šŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi mobil listrik Volvo EX30 sebagai gambaran pasar penjualan EV global Agustus 2026

Penjualan EV Global Agustus 2026: Eropa Naik 36%, Amerika Utara Anjlok 33%

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • Penjualan EV global Agustus 2026 naik 2% y-o-y jadi 1,83 juta unit, turun 1% dari Juli
  • Eropa melonjak 36% y-o-y ke 380.000 unit; YTD 3,3 juta unit (+29%)
  • Amerika Utara anjlok 33% y-o-y ke 140.000 unit; YTD turun 21%
  • China catat 1,03 juta unit (-11% y-o-y), tapi BEV murni naik 0,8%
  • RoW naik 97% y-o-y ke 290.000 unit; YTD 2 juta unit
  • Ekspor NEV China tembus rekor 518.000 unit (+150% y-o-y)
  • Total YTD global 13,4 juta unit, naik 4% dari periode sama 2025

Telset.id – Penjualan kendaraan listrik (EV) global pada Agustus 2026 hanya tumbuh 2% year-on-year (y-o-y) menjadi 1,83 juta unit, menurut data Benchmark Mineral Intelligence. Angka tipis itu menyembunyikan dua pasar yang bergerak berlawanan: Eropa melonjak 36% y-o-y, sementara Amerika Utara ambruk 33% y-o-y. Secara bulanan, penjualan global justru turun 1% dari Juli 2026.

Sepanjang Januari–Agustus 2026, total penjualan EV global mencapai 13,4 juta unit atau 4% lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan itu nyaris seluruhnya ditopang Eropa dan kawasan Rest of World (RoW), karena China dan Amerika Utara masih terkontraksi secara tahunan.

ā€œPertumbuhan penjualan EV global mendingin tajam pada Agustus, hanya naik 2% year-on-year menjadi 1,83 juta unit, karena kontraksi yang semakin dalam di Amerika Utara mengimbangi pertumbuhan dua digit berkelanjutan di Eropa dan gambaran yang membaik di China,ā€ kata Data Manager Benchmark, Charles Lester, dalam pernyataannya.

Eropa Jadi Motor Pertumbuhan

Eropa adalah pasar terkuat di antara tiga wilayah utama pada Agustus 2026. Penjualan naik 36% y-o-y menjadi sekitar 380.000 unit, meski turun 15% dari Juli karena perlambatan musim panas yang biasa terjadi. Sepanjang Januari–Agustus, penjualan EV Eropa menembus 3,3 juta unit, naik 29% y-o-y.

Prancis, Jerman, dan Inggris—yang bersama-sama menyumbang lebih dari separuh penjualan EV Eropa—terus menikmati insentif pembelian, model yang lebih terjangkau, dan harga bahan bakar yang lebih tinggi di sejumlah pasar. Prancis bahkan mencatat rekor pangsa pasar EV 41% pada Agustus.

Spanyol menyelesaikan bulan penuh pertama program insentif Auto+. Program senilai €400 juta (sekitar US$465 juta) itu menawarkan subsidi dasar hingga €4.500 (sekitar US$5.190) untuk mobil listrik penumpang baru, dengan kelayakan berlaku surut sejak 1 Januari. Skema ini diperkirakan berdampak positif terhadap penjualan EV di Spanyol ke depan.

Amerika Utara Tertekan Akhir Insentif Pajak

Amerika Utara bergerak ke arah sebaliknya. Sekitar 140.000 unit EV terjual pada Agustus 2026, turun 33% y-o-y. Penjualan memang naik 5% dari Juli, tetapi secara year-to-date wilayah ini masih turun 21% dengan total sekitar 1 juta unit.

Penurunan tajam tahunan itu sebagian merupakan efek pembanding yang berat. Pembeli EV di Amerika Serikat berbondong-bondong membeli pada Agustus dan September 2025 sebelum kredit pajak EV federal berakhir pada 30 September tahun lalu. Sejumlah produsen melaporkan penurunan penjualan EV tahunan yang curam bulan lalu, sementara kendaraan hibrida mengambil sebagian pangsa pasar yang hilang.

September 2026 juga diperkirakan menjadi pembanding yang berat karena akan diukur terhadap bulan terakhir sekaligus terbesar dari lonjakan kredit pajak tahun lalu. Kelangkaan pasokan disebut sama besarnya memengaruhi penjualan EV AS seperti lemahnya permintaan, akibat berakhirnya kredit pajak. Produsen merespons lingkungan kebijakan yang tidak bersahabat dengan membatalkan model EV baru, dan model impor pun terbatas pasokannya.

Kanada tercatat menggunakan 15.603 dari 24.500 permit tarif rendah (sekitar 64%) untuk EV buatan China hingga 31 Agustus. Permit yang tidak terpakai digulirkan, sehingga kuota enam bulan baru menjadi lebih dari 33.000 unit hingga akhir Februari 2027. Benchmark menyebut sebagian besar permit putaran pertama jatuh ke segelintir produsen yang sudah beroperasi di Kanada, sementara beberapa merek EV China besar belum masuk ke sana.

China: BEV Membaik, PHEV dan EREV Tertekan

Benchmark mencatat 1,03 juta penjualan EV di China pada Agustus 2026, naik 4% dari Juli tetapi turun 11% y-o-y. Sepanjang Januari–Agustus, penjualan mencapai 6,9 juta unit atau turun 12% secara tahunan.

Namun data penjualan ritel China menunjukkan penjualan BEV murni justru naik tipis 0,8% y-o-y. Kategori new energy vehicle (NEV) yang lebih luas turun 10,1% karena penjualan plug-in hybrid (PHEV) anjlok 29,6% dan extended-range EV (EREV) turun 22,2%. Secara keseluruhan, penjualan kendaraan penumpang turun 23,6%, sementara kendaraan berbahan bakar fosil dan hibrida konvensional merosot 40%.

Alhasil, pangsa NEV terhadap pasar mobil penumpang China melebar menjadi 65,2%, dari 55,2% setahun sebelumnya. Meski pasar menjual lebih sedikit kendaraan plug-in secara keseluruhan, transisi dari mesin pembakaran justru masih berakselerasi.

Produsen China juga mengandalkan ekspor. Ekspor NEV melonjak lebih dari 150% y-o-y ke rekor sekitar 518.000 unit pada Agustus, sehingga ekspor delapan bulan pertama 2026 menembus 3,3 juta unit.

Pasar di luar tiga wilayah terbesar terus tumbuh cepat. Penjualan EV mencapai sekitar 290.000 unit pada Agustus, datar dari Juli tetapi naik 97% y-o-y. Kawasan ini juga mencatat 2 juta penjualan EV hingga Agustus, naik 97% dari periode yang sama 2025. Pertumbuhan tersebut, bersama performa Eropa, cukup menahan penjualan EV global tetap di zona positif.

Untuk konteks pasar otomotif yang lebih luas, dinamika peluncuran model baru turut menjadi sorotan. Peluncuran Voyah Passion S dan target ambisius Freelander menunjukkan persaingan model baru tidak melambat, meski angka penjualan agregat global hanya bergerak tipis.

Bagi pelaku industri yang memantau pergerakan teknologi, transisi energi di sektor otomotif berjalan seiring gelombang integrasi AI di berbagai platform enterprise. Secara keseluruhan, data Agustus 2026 menegaskan bahwa pertumbuhan EV global kini bergantung pada Eropa dan pasar-pasar baru, sementara Amerika Utara menanggung konsekuensi berakhirnya insentif fiskal.

[READ_ALSO]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.