Telset.id ā Renault resmi memperkenalkan Renault 8 Gordini Concept, versi modern dari ikon 1960-an, dengan wujud mobil listrik dua pintu berpostur lebar yang tetap mempertahankan penggerak motor belakang dan penggerak roda belakang seperti aslinya. Debut konsep ini berlangsung di Renault Carwalk dan akan naik panggung di Paris Motor Show yang berlangsung 12 hingga 18 Oktober. Kabar buruknya, Renault tidak punya rencana membawa konsep ini ke jalur produksi.
Desain Retro yang Menyimpan 270 Hp
Renault belakangan memang sedang dalam performa desain yang kuat. Setelah Renault 5 yang retro, Twingo yang menggemaskan, dan R17 restomod yang memukau, pabrikan Prancis itu kembali mengulanginya lewat Renault 8 Gordini Concept. Terinspirasi model asli 1960-an, show car dua pintu ini duduk rendah ke tanah dengan stance lebar yang mengingatkan pada mobil reli era puluhan tahun lalu. Di bagian depan, lekukan tengah kap mesin yang khas dan tidak kurang dari enam lampu bundar menciptakan wajah yang sulit dilupakan, persis seperti versi aslinya.
Yang penting digarisbawahi, Renault tidak sekadar mengambil 8 Gordini lama lalu mendandani ulang. Ini mobil yang sepenuhnya baru, dibangun dari nol di atas platform listrik modern, dengan roda 19 inci di depan dan 20 inci di belakang. Meski begitu, semua elemen asli tetap hadir, termasuk sumber tenaga yang dipasang di belakang. Bedanya, Gordini 1960-an yang menyenangkan untuk dikendarai mengandalkan mesin belakang 95 tenaga kuda untuk menggerakkan roda belakang, sementara versi modernnya mendapat motor listrik yang jauh lebih bertenaga, yakni 270 hp. Dipadukan dengan torsi instan khas motor listrik, EV bertinggi 50 inci dengan bodi serat karbon ini disebut bakal sangat seru untuk dikendarai.
Baca Juga:
Interior Fokus Berkendara dan Proses Desain Kompetisi Internal
Jelas bahwa konsep listrik ini tidak memiliki empat pintu seperti versi aslinya, yang berarti interiornya hanya bisa menampung dua orang. Itu bukan masalah besar mengingat ini adalah mobil satu-satunya, tetapi seandainya Renault memutuskan memproduksi EV retro berbentuk kotak ini, ada keyakinan bahwa ia akan cukup sukses. Sebuah strip aluminium brushed dari pilar ke pilar dengan enam dial bundar membentuk dasbor, sementara lempengan aluminium brushed lainnya menampung berbagai sakelar kontrol di antara kedua kursi. Renault menyebut interior konsep ini dirancang untuk meminimalkan distraksi dan membiarkan pengemudi fokus pada berkendara. Bahkan ada stopwatch di tengah dasbor. Kursi bucket menjadi keharusan, dengan corduroy biru menghiasi bagian tengah dan sandaran, sementara panel pintu berlapis Alcantara menciptakan atmosfer seperti mobil balap.
Meski tanpa rencana produksi, Renault ternyata menaruh usaha besar untuk mewujudkan konsep ini. Lebih dari 300 sketsa dikirim oleh para desainer merek dalam sebuah kompetisi internal, tetapi hanya dua yang lolos dan mendapat mock-up skala 2:5. Kemudian, fitur terbaik dari masing-masing model dipilih untuk membentuk produk akhir yang terlihat seperti sekarang. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Renault memperlakukan 8 Gordini Concept bukan sebagai latihan gaya semata, melainkan hasil kurasi dari banyak gagasan desain internal.
Langkah Renault menghidupkan kembali nama Gordini sejalan dengan strategi retro-modern yang tengah mereka jalankan di jajaran EV. Sebelumnya, Renault 5 E-Tech telah memperbarui seluruh varian dengan jarak tempuh yang naik signifikan, memperlihatkan bahwa pendekatan desain nostalgia mereka diiringi peningkatan teknis. Di segmen yang lebih terjangkau, persaingan juga memanas, seperti terlihat dari kemunculan EV murah Nissan yang menyasar ceruk serupa dengan Twingo. Artinya, arah desain dan posisi produk Renault kini bergerak di tengah tekanan kompetitif yang nyata, bukan sekadar pamer konsep.
Renault juga tidak bergerak sendirian dalam hal teknologi. Di jalur yang berbeda, mereka menjajaki mobil EREV metanol bersama Gely yang diklaim lebih irit dari Audi Q5, menandakan bahwa eksplorasi powertrain mereka tidak berhenti pada satu pendekatan. Namun untuk 8 Gordini Concept, pilihan teknologinya justru sangat setia pada akar: motor belakang, penggerak roda belakang, dan karakter berkendara yang mengutamakan sensasi. Kombinasi bodi serat karbon, tinggi hanya 50 inci, serta tenaga 270 hp menempatkan konsep ini sebagai pernyataan desain yang berani di tengah arus elektrifikasi yang serba seragam.
Yang perlu dicatat, debut di Renault Carwalk dan panggung Paris Motor Show 12ā18 Oktober menegaskan bahwa ini murni pertunjukan desain. Tidak ada jadwal produksi, tidak ada harga, dan tidak ada target volume. Renault memilih menjadikannya one-off, sebuah keputusan yang meninggalkan pertanyaan terbuka soal apakah warisan Gordini akan pernah kembali ke jalan raya dalam bentuk listrik. Untuk saat ini, jawabannya jelas: tidak.
Bagi pasar Indonesia, konsep ini lebih relevan sebagai cermin arah desain Renault ke depan ketimbang sebagai produk yang bisa dibeli. Namun gaungnya tetap terasa, terutama karena nama-nama seperti Twingo dan Renault 5 kini sering dibahas dalam konteks EV murah global, termasuk lewat model seperti Nissan Pixo EV 2027 yang disebut sebagai kembaran Renault Twingo. Dinamika aliansi dan persaingan di grup ini pun tak lepas dari bayang-bayang masa lalu, termasuk saat Carlos Ghosn diberhentikan dan memunculkan pertanyaan soal nasib Renault serta Mitsubishi.
Renault 8 Gordini Concept dengan demikian berfungsi ganda: sebagai penghormatan pada warisan 1960-an dan sebagai sinyal bahwa pabrikan Prancis ini masih ingin bermain di wilayah desain yang emosional. Tanpa produksi, nilainya terletak pada apa yang ia komunikasikan tentang identitas merek, bukan pada lembar spesifikasi. Dan dalam konteks itu, 270 hp serta bodi serat karbon setinggi 50 inci adalah cara yang cukup meyakinkan untuk mengatakan bahwa Gordini belum sepenuhnya dilupakan.





Komentar
Belum ada komentar.