai wilayah, Waymo terus membangun ekosistem kendaraan otonom yang semakin matang. Perusahaan juga telah mengantongi ribuan tiket parkir di San Francisco sepanjang 2025-2026, menunjukkan aktivitas operasional yang padat di berbagai kota.

Dengan tambahan Denver, San Diego, dan Tampa, total kota layanan Waymo kini mencapai 14 kota di AS. Ekspansi ini sejalan dengan rencana perusahaan untuk terus memperluas jangkauan layanan ke berbagai kota di Amerika Serikat.

Kehadiran Waymo di Nashville melalui Lyft menjadi tonggak penting dalam industri ride-hailing otonom. Model kemitraan antara perusahaan teknologi otonom dan platform ride-hailing konvensional ini bisa menjadi pola yang akan diikuti di kota-kota lain. Dengan pendekatan yang memberi pilihan kepada pengguna, industri ini mencoba menyeimbangkan adopsi teknologi baru dengan kenyamanan dan kepercayaan publik.

Bagi Lyft, kemitraan ini adalah peluang untuk bersaing dengan Uber yang lebih dulu menjalin kerja sama dengan Waymo di beberapa kota. Dengan menghadirkan opsi kendaraan otonom melalui aplikasinya, Lyft berharap dapat menarik lebih banyak pengguna yang ingin mencoba teknologi terbaru tanpa harus beralih ke aplikasi lain.

Sementara itu, bagi Waymo, kehadiran di Lyft membuka akses ke pasar pengguna yang lebih luas. Meskipun perusahaan sudah memiliki aplikasi sendiri, berkolaborasi dengan platform ride-hailing populer seperti Lyft dapat mempercepat adopsi layanan robotaxi di kalangan masyarakat umum. Ini sejalan dengan target ambisius perusahaan untuk mencapai satu juta perjalanan mingguan pada akhir tahun.

Persaingan di industri kendaraan otonom Amerika Serikat semakin memanas dengan masuknya berbagai pemain besar. Tesla dengan Cybercab-nya di Austin, Uber dengan berbagai kemitraan AV-nya, dan kini Waymo yang terus memperluas jangkauan melalui berbagai kanal, semuanya berlomba untuk memenangkan kepercayaan publik terhadap teknologi kendaraan tanpa pengemudi.

Yang jelas, industri ini sedang mendekati titik infleksi. Investasi miliaran dolar yang ditanamkan berbagai perusahaan dalam teknologi kendaraan otonom mulai menunjukkan hasil nyata dengan semakin banyaknya kota yang memiliki layanan robotaxi komersial. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah teknologi ini akan diadopsi, melainkan seberapa cepat dan seberapa luas jangkauannya akan berkembang.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.