Telset.id â Penjualan mobil listrik baterai murni (BEV) di China mencatatkan kenaikan tipis pada Agustus 2026, sementara seluruh kendaraan bermesin pembakaran mengalami penurunan drastis hingga 40%. Namun di tengah tren positif pasar BEV ini, penjualan Tesla justru merosot untuk bulan ketiga berturut-turut, dengan angka penurunan tahunan mencapai 12,4%.
Data dari China Passenger Car Association (CPCA) menunjukkan Tesla hanya menjual 50.047 unit kendaraan di China sepanjang Agustus 2026. Angka ini merupakan hasil ritel terendah untuk bulan Agustus sejak 2022. Meski demikian, penjualan tersebut meningkat 83,7% dibandingkan Juli lalu yang hanya mencapai 27.249 unit, menunjukkan adanya pemulihan dari bulan sebelumnya yang sangat lemah.
Sementara itu, total penjualan ritel mobil di China secara keseluruhan ambles 23,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, melanjutkan tren penurunan tahun-ke-tahun yang terjadi setiap bulan sepanjang 2026 ini. Kendaraan Energi Baru (NEV) secara keseluruhan juga terkoreksi 10,1%, meskipun pangsa pasarnya justru meningkat signifikan menjadi 65,2% dari sebelumnya 55,2%âsebuah ironi yang terjadi karena penurunan penjualan non-NEV yang jauh lebih dalam.
Rincian Penjualan Berdasarkan Jenis Powertrain
Jika dipecah berdasarkan jenis penggeraknya, terlihat jelas bahwa kendaraan bermesin sedang mengalami âpembantaianâ di pasar China. Data Agustus menunjukkan BEV naik tipis 0,8%, sementara PHEV (plug-in hybrid) turun 29,6%, EREV (extended-range electric vehicle) turun 22,2%, dan kendaraan berbahan bakar fosilâtermasuk hybrid konvensionalâanjlok hingga 40%. Fakta ini membantah klaim prematur bahwa era mobil listrik di China telah berakhir, seperti yang sempat ramai diperbincangkan pada awal tahun ketika insentif pemerintah diubah dan menyebabkan penurunan penjualan selama dua bulan pertama.
Kondisi pasar yang lesu untuk kendaraan bermesin ini tidak lepas dari kombinasi faktor. Perubahan insentif pemerintah pada akhir tahun lalu memang sempat mengguncang pasar, namun sentimen konsumen tampaknya telah pulih. Faktor geopolitik yang memicu lonjakan harga minyak global juga turut mempercepat peralihan preferensi konsumen ke kendaraan listrik murni.
Baca Juga:
Ekspor Jadi Penyelamat Pabrik Tesla Shanghai
Meskipun penjualan domestik Tesla merosot, pabrik Tesla di Shanghai justru mencatatkan kinerja ekspor yang impresif. Pada Agustus 2026, pabrik tersebut mengekspor 36.119 unit kendaraan, menandai bulan kedelapan berturut-turut dengan pertumbuhan year-on-year. Angka ekspor ini meningkat 38,7% dibandingkan tahun lalu, meskipun turun 45,6% dari rekor Juli yang mencapai 66.330 unit.
Secara kumulatif, Tesla mendistribusikan 316.251 kendaraan di China selama delapan bulan pertama 2026, turun 12,4% year-on-year. Sementara itu, volume ekspor pada periode yang sama mencapai 331.443 unit, melonjak 114,7% dari periode yang sama tahun lalu. Jika tren ini berlanjut, 2026 akan menjadi tahun pertama di mana pabrik Shanghai Tesla mengekspor lebih banyak mobil daripada yang dijual di dalam negeri.
Ekspor kini mencakup 51,2% dari total penjualan grosir pabrik Shanghai antara Januari dan Agustus, dibandingkan dengan hanya 29,9% pada tahun sebelumnya. Pergeseran strategi ini menunjukkan bahwa Tesla semakin mengandalkan pasar global untuk menjaga utilisasi pabriknya di China.
Pangsa Pasar Tesla Menyusut di Tengah Dominasi BYD
Tesla kini hanya menguasai 7,2% pasar ritel BEV China pada Agustus, turun dari 8,3% pada tahun sebelumnya. Namun angka ini meningkat dari 4,2% pada Juli lalu. Secara keseluruhan, pasar BEV China mencapai 698.000 unit pada Agustus, naik sekitar 1,7% year-on-year.
