Telset.id β Perusahaan manufaktur digital asal Florida, Haddy, telah memproduksi kapal drone militer menggunakan teknologi 3D printing robotik skala besar. Kapal yang diberi nama TF-179 Drone Boat ini menjadi bukti bagaimana industri pertahanan Amerika Serikat mulai beralih ke metode produksi yang lebih cepat dan murah.
Haddy, yang berbasis di St. Petersburg, Florida, mengumumkan kapal tersebut tanpa menyebutkan identitas pelanggan di balik proyek ini. Perusahaan yang berdiri pada 2022 ini awalnya fokus pada pembuatan furnitur dan elemen arsitektur khusus, sebelum akhirnya mengalihkan sebagian besar fokusnya ke manufaktur pertahanan.
Fasilitas produksi Haddy di St. Petersburg membentang sekitar 30.000 kaki persegi atau setara 2.800 meter persegi. Di dalamnya terdapat delapan sistem pencetakan CEAD berformat besar. Tujuh dari mesin tersebut beroperasi di atas rel, yang memungkinkan jangkauan lebih luas untuk memproduksi komponen tunggal berukuran besar tanpa sambungan.
Sebelumnya, Haddy telah menggunakan proses serupa untuk mencetak lambung kapal yang diperkuat serat karbon untuk HavocAI. Kapal uji tersebut berhasil diselesaikan dari tahap desain hingga uji coba laut hanya dalam waktu sembilan hari.
βIndustri maritim sedang mendefinisikan ulang cara kapal dirancang dan diproduksi,β kata Haddy dalam pernyataan resmi perusahaan saat mengumumkan kapal TF-179.
Haddy merilis foto-foto kapal TF-179 yang telah selesai diproduksi, namun tidak memberikan detail mengenai misi yang dimaksudkan untuk kapal tersebut. Perusahaan menyebutkan bahwa permintaan terhadap drone maritim kecil yang dapat dikorbankan telah melonjak di industri pertahanan AS selama kurang lebih satu tahun terakhir.
Pergeseran Strategi Angkatan Laut
Haddy juga menjalin kemitraan dengan Blue Ops, divisi drone maritim dari Red Hat Holdings, untuk membantu menggandakan kapasitas produksi kapal permukaan tanpa awak. Blue Ops menjual kapal drone tersebut ke militer AS dan sekutunya sebagai alternatif yang lebih kecil dan lebih murah dibandingkan kapal patroli berawak tradisional.
Haddy didirikan oleh Jay Rogers, mantan marinir dan lulusan Princeton yang sebelumnya memimpin usaha 3D printing serupa bernama Local Motors. Perusahaan ini membuka fasilitas 3D printing yang diklaim sebagai yang terbesar di dunia, berdasarkan total throughput dan jumlah mesin, pada April 2025.
Tren menuju perangkat keras angkatan laut yang lebih cepat dan lebih murah ini mengikuti pelajaran langsung dari perang Ukraina melawan Rusia di Laut Hitam. Kapal drone yang dioperasikan dari jarak jauh dengan biaya murah telah berulang kali merusak atau menghancurkan kapal perang yang jauh lebih mahal milik Armada Laut Hitam Rusia.
Bahkan di Iran, gerombolan drone murah telah digunakan untuk melacak pesawat mahal, beberapa di antaranya akhirnya ditembak jatuh, termasuk pesawat F-15E Strike Eagle Angkatan Udara AS senilai 60 juta dolar AS dan beberapa drone MQ-9 Reaper senilai 30 juta dolar AS.
Hasil-hasil tersebut mendorong perencana pertahanan Amerika dan sekutunya untuk memprioritaskan kecepatan dan volume dibandingkan jadwal pembuatan kapal tradisional yang memakan waktu bertahun-tahun. Kapal drone kecil yang dapat dibuang dapat diganti dan didesain ulang jauh lebih cepat dibandingkan kapal perang multimiliar dolar.
Manufaktur aditif robotik masuk dalam perhitungan ini karena Haddy dapat menyesuaikan desain kapal secara digital dan mencetak versi baru dalam hitungan hari. Pembuatan kapal konvensional untuk kapal angkatan laut berawak dapat memakan waktu bertahun-tahun, sebuah kecepatan yang semakin dipandang terlalu lambat oleh perencana pertahanan untuk menghadapi ancaman saat ini.
Kebutuhan di medan perang telah berubah dengan cepat dalam konflik angkatan laut baru-baru ini, mulai dari Laut Hitam hingga Timur Tengah, yang menambah tekanan pada para produsen.
Haddy belum menyatakan apakah desain TF-179 akan diadaptasi untuk pelanggan militer lain di luar klien yang belum disebutkan namanya tersebut. Apakah pendekatan pencetakan ini dapat menandingi daya tahan dan keandalan jangka panjang kapal angkatan laut yang dibangun secara konvensional masih perlu dibuktikan.
Baca Juga:
Permintaan terhadap kapal drone yang cepat diproduksi ini juga sejalan dengan perkembangan teknologi di berbagai sektor. Inovasi manufaktur cepat seperti yang dilakukan Haddy menunjukkan bagaimana pendekatan produksi modern dapat menjawab kebutuhan industri yang berubah dengan cepat dan efisien.
Dengan kemampuan mencetak kapal dalam hitungan hari, Haddy berada di garis depan transformasi industri maritim pertahanan. Pendekatan ini menawarkan fleksibilitas desain yang belum pernah ada sebelumnya, memungkinkan iterasi cepat berdasarkan kebutuhan operasional yang berkembang di medan perang modern.

Kemitraan dengan Blue Ops menjadi langkah strategis untuk memperluas kapasitas produksi kapal permukaan tanpa awak. Langkah ini mencerminkan bagaimana perusahaan swasta semakin berperan dalam rantai pasokan pertahanan modern.
Kehadiran TF-179 Drone Boat menandai babak baru dalam produksi peralatan militer, di mana kecepatan dan fleksibilitas menjadi prioritas utama. Industri pertahanan global kini menyaksikan bagaimana teknologi 3D printing dapat menjadi jawaban atas kebutuhan kapal perang yang lebih cepat diproduksi dan lebih mudah diadaptasi.
Meskipun masih ada pertanyaan mengenai daya tahan jangka panjang kapal hasil cetak 3D dibandingkan kapal konvensional, langkah Haddy menunjukkan arah baru yang patut diperhatikan. Perkembangan ini juga sejalan dengan tren adopsi teknologi baru di berbagai industri.
Bagi industri pertahanan, kemampuan memproduksi kapal drone dalam hitungan hari bukan sekadar efisiensi, melainkan perubahan fundamental dalam cara berpikir tentang produksi peralatan militer. Ketika ancaman berkembang cepat, kemampuan merespons dengan perangkat keras yang sesuai menjadi semakin krusial.





Komentar
Belum ada komentar.