📑 Daftar Isi

Tangkapan layar Tesla FSD mencoba melaju ke rel kereta api

Tesla FSD Masih Tabrak Rel Kereta, Fitur Terbaru Gagal Total

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Tesla FSD v14.3.7 gagal mengenali perlintasan kereta api aktif, mobil justru berakselerasi menuju rel
  • Insiden terekam dashcam oleh jurnalis otomotif Lei Xing pada 26 Agustus 2026
  • Tesla mengklaim FSD v14.3 meningkatkan penanganan objek tidak biasa, tapi bukti menunjukkan sebaliknya
  • NHTSA meluncurkan penyelidikan setelah 58 laporan pelanggaran lalu lintas FSD
  • Terjadi 3 insiden serius di perlintasan kereta api sejak Maret, termasuk tabrakan langsung dengan kereta
  • Pengemudi tetap harus waspada dan siap mengambil alih kendali meskipun menggunakan FSD

Telset.id – Sistem Full Self-Driving (FSD) Tesla kembali gagal mengenali palang pintu perlintasan kereta api yang sedang aktif. Insiden terbaru ini terjadi saat mobil melaju menuju rel dengan lampu merah berkedip, dan pengemudi harus menginjak rem secara manual untuk menghindari tabrakan dengan kereta barang yang melintas beberapa detik kemudian.

Video dashcam yang diunggah oleh jurnalis otomotif Lei Xing menunjukkan Tesla yang dikendarainya, dengan versi perangkat lunak FSD v14.3.7, awalnya berhenti di depan perlintasan. Namun, secara tiba-tiba mobil tersebut justru berakselerasi menuju rel sebelum Xing memutuskan untuk mengambil alih kendali. Insiden ini terjadi pada 26 Agustus 2026 dan menjadi bukti bahwa masalah klasik yang sudah lama dikeluhkan pengguna Tesla ini masih belum terselesaikan.

Masalah Berulang di Versi Terbaru

Kejadian ini menjadi sorotan karena FSD v14.3.7 adalah pembaruan terbaru yang tersedia untuk kendaraan Tesla. Yang lebih penting, versi ini seharusnya sudah membawa perbaikan signifikan. Tesla merilis FSD v14.3 awal tahun ini dengan klaim bahwa versi tersebut meningkatkan penanganan “objek langka dan tidak biasa yang memanjang, menggantung, atau bersandar ke jalur kendaraan,” yang seharusnya mencakup kereta yang sedang melintas.

Sayangnya, klaim tersebut terbukti tidak berhasil. Dalam video yang diunggah Xing, terlihat jelas bahwa sistem FSD memiliki waktu yang cukup untuk bereaksi terhadap palang perlintasan yang berkedip dan suara klakson kereta yang keras. Namun, perangkat lunak tersebut tetap memilih untuk maju ke arah rel.

A screenshot of a Tesla trying to drive itself onto train tracks.

Xing juga membagikan video dari kamera pilar kanan belakang mobilnya. Rekaman tersebut menunjukkan kereta yang tertutup semak-semak saat mobil melambat, kemudian muncul ke pandangan tepat saat mobil mulai berakselerasi lagi. Ini menegaskan bahwa sistem seharusnya bisa mendeteksi keberadaan kereta, tetapi gagal melakukannya.

Riwayat Kecelakaan di Perlintasan Kereta

Masalah ini bukanlah hal baru bagi Tesla. Pada bulan Maret, sebuah Tesla menabrak palang pintu perlintasan tanpa berusaha melambat sama sekali. Insiden lain menunjukkan mobil yang melaju langsung ke perlintasan saat menunggu kereta lewat. Bahkan ada kasus di mana Tesla tertabrak kereta setelah berbelok ke jalur rel.

Serangkaian insiden ini menarik perhatian regulator Amerika Serikat. National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) menghubungi Tesla pada bulan September setelah NBC News menerbitkan investigasi tentang kecelakaan-kecelakaan tersebut. Sebulan kemudian, NHTSA meluncurkan penyelidikan resmi terhadap produsen mobil listrik itu setelah menerima 58 laporan Tesla yang menjalankan FSD melanggar peraturan lalu lintas.

Agen tersebut secara eksplisit menyatakan akan meninjau perilaku FSD saat mendekati perlintasan kereta api sebagai bagian dari penyelidikan. Namun, insiden terbaru yang melibatkan FSD v14.3.7 menunjukkan bahwa perbaikan yang dijanjikan belum juga membuahkan hasil.

Konsekuensi untuk Fitur Otonom

Kegagalan FSD dalam menangani perlintasan kereta api menjadi perhatian serius, terutama karena Tesla terus mengembangkan layanan robotaxi. Perusahaan telah meluncurkan layanan robotaxi tanpa pengemudi di Austin, dan sedang menghadapi berbagai tantangan regulasi di beberapa wilayah.

Jika sistem FSD masih gagal dalam situasi yang relatif jelas seperti perlintasan kereta api dengan lampu berkedip dan klakson berbunyi, pertanyaan besar muncul tentang kesiapan teknologi ini untuk digunakan tanpa pengawasan manusia. Insiden ini juga memperkuat kekhawatiran regulator yang tengah menyelidiki perilaku FSD di perlintasan kereta api.

Penyelidikan NHTSA yang sedang berlangsung akan menjadi penentu penting bagi masa depan teknologi otonom Tesla. Temuan dari investigasi ini bisa berdampak luas pada pengembangan fitur self-driving tidak hanya untuk Tesla, tetapi juga untuk seluruh industri kendaraan otonom.

Pengemudi Tetap Garda Terakhir

Insiden yang dialami Xing menjadi pengingat bahwa meskipun teknologi self-driving terus berkembang, pengemudi tetap harus waspada dan siap mengambil alih kendali kapan saja. Xing sendiri mengakui bahwa ia selamat karena bereaksi cepat terhadap situasi berbahaya tersebut.

“Kereta akan menabrak saya jika saya tidak mengerem,” tulis Xing dalam unggahannya. “Lampu perlintasan kereta berkedip dan klakson kereta sangat keras.”

Sementara Tesla terus mengklaim bahwa FSD semakin canggih, bukti di lapangan menunjukkan masih ada celah signifikan dalam kemampuan sistem untuk menangani situasi darurat. Kegagalan berulang ini tidak hanya merusak kepercayaan publik terhadap teknologi self-driving, tetapi juga bisa memicu regulasi yang lebih ketat.

Perkembangan ini tentu menjadi perhatian bagi pengguna Tesla di Indonesia yang menantikan fitur FSD. Meskipun belum tersedia secara resmi di pasar lokal, perkembangan regulasi dan teknologi di pasar global akan mempengaruhi kapan dan bagaimana fitur ini akhirnya hadir di Indonesia.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.