📑 Daftar Isi

Tesla Ubah Kontrak Lama FSD, Janji Autopilot Mulai Pudar

Tesla Ubah Kontrak Lama FSD, Janji Autopilot Mulai Pudar

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Tesla kembali menjadi sorotan setelah diketahui mengubah atau memblokir akses ke kontrak penjualan asli perangkat lunak driver-assist premium mereka. Banyak pemilik mobil listrik Tesla melaporkan bahwa dokumen digital yang berisi janji otonomi penuh dari beberapa tahun lalu kini tidak bisa diakses atau telah diedit.

Masalah ini menimpa perangkat lunak yang dikenal sebagai Full Self-Driving (FSD). Selama bertahun-tahun, pembeli membayar mahal untuk fitur ini berdasarkan janji bahwa mobil mereka pada akhirnya bisa menyetir sendiri tanpa campur tangan manusia. Kini, pembeli awal menemukan bahwa akun online mereka tidak lagi menampilkan teks asli yang mereka setujui. Sebagai gantinya, dokumen tersebut berisi kata-kata baru atau gagal dimuat sama sekali.

Salah satu pemilik Tesla, Oliver Abcarius, menemukan perubahan ini saat menyiapkan kasus untuk meminta pengembalian dana. Ia membeli opsi perangkat lunak FSD untuk Tesla Model 3 2018 pada 12 Agustus 2019. Saat mencoba mengunduh perjanjian aslinya, situs web Tesla mengarahkannya ke halaman yang tidak valid. Istrinya mengalami masalah serupa dengan Tesla Model Y 2020 yang dibeli pada 29 Mei 2020 dengan paket perangkat lunak tersebut.

Pasangan itu menyadari bahwa hanya dokumen yang menyebutkan perangkat lunak otonom yang gagal dibuka. Semua dokumen lain untuk mobil listrik mereka, termasuk perjanjian untuk kendaraan tanpa upgrade FSD, dapat dimuat tanpa masalah. Pengemudi lain dengan Tesla lama yang dilengkapi Hardware 3 (HW3) juga mengonfirmasi kesalahan serupa di akun mereka.

Kronologi Janji Otonomi yang Memudar

Kronologi waktu menjelaskan mengapa kontrak lama ini penting. Dari 2016 hingga awal 2024, Tesla menjual upgrade dengan nama “Full Self-Driving Capability.” Harga perangkat lunak ini mencapai €12.800. Materi pemasaran menjanjikan bahwa mobil listrik Tesla akan mencapai otonomi penuh melalui pembaruan nirkabel rutin. CEO Elon Musk sering menyatakan bahwa pengawasan manusia akan segera menjadi tidak diperlukan.

Strategi berubah pada Maret 2024 ketika Tesla merilis versi perangkat lunak 12.3.3. Perusahaan secara resmi mengganti nama produk menjadi Full Self-Driving (Supervised). Catatan kecil yang ditambahkan selama pembaruan ini secara eksplisit menyebutkan bahwa sistem memerlukan pengemudi aktif dan tidak membuat kendaraan benar-benar otonom. Pada akhir 2025, Tesla menyesuaikan target kompensasi perusahaan agar sesuai dengan tingkat bantuan pengemudi yang lebih rendah ini.

Pada April 2026, Musk sendiri mengakui bahwa kendaraan dengan teknologi HW3 yang diproduksi antara 2016 dan 2023 tidak dapat menangani kemampuan otonomi sejati karena keterbatasan perangkat keras. Tesla belum memberikan strategi yang jelas untuk memperbaiki situasi ini, membuat jutaan mobil listrik di jalan tidak akan pernah mencapai otonomi yang diiklankan.

Upaya Hapus Jejak Digital

Masalah kontrak ini mengikuti upaya sebelumnya oleh Tesla untuk membersihkan pernyataan masa lalu mereka. Pada Agustus 2024, Tesla menghapus posting blog resmi dari Oktober 2016 yang mengklaim setiap kendaraan pabrik memiliki perangkat keras yang diperlukan untuk menyetir lebih aman daripada manusia. Postingan tersebut menghilang dari situs web resmi di tengah tekanan hukum yang meningkat, namun arsip digital berhasil menyimpan teks aslinya.

Dokumen yang hilang ini menjadi bukti penting dalam beberapa tuntutan hukum besar. Tesla membela diri terhadap gugatan yang totalnya mencapai €12,38 miliar. Kasus-kasus tersebut mencakup klaim iklan palsu, penipuan investor, dan tanggung jawab atas sistem Autopilot. Sebuah gugatan class-action bersertifikat di Amerika Serikat mencakup semua iklan FSD yang diterbitkan antara akhir 2016 dan pertengahan 2024.

Otoritas pemerintah dan hukum telah memutuskan melawan Tesla dalam kasus yang lebih kecil. Sebuah pengadilan administratif California menetapkan bahwa Tesla menggunakan praktik pemasaran yang menipu untuk perangkat lunak bantuan pengemudinya. Dalam sengketa kontrak terpisah, seorang arbiter independen memaksa Tesla untuk mengembalikan $10.600 kepada seorang pembeli. Pertempuran hukum serupa terus berlanjut di pengadilan Eropa dan China.

Para ahli hukum memandang hilangnya file online ini sebagai potensi masalah besar bagi Tesla. Perusahaan tidak dapat menghapus atau menyembunyikan bukti penting ketika gugatan aktif sedang berlangsung. Di pengadilan, hilangnya atau perubahan dokumen relevan secara sengaja memberikan alasan bagi hakim untuk menghukum perilaku ini dengan memihak konsumen atau menjatuhkan denda finansial berat terhadap perusahaan.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa janji teknologi tinggi tidak selalu terwujud. Bagi pemilik Tesla yang membeli FSD dengan iming-iming otonomi penuh, perubahan kontrak ini terasa seperti pengkhianatan. Sementara itu, Tesla terus menghadapi tekanan hukum yang semakin besar terkait klaim Autopilot Tesla yang dinilai buruk oleh berbagai pihak.

Kejadian ini juga menambah daftar panjang kontroversi seputar sistem bantuan pengemudi Tesla. Sebelumnya, mobil listrik Tesla tabrak mobil polisi karena sistem Autopilot. Bahkan, fitur Autopilot Tesla ternyata gampang ditipu, yang semakin memperkuat keraguan publik terhadap kemampuan sistem tersebut.

Komentar

Belum ada komentar.