Telset.id – Sebuah celah menarik terungkap pada Tesla Cybercab, robotaxi yang selama ini dipasarkan tanpa setir maupun pedal. Seorang penumpang yang mencoba layanan tersebut di Austin menemukan bahwa kendaraan ini ternyata menyimpan kontrol manual virtual di dalam layar sentuhnya, sebuah temuan yang langsung menuai sorotan.
Temuan ini menjadi penting karena mengungkap praktik desain Tesla yang kontroversial. Alih-alih menyediakan setir dan pedal konvensional, Tesla justru menyembunyikan kontrol manual di balik antarmuka sentuh, sebuah keputusan yang dinilai kurang praktis dan memicu pertanyaan besar dari regulator keselamatan jalan.
Matthew Skrzypczak, penumpang yang mengalaminya, membagikan kejadian tersebut melalui akun X miliknya pada akhir pekan lalu. Saat hendak memulai perjalanan dengan Cybercab, layar kendaraan tidak menampilkan antarmuka standar untuk memulai perjalanan. Sebagai gantinya, yang muncul adalah tampilan “joystick virtual untuk pengemudian manual”.
“I have a feeling I wasn’t supposed to see this,” tulis Skrzypczak dalam unggahannya, yang menandakan bahwa dirinya merasa tidak seharusnya melihat fitur tersebut.
Dalam video yang diunggahnya, terlihat layar menampilkan tampilan terbagi yang memperlihatkan berbagai sudut kamera serta area untuk mengendalikan sejumlah fungsi mobil. Yang paling krusial, terdapat joystick sentuh untuk memindahkan gigi mobil, dengan tulisan “forward” di bagian atas dan “reverse” di bagian bawah.
Skrzypczak berhasil menutup pintu dan membunyikan klakson melalui kontrol tersebut. Namun, saat mencoba menggerakkan mobil, kendaraan tidak mau bergerak sama sekali. Kondisi ini mungkin terjadi karena ia menggunakan joystick dengan cara yang keliru, atau bisa juga merupakan pembatasan sistem. Terlepas dari itu, mobil yang tidak bergerak justru terbilang lebih aman mengingat ada pejalan kaki di sekitar lokasi kejadian.

Fitur kontrol manual ini hampir dipastikan diperuntukkan bagi karyawan Tesla. Namun, menjadi tidak jelas mengapa penumpang seperti Skrzypczak, dan setidaknya satu orang lain yang melaporkan masalah serupa, bisa mengaksesnya. Kejadian ini menunjukkan adanya celah pada sistem antarmuka yang seharusnya hanya bisa diakses oleh pihak internal.
Keberadaan kontrol manual sebenarnya merupakan hal yang wajar dan diperlukan, terutama jika karyawan atau petugas darurat perlu memindahkan kendaraan saat terjadi malfungsi. Namun, menempatkannya di balik layar sentuh yang licin dinilai jauh kurang praktis dibandingkan setir dan pedal konvensional. Keputusan desain ini diduga kuat hanya demi gengsi CEO Elon Musk yang ingin menunjukkan kemampuan teknologi otonom penuh.
Masalah ini tidak luput dari perhatian regulator. Tidak lama setelah Tesla meluncurkan layanan Cybercab di Austin, National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) membuka audit terhadap cara Tesla menyatakan sendiri (self-certified) bahwa kendaraan tersebut aman untuk digunakan di jalan raya, meskipun tidak memiliki kontrol manual konvensional.
Audit ini merupakan langkah lanjutan dari kekhawatiran yang sudah lama muncul mengenai pendekatan Tesla terhadap keselamatan. Keputusan untuk menghilangkan setir dan pedal sepenuhnya memang menjadi pembeda utama Cybercab, namun temuan kontrol manual tersembunyi ini justru memperkuat argumen bahwa kendaraan tersebut masih membutuhkan intervensi manusia dalam situasi tertentu.
Insiden ini menjadi pelajaran penting bagi industri otomotif, khususnya dalam pengembangan kendaraan otonom. Meskipun teknologi self-driving terus berkembang, kebutuhan akan kontrol manual sebagai langkah darurat tetap menjadi pertimbangan keselamatan yang krusial. Pertanyaannya sekarang, apakah pendekatan Tesla dengan layar sentuh ini akan bertahan atau justru memicu regulasi yang lebih ketat.
Bagi pengguna dan calon penumpang Cybercab, temuan ini memberikan gambaran bahwa teknologi otonom penuh masih memiliki celah yang perlu disempurnakan. Meskipun pengalaman berkendara tanpa setir mungkin terdengar futuristik, insiden ini membuktikan bahwa aspek keselamatan dan kontrol darurat tidak boleh diabaikan demi mengejar inovasi.
Ke depannya, publik dan regulator akan terus mengawasi bagaimana Tesla merespons temuan ini. Apakah perusahaan akan memperbaiki sistem keamanan aksesnya, atau justru mempertahankan desain yang ada dengan alasan kebutuhan karyawan. Yang jelas, insiden ini telah membuka diskusi baru mengenai keseimbangan antara inovasi teknologi dan standar keselamatan yang berlaku.
Tesla sendiri belum memberikan pernyataan resmi mengenai temuan ini. Namun, dengan adanya audit dari NHTSA, tekanan terhadap perusahaan untuk memberikan klarifikasi dan memastikan keselamatan penumpangnya akan semakin besar. Insiden ini juga menjadi pengingat bahwa dalam perlombaan menuju kendaraan otonom, faktor keselamatan manusia harus tetap menjadi prioritas utama.





Komentar
Belum ada komentar.