📑 Daftar Isi

Ilustrasi mobil listrik Volkswagen Group yang menggantikan konsumsi minyak mentah di negara pengimpor minyak

Mobil Listrik Gantikan 200 Juta Barel Minyak di Tengah Krisis Hormuz

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Mobil listrik di negara pengimpor minyak gantikan 200 juta barel minyak senilai US$20 miliar (Maret-Agustus 2026)
  • China menyumbang penghematan terbesar US$14 miliar, disusul Uni Eropa US$3,1 miliar
  • 15 negara termasuk India dan Brazil menyalip AS dalam pangsa penjualan BEV
  • BEV hanya 6% penjualan kendaraan ringan AS setelah kredit pajak federal dicabut
  • Penjualan BEV global naik 11%, di luar China dan AS melonjak 45%

Telset.id – Mobil listrik di sejumlah negara pengimpor minyak menggantikan sekitar 200 juta barel minyak mentah sepanjang Maret hingga Agustus, setara nilai US$20 miliar. Angka ini berasal dari analisis terbaru lembaga pemikir energi Ember, yang menyoroti peran kendaraan listrik sebagai bantalan energi saat pasokan minyak terganggu krisis Hormuz. Di saat yang sama, Amerika Serikat justru kehilangan posisi: lima belas negara, termasuk India dan Brazil, kini menyalipnya dalam pangsa mobil baru yang sepenuhnya elektrik.

Ember menghitung bahwa armada mobil listrik di negara-negara pengimpor minyak tidak lagi membutuhkan 200 juta barel minyak mentah untuk menggerakkan kendaraan selama periode gangguan pasokan. Nilai US$20 miliar adalah estimasi Ember atas harga minyak yang berhasil dihindari. China menyumbang porsi terbesar, dengan estimasi penghematan sekitar US$14 miliar. Negara-negara Uni Eropa menyusul dengan US$3,1 miliar, di mana Jerman dan Prancis memberi kontribusi terbesar.

“Negara-negara yang berinvestasi pada kendaraan listrik sebelum krisis ini kini lebih terlindungi, dan semakin banyak yang mengikuti,” kata Euan Graham, analis energi senior di Ember. “Setiap mobil listrik di jalan mengurangi paparan terhadap pasar minyak yang volatil, dan seiring pertumbuhan armada, perlindungan terhadap guncangan pasokan di masa depan juga meningkat. Manfaat peralihan global ke mobil listrik melampaui pemangkasan emisi, dengan implikasi bagi ketahanan energi, ketahanan ekonomi, dan cara negara memposisikan diri di dunia di mana ketergantungan pada minyak impor membawa risiko besar.”

Analisis ini dirilis bersamaan dengan pelacak penjualan EV baru Ember. Pelacak tersebut mencakup 56 negara yang mewakili lebih dari 90% penjualan mobil listrik global dan lebih dari 80% seluruh penjualan mobil, serta mengestimasi seberapa besar minyak yang digantikan oleh armada mobil listrik tiap negara. Sebagai gambaran pasar yang terus bergerak, lini produk seperti Range Rover Sport Electric menunjukkan bagaimana pabrikan mengalihkan tenaga konvensional ke penggerak listrik.

India dan Brazil Menyalip AS

Kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) hanya menyumbang 6% dari penjualan kendaraan ringan di AS pada delapan bulan pertama 2026. Angka ini menyusul pencabutan kredit pajak EV federal pada September 2025. Dari 56 negara yang dipantau Ember, 49 negara kini memiliki pangsa penjualan BEV lebih tinggi daripada AS. Lima belas negara menyalip AS untuk pertama kalinya tahun ini, termasuk India, Brazil, Italia, Malaysia, dan Selandia Baru.

India telah berada di depan AS setiap bulan sejak April. Brazil juga bergerak maju seiring pertumbuhan pasar EV dan masuknya kapasitas manufaktur baru. Perlu ditegaskan, yang dimaksud adalah pangsa mobil baru yang dijual dan sepenuhnya elektrik. Ini tidak berarti negara-negara tersebut menjual lebih banyak mobil listrik secara total dibandingkan AS. Jepang, sementara itu, mencatat penjualan BEV dua kali lipat pada 2026 setelah memperkenalkan kebijakan yang membantu pembeli menutup biaya awal. Dinamika pasar semacam ini juga terlihat pada model premium seperti Mercedes-Benz G 580 yang terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar.

