πŸ“‘ Daftar Isi

Pekerja Hyundai Mogok Kerja Penuh Pertama dalam Satu Dekade

Pekerja Hyundai Mogok Kerja Penuh Pertama dalam Satu Dekade

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Sekitar 40.000 anggota serikat pekerja Hyundai diperkirakan melakukan mogok kerja penuh pertama dalam satu dekade di Korea Selatan. Aksi yang berlangsung pada Sabtu (21/8) waktu setempat ini menuntut kenaikan batas usia pensiun, bonus lebih besar, serta perlindungan pekerjaan dari dampak otomatisasi dan kecerdasan artifisial (AI).

Karyawan Hyundai dan Kia meninggalkan lini perakitan dalam aksi mogok kerja penuh pertama mereka dalam satu dekade. Mereka bergabung dengan para pekerja dari perusahaan pemasok yang sama-sama menuntut upah lebih baik dan kepastian kerja di tengah kekhawatiran akan penggunaan robot di pabrik.

Mogok kerja selama satu hari itu bertujuan menyoroti tuntutan mereka untuk menaikkan batas usia pensiun wajib yang saat ini berada di level 60 tahun. Para pekerja juga menuntut bonus yang lebih besar serta perlindungan pekerjaan yang lebih baik dari dampak otomatisasi dan AI.

Ketua Korean Metal Workers’ Union Park Sang-man menegaskan aksi ini penting untuk melindungi industri otomotif Korea. β€œMogok ini untuk melindungi akar industri otomotif Korea dan menegakkan martabat tenaga kerja,” ujarnya. Serikat pekerja tersebut juga mencatat bahwa aksi mogok bersama itu melibatkan karyawan dari sekitar 50 lokasi.

Robot Boston Dynamics Jadi Pemicu Kekhawatiran

Kekhawatiran akan penggantian tenaga kerja manusia oleh robot semakin menguat. Hal ini terjadi karena perusahaan tengah bersiap mulai menggunakan robot dari Boston Dynamics di pabrik-pabriknya pada 2028. Kondisi ini secara alami menimbulkan kekhawatiran bahwa robot pada akhirnya dapat menggantikan pekerja manusia sebagai upaya memangkas biaya dan meningkatkan produktivitas.

Pada Juli, produsen otomotif tersebut mengatakan robot Atlas diperkirakan mulai beroperasi di Hyundai Motor Group Metaplant America dalam dua tahun. Robot tersebut pada awalnya akan mendukung tugas pengurutan komponen. Namun, perusahaan memperkirakan kemampuan robot tersebut akan meningkat seiring waktu dan pada akhirnya dapat melakukan perakitan komponen pada 2030.

Mogok kerja ini merupakan yang terbaru dari serangkaian gangguan ketenagakerjaan yang dimulai pada Juli dan dilaporkan melibatkan aksi mogok sebagian. Upaya tersebut disebut telah berdampak pada produksi sekitar 55.200 kendaraan dengan nilai lebih dari 1,67 miliar dolar AS atau sekitar Rp29,47 triliun.

Isu otomatisasi di tempat kerja memang menjadi perhatian global. Berbagai negara mulai mempertimbangkan dampak AI terhadap lapangan pekerjaan, termasuk dalam proses rekrutmen dan operasional industri. Situasi di Hyundai ini menjadi contoh nyata bagaimana transisi teknologi dapat memicu ketegangan antara manajemen dan pekerja.

Dampak Mogok terhadap Produksi Hyundai

Mogok kerja yang melibatkan puluhan ribu pekerja ini berpotensi mengganggu rantai pasokan dan produksi kendaraan Hyundai secara signifikan. Sebelumnya, aksi mogok sebagian yang dimulai pada Juli telah berdampak pada produksi sekitar 55.200 kendaraan. Angka ini menunjukkan besarnya skala gangguan yang bisa terjadi ketika pekerja melakukan aksi mogok penuh.

Para pekerja yang melakukan perjalanan ke kantor pusat perusahaan untuk menggelar aksi di luar gedung menunjukkan keseriusan tuntutan mereka. Tuntutan kenaikan batas usia pensiun dari 60 tahun menjadi isu krusial, mengingat banyak pekerja yang khawatir kehilangan pekerjaan lebih awal di tengah ancaman otomatisasi.

Kekhawatiran pekerja terhadap penggunaan robot di pabrik bukan tanpa alasan. Hyundai sendiri telah mengonfirmasi rencana penggunaan robot Atlas dari Boston Dynamics di fasilitas produksinya. Meskipun pada awalnya robot hanya akan mendukung tugas pengurutan komponen, perusahaan memperkirakan robot tersebut dapat melakukan perakitan komponen pada 2030.

Perkembangan ini menjadi pengingat bahwa transisi menuju otomatisasi perlu dikelola dengan hati-hati. Keseimbangan antara efisiensi produksi dan perlindungan tenaga kerja menjadi tantangan yang harus dihadapi tidak hanya oleh Hyundai, tetapi juga industri otomotif global secara keseluruhan.

Mogok kerja ini juga menjadi sorotan karena melibatkan karyawan dari sekitar 50 lokasi, menunjukkan solidaritas pekerja yang luas. Aksi bersama antara karyawan Hyundai, Kia, dan perusahaan pemasok memperkuat posisi tawar serikat pekerja dalam negosiasi dengan manajemen.

Dengan nilai produksi yang terdampak mencapai lebih dari 1,67 miliar dolar AS, mogok kerja ini jelas memberikan tekanan ekonomi yang signifikan. Perusahaan harus segera mencari solusi untuk mengakhiri aksi mogok dan mencegah kerugian yang lebih besar.

Keputusan Hyundai untuk menggunakan robot di pabriknya merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing. Namun, implementasi teknologi ini harus mempertimbangkan dampak sosialnya terhadap ribuan pekerja yang menggantungkan hidup pada industri otomotif.

Mogok kerja ini menjadi momentum penting bagi industri otomotif untuk mendiskusikan masa depan tenaga kerja di era otomatisasi. Bagaimana perusahaan menyeimbangkan kebutuhan efisiensi dengan kesejahteraan pekerja akan menentukan keberlanjutan industri ini ke depan.

[CONTENT_END]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.