Telset.id â The Boring Company mengumumkan pendanaan Seri D senilai US$3 miliar (sekitar Rp48 triliun) pada Rabu, yang mengerek valuasi perusahaan tunneling milik Elon Musk itu menjadi US$23 miliar (sekitar Rp373 triliun). Putaran pendanaan tersebut dipimpin oleh Uni Emirat Arab (UEA), dengan partisipasi dari Valor Equity Partners, Sequoia Capital, dan A16Z. Bersamaan dengan pengumuman itu, The Boring Company menyatakan rencananya menggali setidaknya 150 kilometer âinfrastruktur bawah tanahâ di UEA, di atas proyek transit yang sudah berjalan di Dubai.
Pendanaan ini menjadi salah satu putaran terbesar yang pernah dikantongi perusahaan yang didirikan Musk sekitar satu dekade lalu dengan misi yang dinyatakan secara eksplisit: âmenyelesaikan masalah lalu lintas.â UEA tidak sekadar menjadi investor utama, tetapi juga menjadi wilayah ekspansi terbesar yang dicanangkan perusahaan. Kombinasi antara suntikan modal raksasa dan komitmen penggalian 150 kilometer menjadikan putaran Seri D ini lebih dari sekadar urusan finansial â ini adalah deklarasi bahwa pusat gravitasi proyek The Boring Company mulai bergeser ke Timur Tengah.
Perusahaan menyebut dana dari putaran ini akan dipakai untuk âmeningkatkan perekrutan secara signifikan di bidang engineering, operasional, dan produksi, untuk membangun dan menskalakan proyek Loop, termasuk Vegas Loop, Music City Loop di Nashville, Dubai Loop, dan lainnya, selain mempercepat riset dan pengembangan Prufrock serta produk-produk mendatang.â Artinya, uang segar itu tidak hanya membiayai ekspansi geografis, tetapi juga pengembangan mesin bor Prufrock yang menjadi tulang punggung operasional perusahaan.
Vegas Loop dan Jejak 25 Terowongan
Hingga kini, proyek terbesar The Boring Company adalah Las Vegas Loop, sistem bawah tanah berisi Tesla yang menghubungkan berbagai hotel dan destinasi lain di Las Vegas Strip. Perusahaan baru-baru ini menambahkan Cybertruck ke armadanya di sana dan mulai mengoperasikan perjalanan terbatas menuju bandara Vegas, demikian disampaikan perusahaan pada Rabu. The Boring Company berencana membangun jaringan tersebut lebih luas, termasuk konektor bandara khusus.
Perusahaan juga menyatakan sedang mengerjakan sistem serupa di Nashville dan berencana memulai konstruksi Dubai Loop pada akhir 2026. Pada Rabu, mereka mengumumkan baru saja memulai penggalian terowongan ke-25, yang merupakan terowongan ke-14 di Las Vegas. Angka-angka itu menunjukkan bahwa meski narasi besarnya soal âmengalahkan lalu lintasâ belum sepenuhnya terwujud, kapasitas operasional perusahaan terus bertambah secara konkret.
Visi untuk Las Vegas Loop sendiri adalah agar kendaraan-kendaraan di dalamnya beroperasi secara otonom. Sejauh ini, perusahaan mengklaim telah âmendemonstrasikan perjalanan Full Self-Driving pada beberapa segmen.â Klaim itu masih jauh dari gambaran armada tanpa pengemudi sepenuhnya, dan menjadi salah satu titik di mana ekspektasi publik dan realitas lapangan masih berselisih.
Baca Juga:
Janji Hyperloop yang Tak Terwujud
Sejarah The Boring Company tidak lepas dari sejumlah proyek ambisius yang tidak pernah terwujud. Pada 2017, Musk menyatakan dirinya telah mendapat âpersetujuan verbalâ untuk membangun hyperloop berkecepatan tinggi yang memungkinkan perjalanan Washington, DCâNew York City ditempuh dalam 29 menit. Hingga kini, proyek tersebut tidak pernah terwujud, dan pengumuman Rabu ini sama sekali tidak menyinggung kelanjutannya.
Kesenjangan antara janji dan realisasi itu menjadi konteks penting untuk membaca putaran Seri D ini. Valuasi US$23 miliar diraih bukan karena hyperloop sudah beroperasi, melainkan karena Loop versi yang jauh lebih sederhana â sistem terowongan dengan Tesla di dalamnya â sudah berjalan di Las Vegas dan tengah direplikasi di Nashville serta Dubai. Investor yang dipimpin UEA jelas bertaruh pada model yang bisa dieksekusi, bukan pada visi 29 menit yang belum terbukti.
Dalam siaran pers Rabu, Musk kembali mengangkat narasi besarnya. âMengalahkan lalu lintas adalah pertarungan bos terakhir. Bahkan manusia paling berkuasa di dunia tidak bisa mengalahkan lalu lintas,â ujarnya. Pernyataan itu konsisten dengan posisi Musk sebagai figur yang kerap membingkai proyek teknologinya sebagai pertarungan eksistensial, meski tolok ukur keberhasilannya tetap harus diuji lewat jumlah terowongan yang benar-benar beroperasi dan penumpang yang benar-benar terangkut.
Bagi pasar Indonesia, putaran pendanaan ini menarik dicermati dari sisi pergerakan modal global. UEA kini tidak hanya menjadi pemimpin investasi di sektor tunneling, tetapi juga memperluas pengaruhnya di ranah mobilitas masa depan â sebuah tren yang sejalan dengan dinamika industri kendaraan otonom yang regulasinya makin ketat di berbagai negara. Perusahaan-perusahaan yang bergerak di ranah teknologi transportasi, termasuk pemain otomotif listrik, akan membaca sinyal ini sebagai penanda bahwa modal besar masih mengalir deras ke infrastruktur mobilitas alternatif.
Yang perlu dicatat, The Boring Company tidak membeberkan rincian valuasi pre-money maupun post-money, komposisi kepemilikan setelah putaran, maupun tenggat penyelesaian 150 kilometer terowongan di UEA. Semua angka yang tersedia berasal dari pengumuman resmi perusahaan, dan sisanya masih menjadi tanda tanya yang wajar dipertanyakan publik. Kontak penulis untuk informasi lebih lanjut: Tim.Levin@InsideEVs.com.
Dengan 25 terowongan yang sudah mulai digali, empat proyek Loop yang disebut namanya, dan mesin bor Prufrock yang terus dikembangkan, The Boring Company setidaknya telah berpindah dari fase konsep ke fase eksekusi. Namun selama klaim âFull Self-Drivingâ baru sebatas âbeberapa segmenâ dan hyperloop 2017 masih menjadi catatan sejarah, ukuran keberhasilan sesungguhnya tetap sederhana: berapa kilometer terowongan yang benar-benar selesai, dan berapa penumpang yang benar-benar terangkut.





Komentar
Belum ada komentar.