Telset.id β Sebuah studi di Inggris mengungkap bahwa sejumlah fitur teknologi canggih pada mobil modern ternyata jarang digunakan oleh pemilik kendaraan, meskipun fitur-fitur tersebut dirancang untuk meningkatkan kenyamanan, kemudahan, dan keselamatan berkendara. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kecanggihan teknologi yang ditawarkan pabrikan dengan tingkat pemanfaatan nyata di lapangan.
Studi yang dilakukan Censuswide terhadap 1.350 pengendara di Inggris pada musim panas 2026 ini menemukan tingkat penggunaan fitur kendaraan yang berbeda-beda. Bahkan, sebagian pengemudi mengaku tidak mengetahui cara mengoperasikan fitur-fitur tersebut. Riset ini dilakukan atas permintaan jaringan diler otomotif Inggris, Dick Lovett, dan dilaporkan Carscoops pada Sabtu (22/8).
Hasil studi menunjukkan 25,9 persen pemilik mobil yang dilengkapi adaptive cruise control tidak pernah mengaktifkan fitur tersebut. Lebih memprihatinkan lagi, tujuh persen lainnya mengaku tidak mengetahui cara menggunakan adaptive cruise control. Pola serupa juga ditemukan pada sejumlah fitur bantuan pengemudi lainnya.
Hampir 18 persen pengemudi tidak menggunakan lane-keeping assist, sementara 21,3 persen mematikan fitur pengereman darurat otomatis. Sebagian pengemudi menilai sistem bantuan tersebut terlalu agresif sehingga dianggap menimbulkan lebih banyak gangguan dibandingkan manfaatnya. Fitur asisten suara juga tidak digunakan oleh 17,8 persen pengemudi yang memilikinya.
Selain fitur keselamatan, studi juga mengungkap fitur kenyamanan yang relatif jarang digunakan secara rutin. Dari responden yang memiliki kendaraan dengan kursi pijat, hanya 22 persen yang mengaku rutin menggunakan fitur tersebut. Sebanyak 22,4 persen responden yang memiliki augmented reality head-up display menggunakannya secara rutin, sedangkan 24,5 persen rutin menggunakan fitur menyalakan mesin dari jarak jauh.
Menariknya, studi menemukan bahwa sejumlah fitur canggih tersebut juga belum banyak tersedia pada kendaraan responden. Sebanyak 67,3 persen kendaraan responden tidak dilengkapi kursi pijat, 62 persen tidak memiliki fitur menyalakan mesin dari jarak jauh, 60,5 persen tidak memiliki augmented reality head-up display, dan 57,3 persen tidak memiliki pengaturan suhu kabin melalui aplikasi.
Baca Juga:
Teknologi Sederhana Lebih Banyak Digunakan
Sebaliknya, teknologi yang lebih sederhana cenderung lebih banyak digunakan oleh pengemudi. Studi menemukan 58,3 persen responden rutin menggunakan konektivitas Bluetooth, diikuti kamera mundur sebanyak 45,7 persen, navigasi satelit bawaan kendaraan 44,5 persen, dan kaca depan berpemanas 41 persen. Sementara itu, sebanyak 27,3 persen responden rutin menggunakan mode berkendara, dengan tingkat penggunaan lebih tinggi pada kelompok usia 25 hingga 34 tahun, yakni 38,3 persen.
Usia juga berkaitan dengan perbedaan penggunaan sejumlah teknologi kendaraan. Bluetooth rutin digunakan oleh 68,5 persen pengemudi berusia 25β34 tahun dan 68,8 persen pada kelompok usia 35β44 tahun. Angkanya turun menjadi 49,7 persen pada pengemudi berusia 55 tahun ke atas. Perbedaan juga terlihat pada pengisian daya nirkabel yang digunakan 44,4 persen pengemudi berusia 35β44 tahun, dibandingkan hanya 20,7 persen pada pengemudi berusia 55 tahun ke atas.
Penggunaan fitur menyalakan mesin dari jarak jauh juga menurun drastis, dari lebih dari seperempat pengemudi berusia di bawah 35 tahun menjadi hanya 5,1 persen pada kelompok usia 55 tahun ke atas. Sebaliknya, penggunaan kaca depan berpemanas justru meningkat dari 27,2 persen pada pengemudi berusia 18β24 tahun menjadi hampir 45 persen pada kelompok usia 45β54 tahun.
Pentingnya Memahami Teknologi Kendaraan
Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan teknologi kendaraan tidak selalu sejalan dengan banyaknya fitur yang tersedia pada mobil. Pakar otomotif Dick Lovett, Alex Lee, mengatakan pemilik kendaraan perlu meluangkan waktu untuk memahami berbagai teknologi yang tersedia pada mobil mereka.
βSeiring mobil menjadi semakin canggih, meluangkan waktu untuk mempelajari kemampuan kendaraan Anda bukan hanya soal mendapatkan manfaat yang sepadan dengan uang yang dikeluarkan, tetapi juga dapat membantu meningkatkan keselamatan, kenyamanan, dan pengalaman berkendara secara keseluruhan,β kata Lee.
Studi ini juga merilis daftar fitur mobil yang paling sering digunakan, dengan konektivitas Bluetooth menempati posisi teratas (58,3 persen), diikuti kamera mundur (45,7 persen), navigasi bawaan (44,5 persen), kaca depan berpemanas (41 persen), kursi berpemanas (31,9 persen), pengisian daya ponsel nirkabel (31,9 persen), pemantauan titik buta (29,4 persen), kamera 360 derajat (27,8 persen), mode berkendara (27,3 persen), dan adaptive cruise control (26,9 persen).
Temuan ini menjadi pengingat bahwa fitur canggih sekalipun tidak akan memberikan manfaat jika pengemudi tidak memahami cara menggunakannya. Seiring dengan semakin kompleksnya sistem pencahayaan dan teknologi kendaraan modern, edukasi pengguna menjadi faktor penting agar investasi pada fitur keselamatan benar-benar memberikan nilai yang diharapkan.





Komentar
Belum ada komentar.