📑 Daftar Isi

Ilustrasi drone tempur MQ-9 Reaper milik Angkatan Udara AS yang akan digantikan oleh drone murah MMA

Pentagon Kembangkan Drone Murah Pengganti MQ-9 Reaper

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Pentagon mengembangkan konsep drone murah Massed Modular Aircraft (MMA) setelah kehilangan puluhan MQ-9 Reaper dalam konflik Iran
  • Setiap MQ-9 Reaper berharga sekitar USD 30 juta, membuat kerugian besar sulit dipertahankan
  • Drone MMA harus memiliki muatan minimal 2.800 pound, radius tempur 2.300 mil laut, dan kecepatan di atas 200 mph
  • Konsep ini menekankan kuantitas dan kapabilitas, memungkinkan operasi berlanjut meski menderita kerugian
  • Target Initial Operating Capability pada tahun fiskal 2031 dengan 20 drone siap misi
  • Satu operator bisa mengawasi beberapa drone MMA secara bersamaan berkat sistem otonomi canggih

Telset.id – Angkatan Udara Amerika Serikat tengah mengkaji konsep drone murah baru setelah kehilangan “puluhan” unit MQ-9 Reaper dalam konflik terbaru melawan Iran. Kerugian besar itu memicu kekhawatiran akan ketergantungan pada pesawat nirawak mahal di tengah ancaman pertahanan udara yang semakin terjangkau.

Dengan sekitar 135 unit MQ-9 Reaper yang masih beroperasi dan masing-masing drone dibanderol sekitar USD 30 juta (setara Rp 480 miliar), para pejabat militer mulai mempertanyakan apakah tingkat kehilangan saat ini masih bisa dipertahankan. Alih-alih mengembangkan versi yang lebih canggih, Pentagon justru memilih jalur yang berbeda.

Defense Innovation Unit (DIU) kini tengah mencari proposal untuk proyek Massed Modular Aircraft (MMA), sebuah drone yang dirancang untuk dapat dikerahkan dalam jumlah besar dan mampu menjalankan misi yang selama ini diemban MQ-9 Reaper. Konsep ini menekankan kuantitas beriringan dengan kapabilitas, sehingga pasukan tetap bisa beroperasi meski menderita kerugian besar di medan tempur.

“Ketergantungan pada pesawat ‘exquisite’ yang harganya lebih dari USD 30 juta semakin sulit dipertahankan,” demikian pernyataan dalam dokumen permintaan proposal DIU.

U.S. MQ-9 Reaper drones

Spesifikasi Teknis Drone MMA

Tidak seperti drone kecil yang biasa dikaitkan dengan operasi swarm, pesawat nirawak yang diusulkan ini tetap memiliki jangkauan dan kapasitas angkut yang signifikan. Berdasarkan dokumen permintaan, drone MMA harus memiliki muatan minimal 2.800 pound, dibandingkan dengan sekitar 3.800 pound yang dibawa MQ-9 Reaper.

Persyaratan lainnya mencakup radius tempur tanpa pengisian bahan bakar minimal 2.300 mil laut dan jarak transfer satu arah melebihi 8.000 mil laut. Drone ini juga harus mampu melaju dengan kecepatan di atas 200 mil per jam, serta dapat beroperasi dari landasan pacu sepanjang 6.000 kaki dan landasan udara darurat.

Perencana pertahanan juga menginginkan daya listrik onboard sebesar 25kW dan kapasitas pendinginan 5kW untuk mendukung perlengkapan misi internal dan eksternal yang beragam. Meski tidak ada dimensi spesifik yang disebutkan, persyaratan performa menunjukkan bahwa drone ini akan memiliki ukuran yang sebanding dengan MQ-9.

Harga pembelian yang diinginkan juga belum diungkapkan, namun perkiraan menunjukkan angka yang jauh di bawah perkiraan biaya MQ-9 sebesar USD 30 juta.

Jadwal dan Konsep Operasi

Jadwal pengembangan terbilang ambisius. Uji terbang prototipe skala penuh diharapkan dapat dilakukan dalam waktu 21 bulan setelah kontrak diberikan. Initial Operating Capability (IOC) direncanakan pada tahun fiskal 2031, dengan 20 drone siap misi yang akan diserahkan ke unit operasional.

Proposal ini memberikan penekanan besar pada aspek otonomi, memungkinkan satu operator untuk mengawasi beberapa drone secara bersamaan selama misi yang kompleks. Pengalaman tempur terkini, terutama situasi di mana pertahanan kehabisan rudal pencegat sebelum penyerang kehabisan drone, tampaknya mempengaruhi pengembangan konsep ini.

“Menjaga kehadiran MMA di udara secara konstan untuk meluncurkan senjata, mengumpulkan intelijen, melakukan misi peperangan elektronik, atau menyampaikan komunikasi akan memaksa lawan untuk tetap bertahan,” demikian pernyataan Defense Innovation Unit.

Dokumen permintaan tersebut juga berargumen bahwa operasi MMA yang berkelanjutan bisa menekan lawan untuk mengkonsumsi rudal pertahanan yang mahal dengan tingkat yang tidak berkelanjutan.

Dengan pendekatan ini, Pentagon tampaknya belajar dari pengalaman pahit di Iran dan berusaha menciptakan armada drone yang lebih tangguh, terjangkau, dan mampu bertahan dalam pertempuran berkepanjangan. Konsep Massed Modular Aircraft ini menjadi sinyal kuat bahwa masa depan peperangan udara akan lebih mengutamakan kuantitas yang mumpuni daripada sekadar kualitas yang mahal.

Ke depannya, drone MMA diharapkan bisa menjadi tulang punggung misi-misi yang selama ini diemban MQ-9 Reaper, mulai dari serangan presisi, pengintaian, peperangan elektronik, hingga relay komunikasi, dengan biaya yang jauh lebih rendah dan risiko kehilangan yang lebih bisa diterima.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.