Telset.id – Serikat pengemudi rideshare di Atlanta mendesak pemerintah kota untuk memberlakukan biaya dampak robotaxi atau robotaxi impact fee sebesar $0,50 hingga $1,00 untuk setiap perjalanan. Langkah ini muncul sebagai respons atas menurunnya pendapatan pengemudi Uber dan Lyft sejak kehadiran layanan Waymo di kota tersebut pada Juni 2025 lalu.
Atlanta Rideshare Drivers Union (ARDU) mengklaim para pengemudi mengalami penurunan upah, waktu tunggu yang lebih lama antar perjalanan, dan berkurangnya jumlah penumpang. Liza Ramsey dari ARDU mengusulkan kebijakan ini dalam pertemuan dengan anggota Dewan Kota Atlanta pada Rabu (26/8/2026). Dana yang terkumpul dari biaya tersebut akan dialokasikan ke “driver transition fund” untuk membantu pelatihan kerja dan program bantuan bagi pengemudi yang terdampak.
Dampak Waymo terhadap Penghasilan Pengemudi
“Jika perusahaan mendapat untung dari mengganti pekerja manusia dengan otomatisasi, mereka harus berkontribusi membantu pekerja tersebut bertransisi ke peluang berikutnya,” ujar Ramsey. Namun, ia mengakui bahwa serikat belum mengumpulkan data keras yang membuktikan penurunan pendapatan tersebut. Keluhan tersebut didasarkan pada bukti-bukti tangkapan layar pendapatan yang dibagikan para pengemudi di grup chat.
Sejak diluncurkan pada Juni 2025, layanan Waymo di Atlanta telah menempuh lebih dari 5,4 juta mil dalam perjalanan otonom penuh. Waymo juga menjalin kemitraan dengan Uber untuk memudahkan pengguna memesan robotaxi langsung melalui aplikasi rideshare tersebut, sama seperti memesan pengemudi manusia.
ARDU juga meminta larangan robotaxi menjemput penumpang dari Bandara Internasional Hartsfield-Jackson Atlanta. Bandara selama ini menjadi lokasi yang andal bagi pengemudi untuk mendapatkan penumpang.
Baca Juga:
Gelombang Protes di Berbagai Kota
Ketidakpuasan pengemudi terhadap robotaxi tidak hanya terjadi di Atlanta. Pada Januari lalu, pengemudi rideshare di San Francisco melakukan protes menuntut regulasi yang lebih ketat terhadap kendaraan otonom. Aksi serupa juga terjadi di New York City, Los Angeles, dan Seattle.
ARDU bukan satu-satunya serikat pekerja yang melawan kendaraan otonom. Bulan ini, cabang California dari serikat Teamsters menggugat pembuat kebijakan negara bagian atas regulasi baru yang dinilai terlalu ramah terhadap industri kendaraan otonom. Mereka menyebut regulasi tersebut tidak mempertimbangkan dampak buruk truk otonom terhadap lapangan pekerjaan.
Di sisi lain, data dari Occupational Safety and Health Administration (OSHA) menunjukkan pengemudi uji untuk Waymo dan Zoox mengalami lebih dari dua lusin cedera selama 2024 dan 2025 akibat pengereman mendadak atau gerakan tiba-tiba dari kendaraan otonom. Beberapa pekerja harus absen berbulan-bulan setelah mengalami cedera seperti whiplash ketika kendaraan berhenti secara mendadak.
Kemungkinan besar pengemudi uji untuk pengembang kendaraan otonom lain juga mengalami cedera serupa, namun perusahaan mereka mungkin dibebaskan dari kewajiban pelaporan ke OSHA.
Menariknya, ekspansi robotaxi terus berlanjut di berbagai wilayah. Beberapa negara bagian bahkan membuka peluang lebih luas bagi layanan ini. Sementara itu, perusahaan seperti Uber juga menghadapi tantangan regulasi di pasar lain terkait praktik bisnisnya.
Waymo sendiri terus memperluas jangkauan internasionalnya dengan rencana peluncuran di Munich, Jerman. Perusahaan tersebut juga baru saja membagikan 10 pelajaran yang dipetik setelah kendaraannya menempuh lebih dari 200 juta mil secara otonom. Salah satu pelajaran yang paling menarik perhatian adalah pentingnya sensor multimodal, yang bertentangan langsung dengan pendekatan kamera-only yang digunakan Tesla.
Konflik antara kepentingan ekonomi pengemudi manusia dan kemajuan teknologi kendaraan otonom ini kemungkinan akan terus menjadi perdebatan hangat. Kebijakan yang diambil pemerintah Atlanta dalam merespons tuntutan ARDU bisa menjadi preseden bagi kota-kota lain yang menghadapi situasi serupa.





Komentar
Belum ada komentar.