šŸ“‘ Daftar Isi

Pabrik Sila di Moses Lake yang memproduksi material baterai silikon-karbon

Pentagon Salurkan Pinjaman Rp22 Triliun ke Sila untuk Baterai Silikon

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • Sila menerima pinjaman USD 1,4 miliar dari Departemen Pertahanan AS untuk ekspansi produksi
  • Pinjaman diumumkan Jumat lalu di tengah kesulitan pembeli baterai AS dapatkan material non-China
  • Material silikon-karbon Sila simpan listrik 20-40% lebih banyak dibanding anoda grafit
  • Pabrik di Moses Lake mulai beroperasi September, kapasitas 2 GWh per tahun
  • Ekspansi pabrik lima kali lipat untuk dukung produksi lebih dari 100.000 EV
  • Sila telah kumpulkan USD 1,5 miliar dari investor swasta dan bermitra dengan Mercedes-Panasonic
  • Pentagon juga danai Sunrise Energy Metals, Niron Magnetics, dan Strategic Bauxite

Telset.id – Sila, startup baterai asal Amerika Serikat, mendapatkan pinjaman senilai USD 1,4 miliar atau sekitar Rp22 triliun dari Departemen Pertahanan AS (Pentagon). Pendanaan ini ditujukan untuk memperluas produksi material baterai silikon-karbon milik perusahaan, sebuah langkah strategis di tengah ketergantungan industri baterai global pada pasokan dari China.

Kabar pinjaman ini diumumkan pada Jumat lalu. Pendanaan tersebut hadir di saat para pembeli baterai AS, mulai dari perusahaan otomotif hingga kontraktor pertahanan, kesulitan mendapatkan material baterai yang diproduksi di luar China. Saat ini, sebagian besar anoda baterai lithium-ion menggunakan grafit, dan rantai pasokan material tersebut didominasi oleh perusahaan-perusahaan China.

Banyak perusahaan, termasuk Group14 dan Amprius, yang tengah mengembangkan anoda silikon. Material ini menjanjikan kemampuan menyimpan listrik 20 hingga 40 persen lebih banyak dibandingkan anoda grafit. Kepadatan energi yang lebih baik ini dapat membuka jalan bagi sel baterai yang lebih tahan lama atau baterai yang lebih kecil dan ringan. Kedua karakteristik tersebut merupakan daya tarik utama untuk aplikasi pertahanan dan mobilitas, termasuk drone dan kendaraan listrik (EV).

Sila memproduksi material silikon-karbonnya di pabrik yang berlokasi di Moses Lake, Washington. Hal ini menjadikannya salah satu dari sedikit sumber material anoda yang tidak terbebani tarif atau masalah geopolitik. Pabrik tersebut mulai beroperasi pada September lalu dan dengan ukurannya saat ini, dapat memproduksi sekitar 2 gigawatt-jam material anoda setiap tahunnya.

Sila saat ini tengah berupaya memperluas pabrik Moses Lake hingga lima kali lipat dari ukuran sekarang. Perluasan ini memungkinkan perusahaan untuk memproduksi material yang cukup bagi lebih dari 100.000 EV. Pada bulan Juli lalu, Sila berhasil mengumpulkan dana sebesar USD 300 juta untuk mendanai perluasan pabrik tersebut. Putaran pendanaan ini dipimpin oleh Atreides Management dan Sutter Hill Ventures.

Baca Juga:

Hingga saat ini, Sila telah mengumpulkan lebih dari USD 1,5 miliar dari investor swasta, menurut PitchBook. Perusahaan juga telah menjalin kerja sama dengan Mercedes dan Panasonic. Pinjaman baru dari Pentagon ini berpotensi membuka pintu bagi kontrak dengan perusahaan-perusahaan pertahanan, yang belakangan ini mendapatkan banyak kontrak besar seiring berlanjutnya perang di Iran dan Ukraina.

Selain pinjaman untuk Sila, Departemen Pertahanan AS juga mengumumkan kesepakatan dengan tiga perusahaan lainnya. Sunrise Energy Metals, perusahaan asal Australia, akan menerima pinjaman sebesar USD 400 juta untuk menambang skandium, elemen tanah jarang yang banyak digunakan dalam paduan logam ringan. Niron Magnetics, perusahaan yang berbasis di Minnesota, mendapatkan pinjaman sebesar USD 150 juta untuk memproduksi magnet baru tanpa tanah jarang untuk smartphone, rudal, dan motor listrik. Strategic Bauxite, yang menambang mineral yang mengandung aluminium, menerima investasi ekuitas sebesar USD 85 juta dari pemerintah.

Dampak Pinjaman bagi Industri Baterai Global

Keputusan Pentagon untuk memberikan pinjaman besar kepada Sila menunjukkan pergeseran signifikan dalam kebijakan pengadaan material strategis. Dengan fokus pada keamanan pasokan, pemerintah AS secara aktif mendukung perusahaan-perusahaan domestik yang dapat mengurangi ketergantungan pada rantai pasokan China.

Pinjaman ini juga memperkuat posisi Sila di pasar material baterai silikon-karbon. Teknologi ini dianggap sebagai salah satu inovasi paling menjanjikan untuk meningkatkan performa baterai lithium-ion generasi berikutnya. Kemampuan untuk menyimpan energi lebih banyak dalam ukuran yang lebih kecil sangat penting bagi pengembangan drone militer dan kendaraan listrik yang lebih efisien.

Kehadiran pabrik di Moses Lake memberikan keuntungan strategis bagi Sila. Lokasi produksi di dalam negeri AS berarti perusahaan tidak perlu khawatir tentang tarif impor atau hambatan perdagangan yang dapat mengganggu rantai pasokan. Hal ini menjadi nilai jual utama bagi perusahaan-perusahaan AS yang ingin mengamankan pasokan material baterai mereka.

Perluasan Produksi dan Kontrak Masa Depan

Ekspansi pabrik Moses Lake merupakan bagian penting dari strategi pertumbuhan Sila. Dengan target produksi yang cukup untuk lebih dari 100.000 EV, perusahaan ini memposisikan diri sebagai pemasok utama material anoda silikon di pasar global. Investasi dari berbagai pihak, termasuk investor swasta dan kini pemerintah AS, menunjukkan keyakinan yang kuat terhadap teknologi dan model bisnis perusahaan.

Kontrak yang sudah ada dengan Mercedes dan Panasonic memberikan landasan yang kuat bagi Sila. Kini, dengan dukungan pinjaman dari Pentagon, perusahaan dapat menjangkau pasar pertahanan yang sedang berkembang pesat. Ini adalah peluang besar mengingat meningkatnya permintaan akan baterai berperforma tinggi untuk aplikasi militer.

Perkembangan ini juga menjadi perhatian bagi industri baterai global. Ketika perusahaan-perusahaan seperti Sila terus berinovasi dengan material silikon, persaingan untuk menciptakan baterai dengan kepadatan energi tertinggi semakin ketat. Teknologi anoda silikon yang dikembangkan Sila berpotensi mengubah lanskap industri baterai dalam beberapa tahun ke depan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.