📑 Daftar Isi

Ilustrasi pemasangan baterai rumah Tesla Powerwall di garasi hunian modern

Persaingan Baterai Rumah Makin Ketat, Harga Sewa Turun Drastis

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Tesla memangkas harga sewa Powerwall lebih dari dua pertiga sebagai respons atas persaingan dari Base Power
  • Base Power berhasil mengumpulkan dana USD 2 miliar dalam waktu kurang dari setahun
  • Skema sewa di Texas: Powerwall 27 kWh seharga USD 35/bulan, Base Power 39,2 kWh seharga USD 19/bulan
  • Teknologi virtual power plant (VPP) menjadi kunci penurunan harga karena menggabungkan ribuan baterai rumah sebagai satu pembangkit virtual
  • Pasar VPP bernilai USD 7,4 miliar dan diproyeksikan tembus USD 30 miliar pada 2033
  • VPP dapat dibangun dalam hitungan bulan, jauh lebih cepat dibandingkan pembangkit tradisional yang butuh 2-4 tahun
  • Base Power memasang baterai 8 megawatt-jam per hari dan menargetkan penggandaan kapasitas
  • Tren VPP diprediksi menyebar luas seiring kebutuhan pusat data akan koneksi listrik cepat

Telset.id – Persaingan di pasar sistem baterai rumah kian memanas setelah Tesla merespons agresif kehadiran pendatang baru seperti Base Power. Perusahaan yang identik dengan Powerwall ini baru saja memperkenalkan skema sewa baterai dengan pemotongan harga bulanan lebih dari dua pertiga. Langkah ini menjadi sinyal jelas bahwa dominasi Tesla di segmen tersebut mulai terusik.

Keputusan Tesla memangkas harga sewa terjadi di tengah gencarnya ekspansi Base Power yang berhasil mengumpulkan dana hingga USD 2 miliar dalam waktu kurang dari setahun. Para pemilik rumah di Texas kini memiliki opsi menarik: menyewa Powerwall Tesla berkapasitas 27 kilowatt-jam dengan biaya USD 35 per bulan, atau memilih baterai Base Power berkapasitas 39,2 kilowatt-jam dengan tarif lebih murah, yakni USD 19 per bulan.

Baca Juga:

Faktor Pendorong Turunnya Harga Sewa Baterai Rumah

Penurunan harga yang signifikan ini tidak terjadi tanpa sebab. Ada dua faktor utama yang memungkinkan skema sewa semurah itu, yaitu menurunnya biaya produksi baterai dan kehadiran teknologi bernama virtual power plant (VPP). VPP merupakan sistem yang menggabungkan dan mengoordinasikan sumber daya energi terdistribusi seperti baterai rumah dan pemanas air, sehingga ribuan perangkat individual dapat berperilaku di jaringan listrik layaknya satu pembangkit listrik besar.

Melalui VPP, perusahaan seperti Tesla dan Base Power dapat memanfaatkan armada baterai mereka untuk membantu utilitas dan operator jaringan mengisi celah pasokan saat permintaan listrik sedang tinggi. Konsep ini menjadi solusi alternatif yang jauh lebih efisien dibandingkan dua opsi tradisional yang selama ini digunakan utilitas: membangun pembangkit listrik khusus yang dikenal sebagai “peaker plants” atau membayar pengguna energi besar seperti pabrik untuk memutus sambungan listrik selama beberapa jam.

Operator VPP mengisi daya baterai saat tarif listrik sedang rendah, kemudian menjual kembali listrik tersebut ke jaringan dengan harga lebih tinggi ketika permintaan melonjak. Keuntungan dari selisih harga ini kemudian dibagi: sebagian menjadi pendapatan operator, sebagian lagi diteruskan ke konsumen dalam bentuk tarif listrik murah, baterai cadangan yang terjangkau, atau keduanya.