Secara global, penjualan BEV naik 11% year over year pada delapan bulan pertama 2026. Penjualan plug-in hybrid (PHEV) turun 12%, dan penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) turun 6%. BEV menyumbang 18% dari penjualan mobil baru dunia, naik dari 16% setahun sebelumnya. Namun rata-rata global hanya bercerita sebagian. Jika China dan AS dikeluarkan, Ember mengestimasi penjualan BEV melonjak 45% di pasar-pasar lainnya.

Ember menyebut gangguan pasokan minyak membantu mempercepat penjualan EV di India, Chile, Australia, dan Selandia Baru. Kebijakan yang membuat mobil listrik lebih terjangkau juga memberi dampak. Skema social leasing Prancis membantu pangsa penjualan BEV negara itu melewati 30% untuk pertama kalinya. Jerman mencatat penjualan lebih kuat setelah memperkenalkan subsidi konsumen baru pada awal 2026. Insentif dan skema kepemilikan yang lebih murah menjadi pertimbangan penting, seperti yang juga tampak pada penawaran harga lebih murah di segmen SUV listrik.

Kapasitas Manufaktur Domestik Menguat

Negara-negara juga menumbuhkan kapasitas manufaktur EV domestik mereka. Tata dan Mahindra menyumbang lebih dari 60% penjualan EV India pada paruh pertama tahun ini. Brazil berkembang sebagai hub manufaktur regional, dan VinFast dari Vietnam memperluas jejak produksi luar negerinya.

Data Ember menunjukkan bahwa peralihan ke kendaraan listrik tidak lagi semata soal target emisi. Bagi negara pengimpor minyak, armada listrik berfungsi sebagai penyangga terhadap gejolak pasar energi. Ketika pasokan minyak terganggu, negara yang lebih dulu membangun basis EV menanggung paparan yang lebih kecil terhadap lonjakan harga dan kelangkaan pasokan.

Sebaliknya, AS menghadapi konsekuensi dari pencabutan insentif federal. Pangsa BEV-nya tertahan di 6%, sementara puluhan negara lain justru melaju. Jepang menunjukkan bahwa kebijakan biaya awal dapat menggandakan penjualan BEV dalam satu tahun, dan Prancis membuktikan skema sewa sosial mampu mendorong pangsa pasar melewati ambang 30%.

Dengan pelacak yang mencakup 56 negara dan lebih dari 90% penjualan EV global, Ember menyediakan kerangka pengukuran yang lebih luas dari sekadar angka penjualan agregat. Hasilnya jelas: investasi EV sebelum krisis memberi perlindungan nyata saat krisis datang, dan negara yang bergerak lebih lambat menanggung risiko yang lebih besar pada gangguan pasokan berikutnya.

Pasar otomotif global kini bergerak pada dua kecepatan berbeda. Di luar China dan AS, penjualan BEV tumbuh 45%, didorong kombinasi gangguan pasokan minyak, kebijakan afrodabilitas, dan kapasitas produksi lokal yang menguat. Sementara itu, pasar AS kehilangan momentum setelah insentifnya dicabut, dan posisinya dalam pangsa BEV global terus tergeser oleh negara-negara berkembang yang sebelumnya berada di belakang.

Ember tidak memproyeksikan arah pasar ke depan. Namun data delapan bulan pertama 2026 menunjukkan satu hal yang terukur: setiap mobil listrik yang beroperasi mengurangi permintaan minyak, dan seiring bertambahnya armada, perlindungan terhadap guncangan pasokan ikut menguat. Angka US$20 miliar dan 200 juta barel menjadi catatan kuantitatif pertama tentang seberapa besar fungsi ketahanan energi yang sudah dijalankan kendaraan listrik.

[ META_DESCRIPTION]
Ember mencatat mobil listrik di negara pengimpor minyak menggantikan 200 juta barel minyak senilai US$20 miliar, sementara 15 negara salip AS.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.