Telset.id ā Amerika Serikat kehilangan sekitar 45 unit drone MQ-9 Reaper selama perang melawan Iran, angka yang setara dengan seperempat dari total armada yang dimiliki sebelum konflik dimulai. Kerugian besar ini menyoroti kerentanan mahal yang dihadapi militer AS dalam operasi berkelanjutan di dekat wilayah Iran.
Menurut laporan The Washington Post, dari sekitar 185 unit MQ-9 Reaper yang dimiliki AS sebelum pertempuran, sekitar 25 persennya telah hancur. Laporan ini muncul di tengah kesadaran bahwa pertahanan udara Iran menjadi tantangan utama bagi operasi Reaper di wilayah tersebut.
MQ-9 Reaper adalah pesawat nirawak buatan General Atomics yang dirancang untuk misi pengintaian dan serangan presisi. Drone ini mampu terbang selama sekitar 24 jam dan beroperasi pada ketinggian mencapai sekitar 13.000 meter. Dengan persenjataan berupa rudal AGM-114 Hellfire dan bom berpemandu Mark 82, satu unit Reaper dapat melakukan pengintaian sekaligus serangan secara bersamaan.

Namun, kecepatan terbang yang relatif rendah dan ketinggian operasi yang tidak terlalu tinggi membuat drone ini rentan terhadap sistem intersepsi berbasis darat. Bahkan, sebagian pesawat tidak hilang saat terbang melainkan ketika masih berada di pangkalan militer AS selama serangan Iran berlangsung.
Biaya Kerugian Mencapai Lebih dari USD 1,3 Miliar
Intensitas penggunaan Reaper di wilayah Iran dan dekat Selat Hormuz menjadi penyebab utama tingginya tingkat keausan armada. Penggantian kerugian ini terbukti sulit dilakukan karena pembuatan Reaper baru membutuhkan waktu dan sumber daya yang cukup besar.
Satu sistem MQ-9 Reaper dapat menghabiskan biaya hingga USD 30 juta. Dengan demikian, total kerugian akibat hilangnya 45 unit drone ini diperkirakan menembus angka USD 1,3 miliar. Kondisi ini semakin diperparah dengan kebutuhan militer AS untuk terus memasok drone bagi operasi lain yang berjalan bersamaan di berbagai lokasi.
Untuk mengatasi tekanan ini, Washington telah mengambil langkah dengan membeli sisa persediaan Reaper yang dimiliki General Atomics dari stok yang ada. MQ-9 Reaper sendiri digunakan untuk peran pengintaian dan serangan oleh sejumlah negara sekutu, termasuk Belgia, Inggris, Denmark, India, Italia, Spanyol, Belanda, Polandia, Prancis, dan Jepang.
Baca Juga:
Keunggulan Ekonomi Iran dalam Perang Drone
Kerugian drone ini merupakan bagian dari pola yang lebih luas yang memengaruhi stok amunisi dan interceptor militer AS selama konflik. Iran menggunakan rudal pertahanan udara tipe 358 yang diperkirakan memiliki biaya antara USD 20.000 hingga USD 90.000 per rudal.
Bahkan jika Iran menembakkan 100 rudal untuk menyerang satu MQ-9 Reaper, total pengeluaran hanya mencapai USD 2 juta hingga USD 9 juta. Dengan harga satu Reaper yang mencapai puluhan juta dolar, pertukaran semacam itu tetap memberikan keuntungan finansial yang signifikan bagi Iran.
Washington tampaknya meremehkan seberapa cepat konfrontasi berkepanjangan dengan Iran dapat menguras persediaan interceptor pertahanan udaranya. Pentagon menolak berkomentar secara spesifik mengenai kerugian Reaper dan secara konsisten membantah bahwa stok amunisi mereka menipis. Menteri Pertahanan Pete Hegseth juga membantah laporan terbaru yang menyebut komandan militer telah menandai stok interceptor yang sangat rendah.
Terlepas dari perdebatan tersebut, Pentagon telah mendesak kontraktor pertahanan untuk mempercepat produksi sistem senjata penting. Di tengah meningkatnya kerugian, Amerika Serikat juga mulai mencari drone yang lebih murah dan dapat dikerahkan dalam jumlah yang jauh lebih besar. Alternatif semacam itu diharapkan dapat mengurangi biaya finansial dan strategis akibat kehilangan pesawat mahal secara individual di masa depan.
Namun, apakah alternatif yang lebih murah ini mampu menandingi daya tahan dan kapasitas persenjataan Reaper masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab. Sementara itu, upaya pengembangan drone pengganti terus berlanjut seiring dengan drone murah pengganti yang tengah dijajaki Pentagon. Langkah lain seperti pengembangan drone counter-UAS juga menjadi fokus untuk menghadapi ancaman serupa di masa depan.





Komentar
Belum ada komentar.