Potensi Pasar dan Keunggulan Kecepatan VPP

Meskipun pasar teknologi ini masih tergolong kecil dengan nilai USD 7,4 miliar saat ini, proyeksi pertumbuhannya sangat menjanjikan. Grandview Research memperkirakan pasar ini akan menembus USD 30 miliar pada 2033. Lonjakan permintaan listrik dari pusat data AI dan elektrifikasi ekonomi membuat utilitas serta operator jaringan semakin antusias mengadopsi VPP.

Keunggulan utama VPP terletak pada kecepatan pembangunannya. Jika membangun peaker power plant bisa memakan waktu bertahun-tahun, VPP dapat diwujudkan hanya dalam hitungan bulan. Pemasangan baterai di rumah-rumah warga menghilangkan berbagai hambatan terkait lahan, perizinan, dan interkoneksi. Base Power sendiri memiliki kesepakatan dengan CoServ, koperasi listrik di Texas Utara, untuk membangun VPP berkapasitas 100 megawatt. Tim Pianta, kepala kemitraan utilitas di Base Power, menegaskan target pemasangannya kurang dari 12 bulan, jauh lebih cepat dibandingkan pembangkit tradisional yang butuh dua hingga empat tahun.

Kehadiran VPP juga mengurangi kebutuhan utilitas untuk membangun jaringan listrik dan infrastruktur pendukung baru. Karena baterai tersebar di berbagai lokasi dekat tempat konsumsi listrik, beban investasi infrastruktur menjadi lebih ringan.

Perjalanan VPP menuju peran kunci di jaringan listrik tidak selalu mulus. Selama bertahun-tahun, Tesla sebenarnya telah mengoperasikan VPP menggunakan armada Powerwall, namun tidak memasarkannya secara eksplisit kepada konsumen. Strategi lama Tesla lebih fokus mendorong pemilik rumah memanfaatkan baterai untuk arbitrase pasokan listrik, mengisi daya dengan kelebihan energi surya murah di siang hari dan menggunakannya di malam hari.

Pendekatan tersebut berhasil mengumpulkan pemasangan Powerwall hingga kapasitas 6,7 gigawatt. Namun, kehadiran pemain baru seperti Base Power dengan paket sewa bulanan yang agresif kini memaksa Tesla mengubah strategi. Base Power tercatat memasang baterai dengan kapasitas 8 megawatt-jam setiap hari, dan menargetkan penggandaan laju tersebut pada akhir tahun.

Software menjadi keunggulan tambahan bagi VPP. Baterai skala utilitas, yang merupakan pesaing terdekat VPP, mengalami kerugian karena harus terhubung langsung ke jaringan listrik. Konsekuensinya, mereka harus berhadapan dengan kemacetan antrean dan waktu tunggu koneksi yang panjang. Sebaliknya, solusi penyimpanan terdistribusi mampu melewati kedua hambatan tersebut.

Tren adopsi VPP saat ini memang masih terpusat di beberapa pasar seperti Texas dan California. Namun, Nicole Tomasin, chief commercial officer di Energy Access Innovations, memprediksi penyebaran VPP akan meluas ke seluruh Amerika Serikat dalam beberapa tahun ke depan. Dorongan utamanya berasal dari kebutuhan pusat data untuk terhubung ke jaringan listrik dengan lebih cepat.

“Ketika semakin banyak hyperscalers dan pusat data beroperasi, program VPP akan semakin dipercepat karena permintaan yang meningkat,” ujar Tomasin. “Mereka tidak membeli kilowatt-jam, melainkan kecepatan interkoneksi. Armada terdistribusi dapat dirakit dalam hitungan bulan, mengalahkan antrean yang memakan waktu bertahun-tahun.”

Bagi konsumen, persaingan ini jelas menguntungkan. Biaya penyimpanan energi rumah yang selama ini menjadi penghalang utama kini mulai terkikis. Dengan harga sewa yang semakin terjangkau, teknologi baterai rumah tidak lagi eksklusif untuk kalangan dengan kantong tebal, melainkan semakin terbuka bagi pemilik rumah pada umumnya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.