Di tengah perubahan lanskap pasar ini, BYD tetap mempertahankan dominasinya dalam penjualan ritel NEV China. Pada Agustus, BYD mengirimkan 233 ribu unitâlebih dari dua kali lipat penjualan merek lain mana pun. Geely menempati posisi kedua dengan 110 ribu unit, sementara Tesla harus puas berada di peringkat keenam dengan hanya 50 ribu unit. Kesenjangan yang semakin melebar antara BYD dan kompetitornya menegaskan posisi BYD sebagai penguasa pasar kendaraan listrik China yang sulit tergeser.
Menariknya, kondisi mobil bensin China yang anjlok justru tidak menguntungkan Tesla secara langsung. Konsumen yang beralih dari kendaraan bermesin lebih banyak memilih merek domestik China yang menawarkan harga lebih kompetitif.
Ekspor NEV China Melonjak 154,7%
Meskipun pasar domestik menunjukkan perlambatan untuk NEV secara keseluruhan, produksi kendaraan listrik di China justru meningkat pesat. Kelebihan pasokan ini kemudian dialihkan ke pasar ekspor, di mana permintaan tengah melonjak. Data Agustus menunjukkan ekspor NEV China naik fantastis hingga 154,7%, memperkuat posisi China sebagai pemasok utama kendaraan listrik dunia. NEV kini mencakup mayoritas ekspor mobil China, yakni 58,4% dari total pengiriman ke luar negeri.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran strategi besar-besaran para produsen China. Alih-alih berkompetisi di pasar domestik yang semakin jenuh, mereka justru agresif menaklukkan pasar global. Sementara itu, pabrikan dari negara lain dinilai kurang responsif terhadap kebutuhan pasar kendaraan listrik dunia, sehingga membiarkan China mengambil alih posisi produsen otomotif global masa kini dan masa depan.
Pola serupa antara penjualan domestik dan ekspor juga terlihat pada Tesla. Pertumbuhan ekspor Tesla Shanghai sebesar 38,7% memang impresif, namun masih jauh di bawah pertumbuhan ekspor NEV China secara keseluruhan yang mencapai 154,7%. Kondisi ini mencerminkan stagnasi fortune Tesla di berbagai pasar, seiring sikap kontroversial CEO-nya, Elon Musk, yang justru gencar melawan kebijakan pro-mobil listrik.

Kinerja Grosir Tesla dan Proyeksi Akhir Tahun
Dilihat dari sisi grosir (penjualan ritel domestik ditambah ekspor), Tesla China mencapai 86.166 kendaraan pada Agustus. Angka ini meningkat 3,6% year-on-year namun turun 7,9% dari Juli. Secara kumulatif, penjualan grosir Tesla mencapai 647.694 kendaraan dalam delapan bulan pertama, naik 25,6% year-on-yearâdidorong oleh ekspor yang tumbuh pesat untuk mengimbangi penurunan penjualan ritel domestik.
Data ini menunjukkan bahwa meskipun menghadapi tekanan di pasar domestik China, Tesla masih mampu menjaga tingkat produksi pabriknya melalui jalur ekspor. Namun, ketergantungan yang semakin besar pada pasar luar negeri membuat Tesla rentan terhadap dinamika perdagangan global dan kebijakan tarif berbagai negara.
Kondisi pasar China ini memberikan pelajaran penting tentang dinamika industri otomotif global. Ketahanan segmen BEV di tengah penurunan pasar secara keseluruhan menunjukkan bahwa transisi ke kendaraan listrik bukan sekadar tren sesaat, melainkan pergeseran fundamental yang didorong oleh kombinasi kebijakan, ekonomi, dan geopolitik. Sementara itu, kemampuan China dalam mengekspor kendaraan listrik dalam jumlah masif akan terus membentuk ulang peta persaingan industri otomotif dunia dalam beberapa tahun ke depan.
Perkembangan ini juga sejalan dengan tren positif yang terjadi di pasar lain, seperti penjualan EV Inggris yang berhasil menembus 30%, menunjukkan bahwa adopsi kendaraan listrik terus berlanjut di berbagai kawasan meskipun ada hambatan kebijakan dan infrastruktur.





Komentar
Belum ada komentar.